Mimpi Mobil Listrik RI Dinilai Kontradiksi dengan Deforestasi

Mimpi Mobil Listrik RI Dinilai Kontradiksi dengan Deforestasi

Jakarta, Motoris – Indonesia telah menggaungkan untuk mewujudkan mimpinya memasyarakatkan kendaraan listrik murni (listrik berbasis baterai atau BEV) di negerinya. Cadangan nikel yang berlimpah – dan yang notabene menjadi bahan baku baterai listrik – plus dukungan pemerintah telah menarik minat sejumlah produsen.

Seperti dilaporkan Nikkei, Senin (15/11/2021) – menurut survei Badan Geologi Amerika Serikat – Indonesia memiliki 21 juta ton cadangan nikel. Artinya, negara ini menyumbang sekitar 30% dari produksi nikel dunia dan sekitar 22% dari cadangan global, sehingga menjanjikan pasokan bahan baku baterai yang stabil.

Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan beberapa insentif untuk memacu penjualan EV, termasuk memangkas pajak barang mewah untuk kendaraan listrik menjadi nol persen. EV juga dikecualikan dari aturan jalan di Jakarta, yang melarang mobil melaju di jalan utama pada hari-hari tertentu berdasarkan nomor plat.

Indonesia juga ingin membangun rantai pasokan EV, mulai dari penambangan mineral hingga produksi baterai dan unit kendaraan listrik itu. Sehingga akan memposisikannya sebagai pemain kunci dalam rantai pasokan EV global.

Ilustrasi, mobil listrik – dok.Istimewa

Sementara, Kementerian Perindustrian Indonesia, misalnya, menargetkan EV menyumbang 20% dari penjualan kendaraan pada tahun 2025. Kementerian juga menyatakan Indonesia berupaya menjadi pusat manufaktur kendaraan bersumber tenaga dari setrum itu.

Perusahaan global seperti Tesla dari AS, CATL Cina dan Foxconn Taiwan telah menyatakan minatnya untuk mengembangkan industri EV dan baterai di Indonesia. Bahkan Wuling Motors dan Hyundai Motors telah mengungkapkan ambisinya untuk menggarap pasar negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia ini.

Ambisi itu telah diungkapkan di hajatan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang kini sedang berlangsung hingga 21 November nanti, di Tangerang. Produsen mobil dari Cina Wuling Motors dan dari Korea Selatan Hyundai Motors merespon dorongan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan penjualan EV.

Wuling GSEV – dok.Istimewa

Target netral karbon
Karena dorongan itu merupakan salah satu cara Jakarta berharap untuk mengurangi output CO2 terkait dengan target mewujudkan nol emisi atau netral karbon pada tahun 2060 nanti. Wuling Motors salah satu perusahaan yang menggembar-gemborkan mobil dengan harga yang terjangkau di pameran tersebut, bahkan telah memperkenalkan platform GSEV.

Platform itu disebut sebagai dasar dari mobil listrik kecil yang merupakan model global. Rencananya dijual di Indonesia tahun depan, dan Wuling juga berencana untuk memproduksinya di lokal Indonesia tahun 2022 nanti.

“Harganya pasti akan terjangkau. Sebagai pemain global dan pabrikan lokal di Indonesia, Wuling selalu mendukung program pemerintah untuk mempercepat elektrifikasi kendaraan dan berjanji untuk ikut membangun ekosistem EV,” papar Executive Vice President Director Wuling Motors Indonesia, Han Dehong saat peluncuran GSEV, 11 November kemarin.

Ilustrasi, Hyundai Kona Listrik – dok.Istimewa

Hyundai Motor juga menyuguhkan beberapa model EV di pameran tersebut yakni Hyundai Kona Listrik dan Hyundai Ioniq. Bahkan Hyundai yang telah membangun pabrik di Cikarang, Jawa Barat, akan berproduksi di tahun 2022 nanti.

Hyundai bersama perusahaan Korea Selatan lainnya – yakni LG Energy Solution – pada bulan September lalu bahkan telah memulai pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik senilai US$1,1 miliar di negara itu. “Kami sebagai produsen dan industri berupaya memberikan produk terbaik,” kata Managing Director Hyundai Motor Indonesia, Makmur di arena GIIAS 2021.

Dia juga memastikan bahwa infrastruktur stasiun pengisian sudah tersedia dari Medan hingga Ambon. “Yang jelas era EV sudah dimulai, dan kita semua mendukungnya,” tandas Makmur.

Kontradiksi
Tetapi para analis memperingatkan bahwa upaya Indonesia untuk mengembangkan rantai nilai EV mungkin terhalang oleh janji pemerintah untuk melindungi lingkungan. Artinya penambangan nikel yang dilakukan berarti akan menyebabkan deforestasi alias pengalihan lahan hutan untuk keperluan lain.

Padahal hutan tropis Indonesia adalah salah satu paru-paru dunia yang menyerap emisi CO2 global dan menjadi andalan keseimbangan iklim dunia. Sehingga jika lahan hutan berkurang maka ancaman terhadap iklim negeri yang bersangkutan dan dunia juga semakin meningkat.

Hutan Indonesia – dok.The Forest Scribe

Sementara saat berpidato di Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) ke-26 di Glasgow, Skotlandia belum lama ini Presiden Joko Widodo menegaskan sektor kehutanan dan lahan di Indonesia akan mencapai penyerap karbon bersih pada tahun 2030.

Indonesia juga menandatangani “Deklarasi Pemimpin tentang Hutan dan Penggunaan Lahan”, yang berkomitmen untuk menghentikan dan memulihkan hilangnya hutan dan degradasi lahan pada tahun 2030.

“Kami melihat bahwa janji ini kemungkinan akan menimbulkan risiko bagi kelanjutan pengembangan kendaraan listrik (EV) Indonesia,” ujar ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara.

Menurutnya ada kontradiktif alias tidak klop antara penambangan bahan baku baterai dengan janji di Glasgow itu. (Ril/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This