Proton Putra WRC, Proyek Ambisius yang Teronggok

Proton Putra WRC, Proyek Ambisius yang Teronggok

Kuala Lumpur, Motoris – Pada 1987, klasemen Group A telah menjadi bintang utama Kejuaraan Reli Dunia (World Rally Championship/WRC), setelah Group B dihapuskan. Mobil yang bertarung dalam klasemen Group A memiliki spesifikasi yang tak jauh berbeda dengan model ‘normal’ dan tim pabrikan juga wajib melakukan proses homologasi yang ketat. Seperti perangkat aerodinamika yang melekat pada bodi mobil reli, harus sama dengan model yang dijual masal.

Namun 1997, Fédération Internationale de l’Automobile (FIA) mengeluarkan regulasi yang lebih ‘manusiawi’ untuk spesifikasi mobil WRC, dengan tidak memerlukan proses homologasi yang merepotkan para pabrikan. Regulasi baru ini memungkinkan para pabrikan mengembangkan mesin dengan kapasitas maksimal hingga 2,0 liter, menggunakan turbocharger yang dilengkapi sistem anti-lag, dan memasang transmisi sequential. Struktur bodi mobil pun boleh diperkokoh, sehingga ada aturan bobot minimum 1.230 kg.

Regulasi ini memungkinkan banyak pabrikan mobil yang tergoda untuk berkecimpung di kompetisi WRC, termasuk pabrikan mobil yang masih ‘junior’. Salah satu pabrikan yang ingin terjun di WRC ialah Perusahaan Otomobil Nasional (Proton) asal Malaysia. Proton memang banyak terjual di negara asalnya, namun sulit untuk bersaing di pasar ekspor. Lewat kompetisi ajang reli dunia, perusahaan pelat merah itu  berfikir bisa promosi ke negara lain.

Bantuan

Dalam ajang lokal, tak sedikit produk Proton yang dimodifikasi untuk keperluan reli bagi Petronas Eon Rally Team (PERT), mulai dari Saga, Wira, hingga Satria. Proton memutuskan untuk ambil bagian dalam event WRC mulai 1998. Meski Proton cukup percaya diri, namun pabrikan ini sadar bahwa mereka belum punya pengalaman yang tinggi dalam membuat mobil khusus reli untuk ajang WRC. Oleh karenanya, Proton membutuhkan bantuan dari pihak luar.

Baca juga: Legenda Balap, Subaru Legacy RS dalam Tawaran

Prototipe Proton Putra WRC, hasil karya rumah tunning Prodrive, Inggris, kini teronggok, tanpa daya. (www.carthrottle.com))

Proton kemudian menghubungi Prodrive yang telah memiliki pengalaman segudang di dunia motorsport. Perusahaan yang bermarkas di Inggris itu telah terkenal melalui kerjasamanya dengan tim reli Subaru. Proton Putra dipilih sebagai mobil yang dimodifikasi oleh Prodrive, sesuai dengan kebutuhan reli sesuai dengan spesifikasi WRC.

Prodrive memulai proyek ini dengan melucuti semua bagian bodi dan memperkuat strukturnya. Mesin berperforma tinggi juga dipersiapkan, yakni Mitsubishi 4G93T berkapasitas 1,8 liter yang bertenaga 300 hp. Mesin ini masih satu DNA dengan mesin Mitsubishi 4G63T 2,0 liter milik Galant VR-4 atau Lancer Evolution. Prodrive menjejalkan transmisi sequential 6-speed buatan Hewland dan sistem penggerak all-wheel drive.

Karena modifikasi, tampilan fisik Proton Putra jadi terlihat tak ‘ramah’ lagi, karena Prodrive membentuk ulang beberapa bagian luar bodi.  Mulai Spatbor lebar, bumper besar, kap mesin dengan lubang ventilasi, hingga spoiler belakang fantastis. Jika dilihat secara sekilas, maka Proton Putra WRC ini jadi mirip Subaru Impreza WRC98.

Batal

Berbekal desain dan segala komponen penunjang racikan Prodrive yang berhasil mengantar Subaru meraih juara dunia selama tiga tahun berturut-turut (1995, 1996, dan 1997), tak salah jika Proton optimistis mampu tampil kompetitif dengan Ford, Mitsubishi, Seat, Subaru, dan Toyota. Hanya beberapa saat sebelum musim reli WRC 1998, dimulai, kenyataan yang terjadi berubah 180 derajat.

Baca juga: Tampang Toyota Yaris Jadi Bengis buat WRC

Prototipe ini dibekali mesin 4G93T berkapasitas 1,8 liter yang bertenaga 300 hp. (www.carthrottle.com)

Secara tiba-tiba, Proton memutuskan untuk mundur dari keputusan awal, rencana bersaing di ajang WRC batal. Proyek Proton Putra WRC itu belum diperkenalkan secara resmi, sehingga pihak Proton dengan mudah menampik segala asumsi mengenai keberadaan mobil tersebut. Prodrive pun bungkam tentang proyek yang usai mereka garap itu, dan melanjutkan aktivitasnya bersama Subaru.

Sejumlah asumsi pun timbul terkait batalnya penampilan Proton di WRC 1998. Pertama, hubungan erat Prodrive dengan Subaru sepertinya terganggu ketika harus juga menangani Proton untuk proyek dalam ajang reli WRC. Mengingat Subaru Impreza WRC98 dan Proton Putra WRC bakal bersaing di ‘kolam’ yang sama. Aneh, jika keduanya ditangani oleh Prodrive. Situasi ini bisa memicu kekhawatiran dan saling curiga anta masing-masing pabrikan.

Kedua, ada kemungkinan Mitsubishi tidak terlalu menyukai ide Proton untuk berlaga di WRC. Mengingat Mitsubishi masih menjalin kerjasama dengan Proton dan Putra WRC bakal menjadi salah satu saingat berat bagi Lancer Evolution dalam ajang reli dunia itu.

Pada akhirnya, prototipe Putra WRC dianggap menjadi sebuah proyek ambisius Proton pada 20 tahun silam, terbengkalai. Hingga kini, Proton masih belum mengungkap alasan kuat mereka untuk tidak membawa Proton Putra WRC di ajang reli dunia saat itu. (ADP)

Tim dibalik terciptanya prototipe Proton Putra WRC. (www.carthrottle.com)

CATEGORIES
TAGS
Share This