Simalakama Industri Otomotif Indonesia Karena Hitungan Pajak Baru

Emblem Daihatsu – dok.Penasulsel.com

JAKARTA, Motoris – Pemerintah Indonesia akan memberlakukan perhitungan pajak baru buat mobil anyar di Indonesia. Setiap mobil baru yang semula dibebani Pajak Penambahan Nilai atas Barang Mewah (PPnBM) diubah jadi Pajak Emisi (Carbon Tax).

Jadi, kalau sebelumnya mobil-mobil yang dijual menggunakan breket kategori model penggerak roda (4×2, 4×4), jenis bodi (two box, three box), dan kapasitas mesin, lewat aturan baru tidak berlaku sepenuhnya. 

Lewat semangat menguntungkan mobil-mobil yang lebih ramah lingkungan, pemerintah kemudian mengganti beban PPnBM jadi Pajak Emisi yang dihitung berdasarkan emisi gas buang. Semakin irit mobil, minim karbondioksida dari knalpot, maka makin kecil pajaknya. 

Bagi yang hobi otomotif, khususnya mobil, wajib paham nih. Ingat, otomotif itu bukan sekadar modifikasi, swab engine, pasang bodykit, atau ganti pelek. Otomotif itu industri, jadi hobi kalian bisa terpengaruh signifikan karena kebijakan ini, kawan!

Daihatsu Terios kini dilengkapi fitur Eco Idle, VSC, dan HSA di seluruh varian. (ADM)

Jadi, jangan terlalu naif melihat hadirnya model-model baru dengan teknolgi mesin turbo di Indonesia karena kecanggihan. Tapi, salah satu faktor utamannya adalah alasan ekonomi. Mesin turbo memungkinkan manipulasi mobil lebih irit dengan kapasitas mesin kecil, yang berbanding lurus pada emisi gas buang.

Paling baru, tentu sudah melihat sepasang SUV murah penguasa pasar Indonesia, Toyota Rush dan Daihatsu Terios baru saja melakukan ubahan minor pada modelnya, belum lama ini. Kalau jeli, ada tambahan fitur engine start-stop system merupakan salah satu upaya legal yang dilakukan untuk memanipulasi hasil konsumsi BBM dan emisi gas buang pakai mesin lawas.

Regulasinya sudah keluar dan resmi, yakni Peraturan Pemerintah (PP) No.74 Tahun 2021, tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2019 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Baca sendiri di link ini supaya yakin dan paham.

LCGC Daihatsu Sigra – dok.Motoris

Was-was

Menyangkut PP itu, para agen tunggal pemegang merek (ATPM) lagi was-was saat ini. Masalahnya, payung regulasi memang sudah resmi dikeluarkan. Tapi, mungkin pemerintah kita lagi ribet masalah pandemi, jadi aturan mainnya, di level kementerian belum ditandatangani. Regulasinya berlaku efektif mulai besok, Sabtu (16/10/2021).

Dalam regulasi itu, salah satu yang diatur adalah mobil murah atau Low Cost and Green Car (LCGC) yang sejak bergulir diproduksi di Indonesia sudah menikmati insentif bebas PPnBM. Nah, lewat regulasi baru ini, disebutkan kalau LCGC masih dapat kategori khusus dan bakal kena pajak 3%.

Masalahnya, regulasi turunan yang tidak kunjung keluar bisa menjadikan model-model LCGC, seperti Agya, Ayla, Calya, Sigra, Brio Satya, Karimun Wagon R harganya bakal naik 15%.

Beban pajak 15% ini terjadi kalau LCGC tidak mendapat status kategori khusus dan mengacu hitungan emisi gas buang berdasarkan mesin yang digunakan. 

Toyota Calya, mobil LCGC -andalan Toyota – dok. autoindustriya.com

“Sampai saat ini (regulasi) turunannya itu belum keluar, jadi nanti kenaikan harga (LCGC) bukan 3%, tapi 15% pada 16 Oktober nanti. Ini yang sedang kita kejar karena konsumen pasti akan kaget,” ujar Amelia Tjandra, Marketing Director & Corporate Planning and Communication Director PT ADM, dilansir Kompas.com (14/10/2021).

Lebih gawat lagi, saat ini mobil-mobil baru buatan pabrik di Indonesia yang punya kandungan lokal 70% masih menikmati relaksasi PPnBM 0%. 

Ibarat buah simalakama, awal 2022 nanti, ketika relaksasi PPnBM berakhir dan berlaku hitungan Pajak Emisi yang baru, maka mobil-mobil laris di Indonesia bisa langsung naik harganya 15%. 

Ilustrasi, Mitsubishi Xpander, mobil yang diekspor Mitsubishi Motors Indonesia – dok.Motoris

Memang, kalau hitungan normal, mobil-mobil ini seharusnya membayar PPnBM 10% kemudian naik 5% berdasarkan regulasi Pajak Emisi yang baru. 

“Untuk Daihatsu sudah kami lakukan pengujian dan kami akan kena (pajak) yang terendah. Berarti harga mobil kami akan langsung naik 15 persen dan itu berlaku baru di Januari 2020, karena sampai Desember masih ada relaksasi,”  kata Amel, lagi.

Di satu sisi, kalau tidak kasih insentif PPnBM pasar anjlok karena pandemi. Tapi, ketika insentif berakhir, pasar juga bisa terpuruk karena perhitungan Pajak Emisi yang baru.

Sebagai renungan, simak skema kemungkinan perubahan beban pajak mobil-mobil baru yang dijual di Indonesia. Bakal ada yang naik, tapi juga ada yang turun. Simak tabel berikut yang kami terima dari Kolega Motoris!

 

Model

Pajak PPnBM Vs Pajak Emisi

Before*

After

Gap

Harga

Agya

0%

3%

3%

increase

Calya

0%

3%

3%

increase

Avanza + B-MPV

10%

15%-20%

+5% up to +10%

increase

Rush

10%

15%

5%

increase

Raize

10%

15%

5%

increase

Yaris

10%

15%

5%

increase

Vios

30%

15%

-15%

decrease

Sienta

10%

20%

10%

increase

Innova bensin

20%

25%

5%

increase

Innova diesel

20%

20%

0%

keep

Fortuner 4×2 bensin

40%

25%

-15%

decrease

Fortuner 4×2 diesel

20%

25%

5%

increase

Fortuner 4×4 diesel

40%

25%

-15%

decrease

Corolla bensin

40%

20%

-20%

decrease

Corolla hybrid

40%

15%

-25%

decrease

Camry bensin

40%

20%

-20%

decrease

Camry hybrid

40%

15%

-25%

decrease

Toyota 86

40%

20%-25%

– 15% up to -20%

decrease

Supra

40%

20%

-20%

decrease

Alphard

20%

25%

5%

increase

Vellfire

20%

25%

5%

increase

Voxy

20%

20%

0%

keep

C-HR hybrid

20%

15%

-5%

decrease

Corolla Cross bensin

20%

20%

0%

keep

Corolla Cross hybrid

20%

15%

-5%

decrease

HiAce

0%

0%

0%

keep

Ace

10%

20%

10%

increase

Dyna

0%

0%

0%

keep

Hilux S-Cab

0%

0%

0%

keep

Hilux S-Cab 4×4

0%

0%

0%

keep

Hilux D-Cab MT

20%

12%

-8%

decrease

Hilux D-Cab AT

20%

15%

-5%

decrease

LC300

decrease

*masih estimasti

CATEGORIES
TAGS
Share This