Upaya Hegemoni MPV Toyota di Indonesia

Upaya Hegemoni MPV Toyota di Indonesia

Jakarta, Motoris – Tiga model multi purpose vehicle (MPV) andalan Toyota di Indonesia, baru saja menyelesaikan touring lintas negara, melintasi 6 pulau, sejauh 8.000 km, selama sebulan lebih.

Perjalanan bertajuk “Beyond Beutiful Indonesia” ini, ditempuh oleh 20 orang komunitas, mengendarai Toyota Kijang Buaya (generasi pertama Kijang) dan All New Kijang Innova (generasi ke-6 Kijang),  Avanza Veloz (2012), Grand New Veloz (2015), dan Al New Sienta (2016).

Aksi ini bukan sekadar ajang komunitas, karena diwakili oleh tiga kelompok loyalis merek, yaitu Toyota Kijang Club Indonesia (TKCI), Veloz Community (Velozity), dan Toyota Sienta Community Indonesia (Tosca). Motoris melihat perjalanan ini sebagai upaya hegemoni Toyota pada segmen MPV di Indonesia.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Henry Tanoto, mengatakan, ajang ini memperlihatkan kepada publik tentang daya tahan dan kenyamanan, serta keamanan dari MPV Toyota yang diproduksi di Indonesia.

“Keikusertaan Toyota Kijang, Avanza-Veloz dan Sienta pada Journey Lintas Negara Indonesia-Timor Leste ini juga menunjukkan kemampuan industri otomotif Indonesia dalam mengembangkan kendaraan MPV produk lokal yang handal, tangguh dan merupakan andalan ekspor berkualitas global,” kata Henry, dalam keterangan resminya.

Baca juga: Performa Toyota Menyentuh Titik Nadir

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya – Performa Toyota Indonesia Menyentuh Titik Nadir.

Meski, faktanya memang Toyota sudah bukan lagi memiliki model terlaris di Indonesia, tetapi pengaruh merek otomotif terbesar di Jepang ini masih tersisa. Tentu, penguasaan pasar MPV selama dua dekade lebih, bukan sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja.

Poin ini yang coba mau digarisbawahi TAM, sebagai distributor tunggal merek Toyota di Indonesia. Apakah berhasil, tentu juga wajib diimbangi dengan hadirnya model baru, terutama di segmen utama mereka. Segmen MPV, yang sudah berhasil mendongkrak Toyota menjadi penguasa di Indonesia, bukan malah menunda-nunda peluncuran model barunya.

Di samping banyak pergelutan politis di dalam perusahaan, apakah Astra, Daihatsu, dan Toyota, seharusnya sebagai pebisnis para eksekutif perusahaan sadar dan mulai saling merangkul, memaafkan, menjalin lagi kerja sama.

Jangan hanya karena ego dua orang saja, pasar sebesar Indonesia dilupakan dan dinikmati kompetitor. Kehilangan takhta selama kuartal pertama 2018, masih bisa diperbaiki sampai akhir tahun. Pertanyaannya adalah, apakah mau atau tidak mau?

(sna)

CATEGORIES
TAGS
Share This