Mahathir Mau Bikin Mobnas Lagi, Tapi Bukan Proton

Mahathir Mau Bikin Mobnas Lagi, Tapi Bukan Proton

Tokyo, Motoris – Setelah terpilih kembali sebagai Perdana Menteri Malaysia dan dilantik pada Kamis (10/5/2018) lalu, Mahathir Mohamad kembali bertekad untuk mewujudkan mimpinya membuat mobil nasional Malaysia. Namun, mobil itu bukan Proton yang kini telah diprivatisasi dan dibeli oleh perusahaan asal Cina, Geely.

Seperti dilaporkan Bloomberg, Senin (11/6/2018), pria 92 tahun itu mengaku akan mengembangkan kembali mobil nasional yang lain. “Ambisi kami adalah untuk kembali memulai mobil nasional yang lain, mungkin dengan bantuan dari (negara-negara) Asia Tenggara,” tuturnya pada Nikkei, di sela lawatan resminya ke Jepang, di Tokyo.

Pemimpin tertua di dunia ini menyebut negerinya memiliki kapasitas 100% untuk mengembangkan mobil baru. Namun, hal itu bisa terwujud jika bermitra dengan pihak asing.

Mahathir yang pertama kali terpilih sebagai Perdana Menteri Malaysia pada 16 Juli 1981 dalam usia 56 tahun itu, mencanangkan program mobil nasional pada tahun 1983. Saat itu dia langsung mendirikan perusahaan milik negara  Proton Holding Bhd, khusus untuk menjalankan program tersebut.

Baca juga: Sudirman MR, Pentolan Otomotif Pengukir Sejarah Daihatsu

Ilustrasi kantor Proton- dok.Just Read Online

Penghinaan

Awalnya, program itu memberi gebrakan yang luar biasa. Rakyat Malaysia begitu bangga dengan mobil nasional buatan anak negeri mereka. Tak cuma itu, berbagai bangsa dan negara menoleh ke arah Malaysia karena keberhasilannya membuat mobil sendiri dan sebagian diekspor ke sejumlah negara.

Hanya, dalam perkembangannya perjalanan program ini ternyata banyak menghadapi kendala. Meski pemerintah kembali menyuntikan modal hingga miliaran dolar Amerika Serikat berupa hibah dan subsidi, tapi kinerja penjualan mobil tersebut tak cemerlang.

Bahkan sampai Mahathir di pengujung masa pemerintahannya. Seperti diketahui, pria yang akrab disapa ‘Doktor M’ itu lengser dari kursi perdana menteri pada tahun 2003, setelah 22 tahun lebih memegangnya. Namun, program mobil nasional yang diimpikannya sebagai kemandirian bangsa justeru terseok.

Hingga, akhirnya, di tahun 2012 Proton diambil alih perusahaan swasta DRB-Hicom Bhd. Perusahaan tersebut merupakan milik konglomerat Malaysia, Tan Sri Syed Mokhtar Al-Bukhary.

Ilustrasi Mahathir dan logo PRoton – dok.Free Malaysia Today

Tapi, perjalanan Proton di tangan perusahaan baru itu ternyata juga tak lempang. Utangnya semakin menumpuk. Di tengah kekalutan itulah, perusahaan asal Cina, Zhejiang Geely Holding Group Co datang dan membeli 49,9% sahamnya.

Tapi, pembelian Proton oleh perusahaan asal Negeri Tirai Bambu itu dianggap Mahathir sebagai sebuah aib nasional. Dia menyebutnya  bangsa Malaysia merasa terhina. Dia pun mengeritik pedas pemerintahan saat itu yang dipimpin Najib Razak. (Ara)

FOLLOW IG @MotrisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Wuling Tepis Suara Miring soal Kandungan Lokal.

CATEGORIES
TAGS
Share This