Toyota Disebut Jadi Penghalang Kebijakan Iklim Terbesar Ketiga di Dunia

Toyota-dok.ETEnergyworld.com_

London, Motoris – Sebuah organisasi nirlaba penyelidik dunia bisnis dan perubahan iklim dunia – InfluenceMap – dalam laporan tahunannya menyebut Toyota adalah perusahaan penghalang (obstruktif) terbesar ketiga pemerintah yang menetapkan kebijakan iklim. Produsen mobil asal Jepang itu berada di bawah ExxonMobil dan Chevron dalam hal aksi menghalangi kebijakan pemerintah tersebut.

Seperti dilaporkan The Guardian dan Carscoops, Jumat (5/11/2021), pabrikan mobil lainnya yang masuk dalam daftar penghalang kebijakan terkait iklim itu adalah BMW (di urutan ke-18), Daimler (24), dan Hyundai (25). “Pedoman kebijakan perusahaan yang menahan kebijakan pemerintah terkait perubahan iklim sangat jauh dari dasar kaidah sains, tetapi sama-sama merusak kondisi keseimbangan iklim,” ujar Direktur InfluenceMap, Ed Collins.

Perusahan-perusahaan itu, lanjut Collins, tak hanya merongrong regulasi tentang iklim secara langsung. Namun, mereka juga menggunakan sebuah teknik narasi yang produktif dan sangat canggih untuk mengarahkan pemerintah ke jalur yang sangat berbahaya dalam kebijakan iklim.

Produksi mobil Toyota di Amerika Serikat – dok.San Antonio Express News

Cap sebagai penghalang kebijakan iklim yang diberikan ke Toyota itu bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya, The New York Times menyebut pabrikan ini telah “bergerilya” melobi kongres Amerika Serikat agar mementahkan kembali rencana Presiden Joe Biden dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik di negeri itu.

Bahkan, Toyota disebut mengalami stagnasi dalam pengembangan teknologi mesin yang tingkat emisinya sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh lembaga perlindungan lingkungan Amerika Serikat (EPA). Dengan kata lain, tingkat komnsumsi bahan bakar mobil-mobil baru buatan Toyota secara keseluruhan berada di tingkat bawah dari standar yang ditetapkan lembaga itu.

Pada tahun 2020, pengawas kontribusi kampanye menemukan jejak Toyota sebagai donor (dari kalangan korporat) terbesar untuk Partai Republik di kongres. Partai ini mempermasalahkan hasil pemilihan presiden tahun 2020. Banyak dari politisi partai ini pula teridentifikasi gencar mempertanyakan dasar ilmiah untuk perubahan iklim.

Gedung Kongres Amerika Serikat – dok.Istimewa

Akio Toyoda di Jepang
Sementara, di Jepang, Presiden & Chairman Toyota Motor Corporation, Akio Toyoda, juga diketahui “meyangkal” rencana pemerintah Negeri Sakura itu yang akan melarang penjualan mobil konvensional pada tahun 2030. Dia “ngeyel” dengan argumennya yang menyebut Jepang akan kehabisan listrik di musim panas jika semua kendaraan di negeri itu bersumber tenaga dari listrik.

Tak hanya itu. Toyoda yang merupakan cucu pendiri Toyota itu menegatakan infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung transisi penuh ke mobil listrik akan merugikan negara setara dengan US$135 miliar hingga US$358 miliar. Anggaran negara pun, sebut dia, bisa babak belur.

Chairman Toyota Motor Corporation, Akio Toyoda – dok.Istimewa via Carscoops

Sementara, di India, para eksekutif yang terikat pada merek ini mencela target pemerintah negaranya untuk menggunakan semua kendaraan listrik pada tahun 2030. Toyota telah lama berpendapat bahwa PHEV dan teknologi hidrogen justeru menawarkan hasil jangka panjang yang lebih baik dalam memerangi perubahan iklim.

Namun, di saat yang bersamaan, Toyota telah memperkenalkan crossover listrik pertamanya (yang dikembangkan bersama dengan Subaru) yakni Toyota b4ZX. Dia mengklaim mobil itu merupakan mobil listrik murni yang sangat dinantikan konsumen. (Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This