Minim Komponen Balap, BMW 328i Ini Mampu Melesat

Minim Komponen Balap, BMW 328i Ini Mampu Melesat
Ali Said bersama mobil BMW 328i tahun 2012 yang memenangi juara ketiga Drag Fest 2020 - dok.Istimewa

Tangerang Selatan, Motoris – Sebuah kejutan terjadi di ajang drag race atau drag fest 2020 yang digekar di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat, 14 – 15 Maret lalu. Sebuah mobil BMW 328i milik pembalap Ali Said dari BMWCCI JCRT, Banten, berhasil menapak di posisi juara ketiga dengan catatan waktu yang mengesankan, 14 menit 715 detik saat menderu di lintasan sejauh 402 meter.

Menariknya lagi, kondisi fisik mobil tersebut masih utuh lazimnya sebuah mobil harian. Sehingga, kesan sebuah mobil untuk balapan pun tidak ada sama sekali. Bahkan, panitia dan pembalap lain juga terheran karena di kabin tidak ada  komponen-kompnen balap seperti roll cage dan sebagainya.

Joknya pun juga tidak ada yang dikurangi. Begitu pun di sektor mesin, tak ada tetambahan parts atau komponen khusus balap, semua masih asli bawaan pabrik.

“Benar-benar mobil harian,” tutur Ali Said, saat ditemui di bengkel Provis Autolab, Jalan WR Supratman, Pondok Ranji, Bintaro, Tangerang Selatan, belum lama ini.

Namun yang lebih mencengangkan dari pengakuan Aki itu adalah, meski saat berlaga di ajang drag race diberi bahan bakar Pertamax Turbo atau sejenis dan sekelasnya, namun saat digunakan sehari-hari, mobil BMW 328i miliknya itu hanya diberi Pertalite.

Dia memastikan mesin mobilnya tidak ngelitik (knocking) kendati menggunakan bahan bakar jenis itu. Bahkan, tenaganya juga tetap mencapai maksimal. Tenaga besar sudah terasa pada putaran mesin masih rendah atau bawah, begitu pun saat balapan di drag fest 2020 itu.

BMW 328i milik Ali Said yang sehari-hari diisi BBM jenis Pertalite setelah mendapatkan TUSS – dok.Istimewa

Penjelasan Ali diamini pemilik sekaligus pengelola Provis Autolab, Stevanus Jasin. Menurut dia, trik yang dilakukan Ali merupakan siasat tepat. “Pada saat turun itu, Ali menginjak pedal gas enggak sampai full. Tujuannya, untuk mendapatkan kisaran rpm (rotasi per menit) dimana efek TUSS paling terasa. Kalau perkiraan saya putaran mesin itu ada di sekitar 4.500 – 5.000 rpm,” terang dia.

Volume metric menjadi kunci
Ihwal kunci rahasia performa itu, kata Jasin, adalah proses pembakaran di ruang bakar mesin kendaraan yang sempurna. Namun, hal itu bisa terjadi, jika udara di ruang bakar tersebut bisa dimampatkan tanpa ada celah hampa atau kosong sedikit pun di ruang bakar itu.

“Sudah menjadi rumusan, ketika semua bahan bakar berhasil terbakar sempurna, maka letupannya akan menghasilkan tenaga yang maksimal juga. Itulah yang cara kerja TUSS (Tune-Up Semi Sport), volume metric sehingga meningkatkan kesempurnaan pembakaran. Kinerja mesin lebih maksimal, tenaga dan torsi mencapai titik maksimal, dan bahkan lebih responsif. Dan satu hal lagi tanpa ngelitik. Kenapa tanpa ngelitik, karena bahan bakar itu terbakar secara sempurna, tidak meninggalkan unsur yang tak terbakar penyebab ngelitik (knocking),” papar Jasin.

Bahkan dengan formula TUSS itu pula, Jasin menyebut timing pengapian masih bisa dimajukan terutama di mobil yang telah mengadopsi sistem injeksi open-loop. Dengan pemajuan timing itulah, konsumsi bahan bakar mobil lebih irit 20 – 40%.

Stevanus Jasin, pemilik dan pengelola bengkel Provis Autolab yang juga pemilik hak paten Tune-Up Semi Sport (TUSS) – dok.Motoris

“Meskipun, soal keiritan konsumsi bahan bakar itu juga tergantung bagaimana cara pengemudi menbawa (menyetir) mobil mereka,” ucap Jasin.

Meski tak bersedia menyebutkan formula TUSS secara rinci, namun Jasin menyebut secara umum konsep TUSS itu adalah penyempurnaan pembakaran di ruang bakar mesin. Penyempurnaan dilakukan melalui settingan serangkaian komponen di mesin mulai dari cylinder heaed (kepala silinder), katup, dan bentuk ruang bakar, saluran intake, hingga exhaust.

“Seberapa dan mengapanya formula TUSS itu, mohon maaf tidak bisa disebut. Kan itu rahasia dapur perusahaan kami,” ujar dia saat ditemui Motoris di bengkelnya, belum lama ini.

Dengan racikan khusus itu pula, TUSS mampu menyempurnakan konstruksi sekaligus sistem kerja komponen-komponen tersebut hingga 100%. “Ini saya pelajari selama bertahun-tahun, hingga kami mendapatkan paten. TUSS sudah menjadi hak intelektual milik kami,” kata dia.

Ilustrasi, suasana di bengkel Provis Autolab – dok.Motoris

Dan yang pasti, lanjut dia dengan TUSS ada sederet keuntungan. Selain knocking (ngelitik) mesin dan tersendat hilang, gas buang lebih ramah lingkungan karena emisi rendah, catalytic converter lebih awet, hingga plat kopling transmisi manual tak cepat aus karena jarang oper gigi.

“Selain itu, transmisi otomatis jadi lebih responsif, dan usia mesin lebih panjang. Dan soal bahan bakar tidak harus yang beroktan tinggi, cotonhya BMW 328i milik Ali itu, setiap pengisian untuk keperluan harian cukup Pertalite. Metode ini merupakan inovasi kami, untuk berpikir out of the box,” imbuh dia. (Lut/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This