Mayoritas Truk Overload di Jalan, Bikin Negara Rugi Rp 46 T

Mayoritas Truk Overload di Jalan, Bikin Negara Rugi Rp 46 T

Tangerang, Motoris – Sampai awal tahun ini, tercatat 78% dari angkutan truk yang melintasi jalan tol maupun non tol memuat melebihi kapasitas yang diizinkan. Akibatnya, jalan pun rusak sehingga negara merugi Rp 46 triliun saban tahunnya.

Komentar ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementeri Perhubungan Budi Setiyadi, dalam seminar ‘Overloading dan Keselamatan Berkendara’ yang digelar PT Hino Motor Sales Indonesia (HMSI) di Jatake, Tangerang, Kamis (5/4/2018).

“Data ini terus dipantau berbagai kementerian dan lembaga, hasilnya sama. Tetap 78% yang overload dan overdimensi (dimensi dilebihkan dari standar). Artinya hanya 22% saja truk yang mengangkut sesuai dengan kapasitas semestinya,” ucap Budi.

Menurunya, dengan trafik yang tinggi plus beban muatan truk yang melampaui Muatan Sumbu Terberat (MST) 10 ton menjadikan konstruksi jalan cepat hancur. Alhasil, pemerintah juga harus merogoh kocek perawatan rutin sekaligus pembangunan kembali.

Baca juga: Agresivitas Geng Astra pada Proyek Mobil Pedesaan

Lantaran itulah, Budi menyebut akan terus menerapkan sanksi tegas kepada pelaku overload itu. Tak hanya  kepada truk dan pengusaha truk yang bersangkutan saja, tetapi juga pengusaha pengguna truk yang overload tersebut.

“Karena dari pengakuan dari pengusaha angkutan truk, terjadinya overload dan over-dimensi itu juga karena permintaan dari pengguna jasa truk. Karena itu, nanti kita juga beri sanksi pengusaha pengguna jasa truk yang seperti itu.  Truknya kita tilang, pengusaha pengguna kita beri sanksi dan kami terus berkoodinasi denagn lembaga terkait,” terang mantan Widya Iswara Korlantas Polri itu.

Bahkan, perusahaan karoseri yang merancang bangun truk over-dimensi pun akan ditindak. Pasalnya, hal itu melanggar salah satu pasal di Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 khususnya dalam hal Rancang Bangun Kendaraan.

Ilustrasi, truk overload alias kelebihan muatan. (INAKORAN.com)

Tanpa Bantahan

Banyaknya pengusaha truk yang bandel dan melanggar ketentuan batas muatan itu juga diakui Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman. “Data itu tidak bisa dibantah. Memang benar begitu adanya,” ujarnya kepada Motoris, di Jakarta, Kamis (5/4).

Catatan Aptrindo menunjukan, saat ini truk yang ada di Indonesia jumlahnya mencapai 6 juta unit. Sedangkan jumlah pengusaha yang mengoperasikannya juga jutaan. “Itu baik dari skala kecil dengan truk ringan yang dua tiga unit sampai kelas korporat besar untuk truk pengangkut barang ekspor impor,” terangnya.

Baca juga: Mobil Nasional, Vietnam, dan Proteksi Impor

Hanya, lanjut CEO perusahaan angkutan dan logistik Lookman Djaja Group ini, terjadinya praktik overload itu bukan semata-mata kehendak dari pengusaha. Karena pengusaha melakukan overload dan over-dimensi kendaraan juga karena adanya permintaan dari perusahaan pengguna jasa angkutan.

Para pengguna jasa ini, kata dia, pengaruhnya besar sekali. Jika perusahaan angkutan truk tak mau menuruti akan ditinggal. Konsekuensinya mereka  kehilangan pendapatan. Celakanya, banyak pengusaha yang mau menerima permintaan itu.

Ilustrasi truk dengan modifikasi bodi alias over-dimensi. (AWANSAN.com)

“Bahkan banting harga. Jadi disitulah terjadi persaingan yang tidak sehat sehingga tercipta praktik overload tadi. Jadi Aptrindo sangat setuju ada sanksi tegas, baik pengusaha truk maupun pengusaha pengguna jasa angkutan,” ucap Kyatmaja.

Adapun Ketua Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo), Sommy Lumadjeng, mengakui banyak praktik penambahan dimensi atau overdimensi terhadap truk yang dilakukan perusahaan karoseri. Hanya saja, sebutnya, Askarindo tak bisa mengawasi karena dari sekitar 580 perusahaan karoseri yang sudah menjadi anggota asosiasi baru 200 perusahaan.

Baca juga: Kanibalisme Terjad dalam Tubuh Toyota

“Kalau ke anggota selalu kita sampaikan, kalau Anda melanggar itu. Berarti melanggar undang-undang, risikonya terlalu berat,” ucapnya.

Seperti halnya Kyatmaja, masih maraknya karoseri yang membuat racikan overdimensi itu karena dipicu persaingan tak sehat.

“Pemesan akan bilang, kalau kamu enggak mau enggak masalah. Karena ada karoseri yang mau kok, dan itu banyak. Ya akhirnya, persaingan enggak sehat kan?,” imbuhnya saat ditemui di Jatake, Tangerang, Kamis (5/4/2018). (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This