Audio Mobil Lebih Jos, Tapi Tak Bikin Kantong Bolong

Audio Mobil Lebih Jos, Tapi Tak Bikin Kantong Bolong
Ilustrasi sitem audio di mobil hasil modifikasi - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Tak sedikit pemilik mobil yang tak puas dengan sistem audio kendaraan mereka kurang sreg dengan seleranya, sehingga ingin melakukan peningkatan atau up-grade. Namun, jika tidak dilakukan secara cermat perangkat sistem audio itu tetap saja tak akan menghasilkan suara seperti yang diinginkan.

Menurut CEO PT Audioworkshop, Wahyu Tanuwidjaja, aspek paling mendasar yang patut diperhatikan sebelum menginstalasi sistem audio baru adalah sistem peredaman. “Kalau sistem peredaman secara kualitas bahan dan teknik pemasangannya tidak bagus, maka suara audio yang dihasilkan juga tidak akan maksimal,” tuturnya saat ditemui di Mangga Dua Square, Jakarta, belum lama ini.

Sedangkan soal teknik pemasangan, Wahyu mengingatkan agar installer dan pemilik mobil melakukan pengecekan terlebih dahulu tingkat kebisingan yang ada di kabin ketika mobil dijalankan mulai dari rata-rata 10 kilometer per jam (kpj), 50 kpj, hingga 100 kpj. Catat berapa desibel (db) tingkat kebisingan suara yang masuk ke kabin.

Lembaran peredam suara di mobil yang merupakan perangkat dasar peredam dan diaplikasikan di trim pintu, pilar, dan lainnya – dok.Motoris

“Setelah kita tahu tingkat kebisingan berapa desibel, kemudian ditentukan berapa banyak bahan peredam yang dibutuhkan. Sehingga tepat. Sistem yang dipasangi peredam mampu mereduksi suara dari luar kabin secara optimal. Sementara suara yang dihasilkan sisem audio terdengar dengan kualitas yang lebih maksimal seperti yang diciptakan oleh pabrikan,” papar Wahyu menjelaskan.

Dengan cara seperti itu pula, maka biaya yang dikeluarkan juga tak berlebihan. Sebab penggunaan bahan sangat tepat. Tidak boros dan tak mubazir. “Bahkan, aspek keamanan juga tetap terjamin. Karena suara dari luar seperti klakson dari kendaraan lain juga masih bisa masuk, sehingga aspek keamanan yang paling mendasar juga tetap terjaga,” kata Wahyu.

Jika bahan paling mendasar yakni lapisan premium sudah dipasang, tapi  pemilik merasa masih kurang pas dengan kualitas suara, mereka bisa menambah paket peredaman sesuai dengan selera maupun kebutuhan. Paket tersebut berupa peredam untuk plafon, pilar-pilar dan beberapa bagian lainnya.

Bawaan pabrik
Peranti peredaman tambahan diperlukan bila speaker after market berbeda dengan speaker bawaan dari pabrikan. Walhasil, ketika speaker anyar itu dipasang ada celah. Meski terkadanh celah tersebut sangat kecil, namun tetap berpengaruh ke kualitas suara audio. Bahkan, tingkat kenyaringan suara-suara peralatan musik yang disuarakan sistem audio juga bisa jauh berbeda.

“Kalau speaker original kan celah di pinggir-pinggirnya pasti rapat. Sehingga, ketika diganti dengan speaker aftermarket, pinggir-pinggirnya enggak rapat atau bolong-bolong ada celah. Sehingga energi suara itu kemana-mana, enggak ke depan,” ucap Wahyu.

Lantaran itu pula, Wahyu menawarkan peranti peredaman berbendera Z3Ro untuk memberi solsi masalah tersebut. Bendera ini terdiri dari beberapa merek yang selama ini diminati masyarakat pemilik dan penggemar oprek audio mobil.

Wahyu Tanuwijaya, CEO Audioworks menunjukan peranti peredaman Zero Circle – dok.Motoris

Bahkan, dia membuka kesempatan bagi pihak lain untuk menjadi toko penyalur produk tersebut secara online. Karena  pasarnya memang potensial. Sistem audio, kata dia, bisa dibilang sebagai fitur standar bagi mobil-mobil terbaru.

“Sebab, bisa dibayangkan, orang mengemudi mobil berkilo-kilometer jauhnya dengan tanpa ada suara, atau senyap. Jadi tidak asyik, membosankan,” ungkap Wahyu.

Lebih dari itu, survei yang dilakukannya menunjukan, saban tahun lebih dari 22% pemilik mobil meng-upgrade sistem audio kendaraannya. Sehingga, bisa dikalkulasi, jika tahun ini mobil yang terjual mencapai 1,1 juta unit, berapa besar pasar potensial yang bisa digarap. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This