Kesempatan Kedua Mobil Retro Klasik Hidup Kembali

Kesempatan Kedua Mobil Retro Klasik Hidup Kembali

London, Motoris – Revolusi industri otomotif global tengah terjadi saat ini, ketika teknologi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) mulai menjamur. Teknologi EV dipercaya menjadi solusi bagi sebagian besar negara maju, menuju mobilitas yang bebas emisi dan melepaskan ketergantungan dari bahan bakar fosil.

Perubahan yang cepat, selain merangsang munculnya perusahaan-perusahaan otomotif baru, fokus mengembangkan EV, juga berpengaruh pada model-model lawas retro klasik yang termakan usia. Tapi, lewat teknologi EV juga, mobil-mobil retro klasik ini seolah mendapatkan kesempatan kedua, untuk hidup kembali, menanggalkan mesin konvensional yang boros dan kaya emisi gas buang.

Tren ini mulai menjangkit Eropa. Bagi sebagian orang yang sudah jatuh cinta pada mobil retro klasik, lewat desainnya, tetapi tetap berharap bisa mengemudikannya di tengah kota yang terikat regulasi ketat soal emisi gas buang. Swap engine menjadi motor listrik dan baterai lithium-ion, jadi solusi konkret.

Tren Baru

Tren swap engine dari mesin konvensional menjadi teknologi EV sudah berlangsung sejak setahun belakangan. Trigger gaya hidup baru ini kemudian mendapat eskalasi berkat acara pernikahan termegah tahun ini, antara Pangeran Harry dan Meghan di Kerajaan Inggris, Juni lalu.

Baca juga: Sundulan Toyota Indonesia ke Wacana Mobil Listrik

Renovo Coupe, tampilannya seperti Shelby Daytona yang mendominasi balapan Le Mans 1964, tapi sudah dikonstruksi ulang, dan diubah jadi EV. Dok. Digit.com

Pasangan kerajaan ini, seolah sengaja mempertontonkan mereka mengendarai Jaguar Tipe E lansiran 1968, dengan desain ikonik klasik retro, tapi berteknologi EV. Mobil yang semula berbekal mesin 6-silinder, digantikan dengan sistem EV dengan bobot sama seperti sebelumnya. Termasuk motor listrik yang menggantikan posisi komponen transmisi di bagian sasis mobil.

Bisa dikatakan, Jaguan Tipe E yang dikendarai Pangeran Harry merupakan satu-satunya di dunia, tetapi bisa bertambah, karena membuktikan kalau teknologi EV juga kompatibel dengan mobil berstatus retro klasik.

Tapi, untuk mewujudkan swap teknologi ini tidak murah, untuk Jaguar Tipe E, menghabiskan dana hingga US$ 400.000 setara Rp 5,7 miliar. Belum termasuk Jaguar Tipe E yang sudah selangit dan minim jumlahnya di dunia.

“Itu sepertinya merupakan produk pengganti terbaik dalam jangka waktu yang panjang. Saya sangat kaget, jujur. Saya pikir, itu merupakan hal luar biasa yang bisa dilakukan,” kata Graham Searle, General Manager Jaguar Enthusiast Club, dilansir CNN.com (29/6/2018).

Baca juga: Gaikindo Dukung Mobil Listrik Tapi Defensif

Dasarnya hanya VW Beetle atau kodok, tetapi sudah mendapatkan sentuhan khusus dari Zelectric Motors, mengubahnya jadi EV. Dok Digit.com

Harga Masih Terjangkau

Searle, yang mendirikan Jaguar Enthusiast Club, 35 tahun yang lalu, juga pemilik Jaguar, mengatakan, pemikiran para kolektor mobil klasik retro pada kesempurnaan dan originalitas model bisa jadi sesuatu yang berbahaya bagi pihak pabrikan.

“Teori tradisional Jaguar baru akan selalu dalam ancaman. Model Tipe E dijadikan bertenaga baterai, tentu bisa memecah opini (dari kalangan kolektor),” kata Searle.

Tim Hanning, Direktur Jaguar Land Rover Classic, mengatakan Tipe E Zero yang dikemudikan Pangeran Harry, dipastikan Jaguar tetap menjaga DNA aslinya.

“Target kami dengan Tipe E Zero, adalah kepemilikan mobil klasik di masa depan. Sehingga mobil ini masih terjangkau oleh jutaan orang, bukan cuma bisa dinikmati para jutawan (affordable for millions, not just to millionaires),” kata Hanning.

Kalau nantinya revolusi EV sudah masuk ke Indonesia, jangan kaget kalau akan ada Corolla DX atau Grand Civic EV di jalan. Bisa saja kan! (sna)

Sumber : CNN.com

CATEGORIES
TAGS
Share This