Penggemar Diecast Menjamur, Industri Harus Diseriusi

Penggemar Diecast Menjamur, Industri Harus Diseriusi
Ilustrasi diecast - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Industri diecast di Indonesia terus berkembang seiring dengan semakin menjamurnya komunitas penggemar maupun nilai transaksinya. Agar tak tergantung impor, pemerintah diminta untuk memberikan perhatian serius terhadap industri ini.

“Harus dilihat fakta yang ada. Saat ini, komunitas diecast da di hampir semua kota besar di Indonesia. Dengan regenerasi para peggemarnya yang terus berjalan. Ragam atau model kendaraan (mobil, truk, pesawat, dan motor) yang menjadi obyek untuk direplikasi juga terus bertambah banyak seiring dengan pertumbuhan pasar dan penjualan kendaraan tersebut,” papar pengamat diecast yang juga Ketua Penyelenggara Indonesia Diecast Expo (IDE) 2018, Arya Lembana, saat ditemui Motoris di sela konferensi pers persiapan IMX 2018, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Terlebih, diecast yang beredar di pasar itu juga bersifat global. Artinya, tak hanya mereplikasi model-mdel mobil, truk, motor, atau pesawat yang ada di suatu tempat saja. Tetapi, juga kendaraan yang berada di negara atau benua lain.

Sementara, dengan bertambahnya ragam diecast dan jumlah penggemarnya maka nilai pasar dari industri mainan ini juga terus berkembang. Walhasil, jika mainan-mainan itu harus terus diimpor dengan nilai yang besar, maka devisa juga akan terkuras.

Diecast di Indonesia Diecast Expo 2015 – dok.Otosia.com

“Inilah yang saya katakan mengapa kita perlu memperhatikan industri diecast. Terutama pemerintah. Sebaiknya didorong industri-industri mainan lokal agar tertarik memproduksi ini. Kita punya bayak orang-orang muda desainer diecast yang bertalenta tinggi. Sehingga, jika banyak diproduksi bukan hanya kebutuhan di dalam negeri saja yang terpenuhi, tetapi juga bisa diekspor,” ungkap Arya.

Memang, Arya menyebut hingga saat ini belum ada data yang menyajikan nilai pasar decast di Indonesia secara pasti. Namun, dari transaksi yang terjadi di hajatan IDE sejak tahun 2014 hingga 2017 bisa dilihat, trennya terus meningkat.

Transaksi pada IDE 2014 misalnya tercatat baru sebesar Rp 1 miliar. Namun tiga tahun kemudian atau di IDE 2017, tercatat meningkat tiga kali lipat atau menjadi Rp 3 miliar.

Hobi dan personalisasi
Pernyataan Arya diamini Ketua Toys and Models Collector Indonesia (Tomoci), salah satu komunitas diecast di Indonesia, Kemas Yulius. Menurutnya, sampai saat ini tak kurang dari 100 komunitas mainan ini tersebar di berbagai kota di Tanah Air.

“Alhamdulilah (komunitas) terus berkembang. Walaupun anak-anak sekarang juga lebih senang ke gadget, tetapi generasi-generasi baru penggemar mainan (diecast) ini juga terus ada,” ujarnya kepada Motoris melalui pesan elektronik, belum lama ini.

Nostalgia masa kecil terhadap mobil yang menjadi impiannya, telah membentuk hobi seseorang kepada diecast. Lebih dari itu, kesukaan terhadap model-model replika kendaraan itu juga melahirkan imajinasi yang lebih.

“Maka lahirlah personalisasi, yakni ada diecast custom. Bahkan, dengan hobi dan personalisasi itu, orang rela berburu diecast sampai kemana-mana. Melalui internet, pasar online atau komunikasi digital lainnya mereka berusaha keras untuk mendapatkan diecast impian,” paparnya.

Diecast di Indonesia Diecast Expo 2017 – dok.Marketeers.com

Walhasil, tak heran jika transaksi di pasar mainan ini juga besar. Sebagai contoh, pada IDE 2016 ada diecast Mini Cooper yang memecahkan rekor nilai transkasi yakni Rp8,5 juta. Padahal, di IDE 2015, diecast Chevrolet Imphala Nusantara mencapai Rp 7,2 juta, dan tercatat sebagai yang termahal.

Perkembangan pasar diecast juga tak lepas dari semakin beragamnya jenis dan varian kendaraan yang direplikasi yakni motor, mobil, hingga pesawat terbang. Mereka menggunakan skala 1:18, 1:64, dan 1:43. Dengan brand yang beragam pula. Tetapi yang terbanyak saat ini berskala 1:64.

Menurut Kemass dari beragam merek itu, yang paling banyak dicari adalah Hotwheels, Matchbox, dan Tomica. Sebab, harga mainan merek ini dinilai cukup terjangkau yakni mulai dari Rp 20.000 hingga ratusan ribu rupiah.

“Kalau kegiatan komunitas juga terus berjalan. Bahkan setiap minggu kita ada swap meet yakni ketemuan para penggemar dan antar anggota komunitas,” imbuh Kemas. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This