Sudirman MR, Pentolan Otomotif Pengukir Sejarah Daihatsu

Sudirman MR, Pentolan Otomotif Pengukir Sejarah Daihatsu

Jakarta, Motoris – Setelah mengabdi dan berkarya di PT Astra Daihatsu Motor (ADM) hampir 40 tahun, Sudirman Maman Rusdi atau yang akrab disapa Pak Dirman MR mengakhiri masa baktinya 16 Mei lalu.

Selain mengemban jabatan tertinggi yakni Presiden Direktur ADM , pria ramah yang selalu rendah hati ini juga pernah menjadi orang Indonesia pertama yang didapuk sebagai direktur di Daihatsu Motor Company-Jepang.

Namun, kecemerlangan karir pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, itu tak datang begitu saja. Kerja keras yang diikuti kemauan belajarnya yang tak mengenal lelah, disiplin, dan berpikir positif atas semua yang dihadapi menjadi kuncinya.

“Selalu menjaga kepercayaan yang diberikan atasan dan perusahaan melalui kerja keras selalu menjadi pegangan saya. Selain belajar dan berpikir ke depan, saya menjaga kepercayaan dengan melakukan yang terbaik sehingga mendapatkan kesempatan,” tutur Sudirman di sebuah wawancara pada tahun 2011 lalu.

Sudirman memang bukan karyawan biasa. Prestasinya cemerlang seiring dengan pengalaman dan dedikasinya yang luar biasa terhadap pekerjaan. Pria yang mulai bekerja di PT Astra International dengan bekal ijazah STM (Sekolah Teknik Menengah atau Sekolah Menengah Kejuaran) pada 15 November 1978 – yakni lima bulan setelah PT Daihatsu Indonesia atau cikal bakal PT ADM berdiri – sebagai staf di bagian produksi.

Baca juga: Andre SuperOEM Hanintya: Apapun Mobilnya yang Penting OEM!

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Gozilla Makin Buas!

Penggila kerja
Anak kedua dari tujuh bersaudara pasangan Haji Maman Kostaman dan Yayah Sumarliah ini memang tergolong sosok penggila kerja. Sudirman pantang pulang ke rumah sebelum semua pekerjaannya beres.

Berusaha menggali pengetahuan dan keterampilan sebagai pelaksana dan pimpinan dalam sebuah pekerjaan adalah kebiasaannya.

Namun, itu bukan karena didasari untuk ‘mencari muka’ ke atasan, tetapi lebih didorong untuk mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Maklum, ia tipikal orang yang perfeksionis. Pehobi membaca ini selalu berpikir semua pekerjaan harus diselesaikan dengan tepat waktu dan hasilnya sempurna.

Dengan prinsip dan sikap seperti itu, tak heran jika dia menapaki karir lebih tinggi dengan lempang. Sajarah mencatat, setelah menjalani masa percobaan tiga bulan sejak November 1978, Pak Dirman diangkat sebagai karyawan pada posisi sebagai staf.

Sudirman (tengah) mendampingi Menteri Perindustrian – saat itu- Saleh Husein – dok.Kemenperin

Hanya dalam hitungan bulan, dia sudah dipercaya sebagai supervisor. Empat tahun kemudian, yakni di tahun 1982, Sudirman diangkat sebagai kepala seksi. Jabatan itu dia duduki hanya dua tahun, karena di tahun 1984 posisinya sudah naik menjadi asisten manajer.

Jabatan asisten dilakoni selama lima tahun. Di tahun 1989, perusahaan mempercayainya sebagai manajer. Lagi-lagi, jabatan itu hanya diembannya dalam waktu dua tahun, karena dia dipromosikan sebagai general manager. Jalan karirnya semakin lempang, setelah jabatan direktur di perusahaan PT Gaya Motor juga dia duduki di tahun 1991.

Karir pria penggemar olah raga golf dan jogging ini kian mencorong. PT ADM mempercayainya sebagai direktur di tahun 1998. Delapan tahun kemudian, atau tepatnya tahun 2006, ‘sinar bintang’ Sudirman semakin mengkilap. Ia dipercaya menempati posisi VP Director, dan tahun 2010 menjadi Direktur PT Astra International.

