Mazda Gagal Capai Target, Malah Bicara Pabrik Perakitan

Mazda Gagal Capai Target, Malah Bicara Pabrik Perakitan

Jakarta, Motoris – Sudah setahun kira-kira, setelah Mazda Motor Corporation (MMC) memutuskan untuk angkat kaki dari Indonesia dan mengalihkan tugasnya ke mitra lokal PT Eurokars Motor Indonesia (EMI), menjadi importir sekaligus distributor resmi.  Meski gagal mencapai target penjualan sepanjang 2017 lalu, pihak distributor resmi malah bicara soal rencana pembangunan pabrik perakitan.

Pada tahun perdananya (2017), EMI menargetkan penjualan Mazda bisa mencapai 5.000 unit, tapi hanya tercapai hampir 4.000 unit saja. Tahun ini, EMI menargetkan bisa mencapai penjualan 6.000 unit.

Meski bukan direct dari prinsipal, Mazda mengaku terus mencengkramkan kukunya di Asia Tenggara (ASEAN), khususnya Indonesia. Hal ini diketahui dari pemaparan dan pengakuan eksekutif MMC dan PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) sebagai distributor resmi mereka di Tanah Air.

“Penjualan global kami naik 17 % di tiga tahun terakhir, menjadi 1,5 juta unit. Di ASEAN pertumbuhan kami 38 % dalam tiga tahun terakhir,” klaim General Manager ASEAN Business Office MMC Susumu Niinai, Kamis (1/2/2018) di Jakarta dalam perayaan satu tahun EMI sebagai distributor Mazda di negara ini.

Selama ini, Mazda menikmati pasar Indonesia dengan impor mobil baik dari Thailand atau Jepang. Skema kerja sama antar negara anggota ASEAN, memungkinkan impor mobil tanpa beban pajak (0%). Sedangkan, kerja sama bilateral Indonesia-Jepang mulai menurunkan Pajak Impor (Bea Masuk) mobil CBU dari jepang dari semula 40 %, sekarang tinggal 14,1%.

“Indonesia adalah pasar otomotif terbesar di ASEAN, dan ASEAN merupakan salah satu pasar penting bagi Mazda,” lanjut dia.

Baca juga: Mobil Baru di Indonesia Makin Bikin Ribet Pemilik

FOLLOW IG @MotorisIndonesia – Grafis Motoris-New Vios dan Yaris Ngegas Tahun Ini

Potensi Pabrik

Presiden Direktur EMI Roy Arman Arfandy mengatakan, Mazda bisa saja membuat pabrik di Indonesia, tetapi penjualan setidaknya sudah menjual 15.000 unit setahun. Kalau jadi dibangun,  kata Roy, pabrik Mazda di Indonesia berpotensi tak sekadar merakit mobil-mobil bermesin konvensional (internal combustion engine/ICE).

Roy menjelaskan, ada niatan memproduksi pula mobil hibrida dan listrik di sana, dengan memanfaatkan insentif pajak yang sedang disusun pemerintah untuk mobil-mobil ramah lingkungan. Roy mengungkapkan Mazda kini memantau perkembangan kebijakan tersebut.

Ia sendiri menilai penjualan 15.000 unit di Indonesia bisa digapai tak sampai 10 tahun lagi. Meski begitu, ia juga menerangkan bahwa Mazda ‘tak terburu-buru melakukan perakitan di Indonesia’.

Meski terasa progresif, tapi Motoris agak skeptis dengan recana yang didengungkan Mazda soal punya pabrik di Indonesia. Bisnis itu konsepnya meminimalisir risiko, sehingga cost lebih murah, dan keuntungan makin banyak. Mengapa harus bangun pabrik, padahal bisa impor murah, buat apa harus mengurus ratusan atau ribuan buruh yang kritis dan gemar demo?

Lagi pula, sudah berapa tahun Mazda mendengungkan mau bangun pabrik, tapi makin solid jadi importir. Malahan, mulai tahun lalu, prinsipal (MMC) mundur dan mengurangi risiko dengan menggandeng mitra lokal (EMI). (KUY)

CATEGORIES
TAGS
Share This