Kebijakan Mobil Listrik di Mata Agus Tjahajana

Kebijakan Mobil Listrik di Mata Agus Tjahajana

Jakarta, Motoris – Ingar bingar wacana produksi mobil listrik di Indonesia telah memantik perhatian Direktur Jenderal Logam Mesin Elektronika dan Aneka Kementerian Perindustrian (sebelumnya Deperindag) periode Agustus 1998-Maret 2002, Agus Tjahajana Wirakusumah.

Melalui surat elektronik kepada Motoris akhir pekan lalu, pria kelahiran Bandung, 18 Januari 1955 itu menuturkan pendapatnya perihal peta jalan industri otomotif nasional menuju ke produksi mobil listrik di dalam negeri.

“Untuk mengembangkan mobil listrik, kebijakan otomotif seyogyanya disempurnakan terlebih dahulu,” begitu tulis Agus mengawali penuturannya.

Alumnus Jurusan Teknik Mesin, Institut Teknologi Bandung, tahun 1978 itu menyebut langkah pertama yang sebaiknya dilakukan pemerintah adalah menerbitkan kebijakan pengembangan mobil listrik jangka panjang. Kebijakan ini menyangkut pengendalian perkembangan mobil tradisional di satu sisi, dan mendorong pengembangan mobil listrik di sisi lain.

“Untuk pengendalian mobil tradisional itu bisa berupa pembatasan jumlah, peningkatan harga, serta peningkatan biaya pengoperasian. Bahkan bisa berupa pembatasan penggunaan di jalan hingga pembatasan jumlah kepemilikan,” ujarnya.

Baca juga: Livia Cevolini, Dijuluki “Elon Musk” Wanita dari Italia

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Pemain Mobil Listrik Lebih DImanja Ketimbang Hybrid.

Kedua, kebijakan fiskal dan insentif yang sudah ada saat ini diformulasikan kembali. Dengan demikian, akan tercipta pendorong proses produksi mobil listrik.

Caranya, segmen LCGC (mobil murah ramah lingkungan) lebih didorong ke arah kubikasi mesin yang lebih kecil. Hal itu bertujuan agar tercapai base load penjualan memadai sebagai subsidi silang untuk memproduksi mobil listrik.

“Kebijakan berupa insentif khusus untuk mobil listrik perlu diciptakan, dan disinsentif terhadap kendaraan berbahan bakar fosil diberlakukan secara bertahap agar produsen bisa memiliki waktu untuk menyesuaikan. Di satu sisi, promosi harus digalakkan secara bersamaan untuk merangsang konsumen membeli (mobil listrik),” papar Agus.

Insentif ke industri
Sementara, industri yang melakukan R&D mobil listrik harus diberi insentif, termasuk insentif infrastruktur stasiun pengisian baterai dan menerapkan kebijakan safety. Seiring dengan kebijakan tersebut, juga harus dilakukan uji dan evaluasi teknis secara berkala terhadap kinerja dan daya tahan mobil listrik impor.

“Dengan begitu, Indonesia tidak dijadikan uji coba pasar oleh negara lain,” ucap pria yang meraih gelar sarjana ekonomi Universitas Indonesia, angkatan 1988 itu.

Soal keberadaan R&D ini, Agus menilai para prinsipal yang memiliki bisnis di Indonesia sangat layak untuk mendirikannya. Sebab dengan pasar penjualan mobil 2 juta unit dalam lima tahun mendatang, atau 3 juta – 4 juta dalam 10 tahun mendatang, menjadi alasan logis secara ekonomi bagi kehadiran R&D.

Baca juga: Om Helmie, Sang Kolektor Mobil Built-Up Lawas dan Langka

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Toyota Merayu Pemerintah Indonesia Melalui Riset Mobil Listrik.

Terlebih, fakta berbicara, tak sedikit prinsipal yang selama ini menguasai pasar Indonesia ternyata juga masih belum siap untuk memasarkan mobil listrik di Tanah Air.

“Sehingga kalau mau keluar dari kondisi status quo kemampuan desain mobil dan menuju keseimbangan yang baru agar bangsa ini lebih berperan, maka sekaranglah saatnya,” ucap Agus.

Terlebih, lanjut Agus, pengembangan mobil listrik juga akan membuka kesempatan kepada peneliti, para pelaku industri penyuplai produksi, dan insinyur lokal untuk beperan aktif mengambil peran penting. Sebab, produksi mobil listrik ini merupakan konsep baru, dan para prinsipal merek-merek kendaraan konvensional masih merasa kikuk untuk memulai bisnis ini.

Langkah keempat, sebaiknya pemerintah memberi subsidi selain berbentuk pembedaan atau potongan pajak penjualan. Sementara, dalam perlakuan, sebaiknya disediakan layanan parkir istimewa bagi mobil listrik, sehingga akan memberikan rasa bangga dan kepuasan kepada pemiliknya. Dan yang pasti, sekaranglah saatnya memulai. (Ara)

Biodata :

Pendidikan:

1. Sarjana Teknik Mesin, Institut Teknologi Bandung, tahun 19782.

2. Sarjana Ekonomi, Universitas Indonesia  tahun 1988.

3. Master Industrial System Engineering, University of Florida, Amerika Serikat, tahun 1991

Riwayat Pekerjaan

– Dirjen Logam Mesin Elektronika dan Aneka periode Agustus 1998-Maret 2002

– Dirjen Industri dan Dagang Kecil Menengah, Maret 2002 – 2004

– Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan, Maret 2004 – Mei 2005

– Sekretaris Jenderal Departemen Perindustrian, Mei 2005 – Oktober 2010

– Direktur Jenderal Kerja Sama Industri Internasional, sejak Oktober 2010 hingga Februari 2015

– Komisaris Utama PT INALUM (Persero) mulai Maret 2014 – sekarang

– Chairman Institut Otomotif Indonesia (sekarang)

CATEGORIES
TAGS
Share This