Baca juga: Livia Cevolini, Dijuluki Elon Musk Wanita dari Italia

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Ini Baru Lawan Berat Kijang Innova.

Tak pernah memimpikannya
Puncak jabatan pun ditapaki pria murah senyum ini di tahun 2011. PT ADM memberinya amanah sebagai ‘nahkoda’ atau sebagai presiden direktur. Pada saat bersamaan, Daihatsu Motor Company juga mengangkatnya sebagai direktur.

Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan majalah bisnis dan manajemen, Sudirman mengaku tak pernah memimpikan bisa menjadi Presiden Direktur ADM dan Direktur DMC. Satu hal yang membuatnya trenyuh ketika mengenang pengalaman pertama kalinya datang ke sebagai karyawan Daihatsu Indonesia untuk pelatihan di DMC Jepang

“Saya tidak pernah bermimpi menjadi direktur di DMC. Rasanya seperti mimpi. Sebab, ketika pertama kali datang ke DMC tahun 1982 saya menjalani training. Waktu itu saya datang ke sana naik bus atau kereta dan basah kuyup, karena saat itu hujan. Sesampainya di sana saya diberi seragam DMC. Rasanya senang, dan bangga bukan main,” tuturnya.

Sudirman menjadi orang pertama Indonesia yang menduduki jabatan direktur di Daihatsu Motor Company – dok.Wikipedia

Rasa bangga bercampur haru dan penuh syukur kembali terulang ketika menjadi Presiden Direktur ADM dan akan dilantik sebagai direktur di DMC tahun 2011. Dia kaget bukan kepalang, ketika ketika pejabat-pejabat DMC menjemputnya di bandar udara. Dia tak lagi naik kereta seperti tahun 1982, melainkan naik Toyota Crown di kursi belakang dengan seorang supir yang mengantarnya.

“Saat itu pula rasa sykukur tiada terhingga. Saya tidak pernah bermimpi akan menjadi seperti itu. Tapi itulah karunia yang harus disyukuri,” ungkapya.

Baca juga: Om Helmie, Sang Kolektor Mobil Built Up Lawas dan Langka

Buah manis kerja keras
Keberhasilan demi keberhasilan Sudirman sebagai pribadi maupun pimpinan ADM tak terjadi begitu saja. Iru semua buah dari kerja kerasnya. Pengakuan atas kemampuan lulusan jurusan Admnistrasi Niaga Universitas Terbuka ini tak hanya berasal dari kalangan internal ADM, tetapi juga dari eksternal terutama kalangan industri.

Fakta berbicara, Sudirman dipercaya memimpin asosiasi industri kendaraan bermotor Indonesia atau Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Tak tanggung-tanggung. Dia memimpin organisasi itu dalam dua periode, yakni 2010 – 2013 dan 2013 – 2016.

Sudirman bertemu dengan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto – dok.Kemenperin.go.id

Meski harus diakui bukanlah hasil jerih payah Sudirman seorang, namun perkembangan ADM yang telah menjadi salah satu pabrikan mobil terbesar di Tanah Air – dengan produk merek Daihatsu maupun Toyota- juga tak lepas dari perannya.

Suatu ketika, Sudirman menceritakan pengalamnnya harus tidur hanya beberapa jam di pabrik karena harus memperbaiki mesin yang ‘ngadat’ sekaligus berjaga jika kejadian itu berulang. Bahkan di sela kesibukannya, Sudirman masih berusaha menggali ilmu, yang kerap di luar pemikiran orang lain.

Dia belajar soal manajemen dan keuangan melalui berbagai medium. Salah satunya, lokakarya di pusat pengembangan manajemen Prasetya Mulya. Berbagai buku telah ‘dilahapnya’ untuk mendapatkan pengetahuan baru. Semua dia lakukan semata-mata demi dedikasinya terhadap profesi dan perusahaan.

Kini setelah empat dekade berkarya, Sudirman mengakhiri masa bhaktinya. Berdasar keputusan Rapat Umum Pemegang Saham PT ADM, masa akhir masa baktinya resmi disetujui. Sudirman telah meninggalkan legasi cemerlang dalam perjalanan karirnya. (Ara/Berbagai sumber)

CATEGORIES
TAGS
Share This