Berkendaraan di Tengah Hujan, Ingat Jangan Asal Menyalakan Lampu Hazard

Berkendaraan di Tengah Hujan, Ingat Jangan Asal Menyalakan Lampu Hazard
Ilustrasi, lampu hazard jangan dinyatalakn begitu hujan mengguyur, karena justeru membahayakan diri sendiri dan orang lain - dok.Camargus

Jakarta, Motoris – Kejadian yang sering kita temui saat berkendaraan di jalan bebas hambatan maupun jalan protol adalah, banyak mobil yang melaju dengan serta merta menyalakan lampu hazard alias lampu darurat. Meski niatan para pengemudi itu baik – mungkin untuk memberi isyarat keberadaannya di tengah terhalangnya pandangan karena air hujan yang mengguyur bumi – namun cara itu dinilai tak tepat, atau bahkan membahayakan.

“Menyalakan lampu hazard dalam kondisi seperti itu jelas tidak sesuai dengan fungsi lampu itu. Sebab penggunaan lampu harzard itu dimaksudkan sebagai penanda kondisi darurat seperti kecelakaan, mogok, atau kondisi lainnya,” kata penggiat keselamatan berkendara Koalisi Peduli Transportasi Indonesia, Mohammad Abdil Furqan, saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (3/10/2020).

Penggunaan lampu hazard sebagai sarana penanda keadaan darurat, lanjut Abdil, ditegaskan di Pasal 211 ayat 1 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. “Pada ayat itu ditegaskan, bahwa setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib memasang segitiga pengaman, lampu isyarat peringatan bahaya, atau isyarat lain pada saat berhenti atau parkir dalam keadaan darurat di Jalan. Jadi, di sini fungsi lampu hazard adalah isyarat yang digunakan sebagai penanda keadaan darurat,” papar Abdil.

Ilustrasi, mebekan tombol lampu hazard di mobil – dok.ABC Action News

Namun, tak hanya soal salah peruntukkan atau pemfungsian saja jika menyalakan lampu hazar itu pada saat melaju di tengah derasnya hujan, tetapi juga membahayakan. Pertama, dengan menyalanya lampu hazar – yakni berkedip-kedip di dua sisi mobil – maka akan menihilkan atau menjadikan lampu sein yang dinyalakan pengemudi ketika memberi isyarat akan berbelok atau mendahulu kendaraan di depannya.

Kedipan lampu sein yang dinyalakan itu, sebut Adil, tak akan terlihat karena sama-sama lampu hazard yang juga berkedip. Sehingga, komunikasi dengan pengguna kendaraan lain, saat akan bermanuver berbelok atau menyalip kendaraan lain juga tak berlangsung.

“Tentu, ini sangat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Sebab, di perjalanan lampu isyarat seperti sein itu sangat vital fungsinya sebagai sarana komunikasi melalui bahasa isyarat. Kita mau berbelok, mendahului kendaraan lain, dan sebagainya menggunakan bahasa isyarat lampu ini,” jelas Abdil yang juga penggiat komunitas pemilik mobil lintas model dan merek itu.

Pada saat hujan mengguyur deras sebaiknya hanya menyalakan lampu utama saja. Jika pandangan masih terhalang boleh menyatakan lampu kabut – dok.Miami Herald

Selain itu, dengan kedipan lampu hazard juga menyilaukan pengguna kendaraan lain yang berada di belakang. Akibatnya, konsentrasi mereka terganggu. Kalau konsentrasi mengemudi terganggu, akan muncul potensi bahaya.

Oleh karena itu, Abdil menyaraknkan agar pengguna mobil lebih bijak dalam menggunakan lampu hazard. Saat air hujan deras mengguyur, sebaiknya cukup menyalakan lampu senja atau jika masih kurang dengan lampu utama. Jika itu pun masih kurang karena pandangan tetap terhalang boleh dinyalakan lampu kabut. (Die/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This