Mengapa Gaikindo Ngebet Jadikan Indonesia Basis Sedan?

Mengapa Gaikindo Ngebet Jadikan Indonesia Basis Sedan?

Jakarta, Motoris – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) selalu melontarkan keinginannya supaya Indonesia bisa menjadi basis produksi sedan. Padahal, pasar sedan di Indonesia cuma secuil dan nyaris tidak ada merek yang merakit lagi di Indonesia.

Sepanjang 2017 saja, dari penjualan kendaraan di Indonesia mencapai 1.079.308 unit, porsi sedan cuma menyumbang 9.060 unit atau hanya 1%.

Rekomendasi Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) atas harmonisasi kebijakan otomotif yang termasuk didalamnya revisi pajak sedan saat ini masih digodok Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Badan Kebijakan Fiskal (BKF).

Ketua I Gaikindo Jongkie D Sugiarto menjelaskan Gaikindo sudah duduk bersama dengan Kemenperin dan BKF membicarakan rekomendasi itu. Sekarang posisi Gaikindo menanti keputusan dari dua pihak tersebut.

Baca juga: Sedan Terbaru Hyundai Melenggang Akhir Tahun

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Pajak Sedan Turun Enggak Pengaruh Banget Buat Honda.

Revisi pajak sedan masuk dalam bagian rekomendasi Gaikindo tentang penyederhanaan tarif pajak atas bentuk kendaraan yang sekarang berlaku di dalam negeri. Gaikindo menyarankan aturannya disederhanakan seperti pemberlakuan internasional yang hanya mengatur misalnya mobil penumpang adalah kendaraan berkapasitas di bawah 10 orang.

“Jadi lebih sederhana. Sudah enggak pusing lagi, ada hatchback, sedan, MPV, SUV, semua diratakan saja, nanti tinggal diputuskan kena pajak berapa persen. Terserah pemerintah mau ikuti (rekomendasi Gaikindo) atau mau dirombak,” ucap Jongkie, Selasa (15/5/2018).

Pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 Pasal 2 Ayat 4 tertulis, sedan mini berkapasitas mesin 0 – 1.500cc dikenai Pajak Pertambahan Nilai atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 30%. Kebijakan itu sekarang dinilai diskriminatif karena model Low MPV dengan kapasitas mesin sama hanya kena PPnBM 10%.

Menurut Jongkie, Kemenperin dan BKF juga berkepentingan soal penyederhanaan pajak kendaraan. Semua dikatakan demi kemajuan industri otomotif Indonesia agar menjadi pemain global.

“Kita kan mau jadi pemain global, pemain dunia. masa kita enggak iri Thailand bisa setahun bisa ekspor 1,2 juta sedangkan kita (Indonesia) cuma 200.000-an unit. Padahal kapasitas kita sudah ada,” sebut Jongkie.

Bila ditotal kapasitas terpasang seluruh pabrik kendaraan roda empat di Indonesia mencapai hampir 2,2 juta unit. Pada tahun lalu produksi terpakai mendekati 1,2 juta unit, itu berarti masih ada sekitar 900.000 unit kapasitas yang belum terpakai.

Baca juga: Pasar Vios Cs Bisa Musnah di Indonesia

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Pasar Vios Cs Bisa Musnah di Indonesia.

PPnBM untuk Siapa?

Kalau tarif PPnBM yang sedan mini yang diturunkan, maka akan berlaku tidak hanya untuk model yang dirproduksi di Indonesia, tetapi juga yang impor (CBU). Pasalnya, PPnBM dibebankan langsung ke konsumen, bukan ke produsen.

Saat ini, hanya PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang memproduksi sedan mini, Vios di Karawang, Jawa Barat. Merek lain, nihil!

Memang ada BMW dan Mercedes-Benz yang juga memproduksi sedan. Tetapi, bukan sedan mini, tetapi mulai dari segmen sedan menengah (midsize), mulai dari Seri 3 atau C-Class ke atas. Tak ada satu model ini yang menggunakan mesin 1.500 cc ke bawah.

Tanpa ada penurunan PPnBM, Toyota juga ternyata sudah ekspor sedan ke Timur Tengah, dengan tujuan utama Arab Saudi. Motoris boleh skeptis, tetapi jika PPnBM diturunkan, memang konsumen akan menikmati, karena harga sedan lebih murah. Tapi, keuntungan terbesar ada pada para importir.

Baca juga: Fortuner dan Vios Mengamuk, Toyota Cetak Rekor Ekspor

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Empat Mobil yang Bisa Bikin Penjualan Astra Ambruk!

Realistis?

Bila pajak sedan turun, Gaikindo berharap semakin banyak prinsipal otomotif yang mau menanamkan investasi untuk merakit sedan. Efek investasi perakitan ujung-ujungnya bisa mengerek ekspor sedan dari Indonesia.

Menjadi pengekspor sedan berarti Indonesia ambil bagian dalam pasar terbesar kendaraan roda empat di dunia, yaitu sedan. Sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pemain global.

“Kami bukan mau kasih fasilitas ke ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) sedan yang sekarang ada, justru kami mau menarik pemain yang belum merakit. Kami bukan mau bicara hari ini tapi 10 tahun ke depan,” ucap Jongkie. (Kpr/sna)

CATEGORIES
TAGS
Share This