Dibanderol Rp 600 Jutaan, Ferrari Kayu Laku Dua Unit

Dibanderol Rp 600 Jutaan, Ferrari Kayu Laku Dua Unit

Jakarta, Motoris – Sebuah karya seni instalasi mobil Ferrari 330 P4 dari kayu yang dipamerkan di hajatan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 di JiExpo, Kemayoran, Jakarta, memantik perhatian pengunjung.

Maklum, bukan hanya detil pengerjaan bagian demi bagian yang halus, tetapi juga karena ukuran dimensi yang persis dengan mobil aslinya.

“Sejak dipamerkan di sini (IIMS 2018) dua unit sudah terjual. Satu dibeli oleh orang dari Amerika Serikat, dan sebuah lagi dipesan oleh orang Prancis. Harganya US$ 50.000 atau sekitar Rp 600 jutaan,” tutur pemilik PT Sumber Sejahtera Alamindo (SSA), Santoz Marcoz, saat ditemui Motoris di Hall B, JiExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (25/4/2018).

Menurutnya proses pengerjaan mobil tiruan itu memakan waktu sempat bulan di workshop-nya, di Boyolali, Jawa Tengah. Bahannya dari kayu jati.

Ukuran dimensinya menggunakan skala 1:1. Sehingga bentuk rinci bagian per bagian juga tak berbeda. Mulai dari kap mesin, spion, lampu utama, lampu sein, bahkan hingga baut-baut roda, sama rupa dengan versi aslinya.

Harley Davidson

PT SAS tak hanya memboyong Ferrari 330 P4 saja, tetapi juga motor gede Harley Davidson Road King. Dua unit moge asal Milwaukee, Amerika Serikat, itu juga dibuat dengan bahan kayu dengan detil pengerjaan yang sangat rapi.
Mulai dari blok mesin, sirip di head dan push road dibuat tak berbeda.

Harley Davidson Road King tiruan berbahan kayu PT Sumber Sejahtera Alamindo (SSA) – dok.Motoris

Begitu pula dengan handel rem dan kopling, foot step, dan gear shift di sebelah kiri. Menariknya, semua bagian itu bisa digerakan. Tak ketinggalan segitiga di fork depan juga sangat mirip dengan aslinya.

Proses pengerjaan motor tiruan yang dibanderol US$ 15.000 atau sekitar Rp 205 jutaan itu memakan waktu dua bulan. “Ini memang dikerjakan karyawan kami yang penuh talenta. Bukan sekadar berlatih tetap bakal alami mereka punya,” ujar Santoz menceritakan 10 orang karyawannya.

Membidik kolektor
Santoz menyadari segmen pasar yang dia bidik bukanlah pasar produk umum yang bersifat massal. Ceruk ini memang sangat kecil, tetapi memiiki daya beli yang sangat tinggi. Alhasil dia sangat yakin potensi pasar ini sangat besar.

Mereka adalah orang-orang tajir yang memiliki jiwa seni atau setidaknya menggemari benda-benda seni. Dan tentunya mereka orang yang memiliki rumah dengan ruang berukuran besar.

Harley Davidson Road dari kayu buatan PT Sumber Sejahtera Alamindo (SSA) yang dipamerkan di IIMS 2018 – dok.Motoris

“Para art enthusiast atau kolektor. Kelompok ini sangat elastis terhadap harga. Jika ada barang yang sesuai dengan selera seninya, berapa pun harganya tak masalah. Ini banyak kita temui di mancanegara seperti Amerika dan Eropa. Oleh karena itu, kami sering ekspor ketimbang menjual di pasar dalam negeri,” ungkap pria yang memulai bisnis produk seni instalasi ini sejak dua tahun lalu itu.

Namun, bukan hanya perorangan. Sejumlah perusahaan seperti hotel, restoran, pengelola perkantoran, dan lainnya juga dibidik. Memang, penyerap terbanyak produk ini adalah individu kolektor karya seni.

Berawal dari produk lantai kayu
Santoz sebelumnya telah berkecimpung di bisis wood trading sejak akhir dekade 90-an. Hanya, bisnis yang ditekuni bersama temannya itu rontok diterpa badai krisis 1998/1999. Setelah beristirahat sejenak, Santoz akhirnya mengambil alih bisnis tersebut.

Tak hanya perdagangan kayu olahan biasa saja, tetapi juga mulai merambah bisnis produk lantai kayu atau parquet. Ternyata, bisnis ini terus mengalir sehingga dia menjalaninya semakin serius.

Santoz Marcos, pemilik PT SSA – dok.Motoris

Namun, sejak dua tahun lalu dia mulai melirik membuat produk kerajinan dari kayu. Bahkan setelah dirasa potensinya bagus, Santoz  mulai menggarap karya seni instalasi berupa mobil atau motor dengan ukuran yang seperti aslinya alias skala 1:1. Lagi-lagi, respon pasar ternyata positif.

Selain produk yang dihasilkan diminati pembeli, PT SAS juga kerap menerima pesanan. Untuk pengerjaanya dia dibantu 10 orang karyawan yang memiliki keterampilan khusus.

“Dari situlah, kita kembangkan ke produk yang beragam. Bahkan, kita bikin produk mobil dan motor yang ditenpalkan di dinding dengan ukuran skala 1:1 juga atau yang lebih kecil,” ucapnya.

Bermesin
Kini setelah produknya banyak diminati, Santoz mempunyai ide untuk membuat produknya bukan hanya sekadar barang statis yang dipajang, tetapi juga bisa dijalankan. Artinya, produk – baik mobil maupun motor kayu – itu bisa dilengkapi mesin.

dok.Motoris,jpg

Lantaran itulah, kini dia tengah melakukan lobi ke perusahaan, lembaga pemerintah, dan perguruan tinggi untuk bekerjasama menghasilkan produk dengan karakter seperti itu. Bahkan, tak menutup kemungkinan dengan Agen Pemegang Merek atau pabrikan pembuat mobil di Indonesia.

“Saya sangat berharap bisa terwujud. Sehingga ada nilai lebih yang bersifat win-win. Bagi kami maupun partner yang mau bekerjasama. Jadi produk senin ini bisa memiliki nilai yang lebih lagi,” imbuhnya.

Soal pasokan bahan baku, Santoz menjamin kelangsungnya. Sebab, dia memiliki areal konsesi hak pengusahaan hutan di Morotai, Halmahera, Maluku. Dia juga memiliki areal penanaman kayu jati di wilayah tersebut. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This