Kisah Pendiri Honda: Gagal hingga Sekarat sebelum Meraih Sukses (1)

Kisah Pendiri Honda: Gagal hingga Sekarat sebelum Meraih Sukses (1)

Jakarta, Motoris – Barangkali hampr semua orang di dunia ini hanya melihat kendaraan bermotor Honda – baik roda empat maupun dua – sebagai simbol dari keberhasilan pabrikan besar yang telah berhasil menembuh berbagai pelosok dunia. Namun, siapa pendiri pabrik itu dan bagaimana kisah jatuh bagunnya, mungkin sangat sedikit atau bahkan tak sampai 1% pengguna kendaraan Honda yang mengertinya.

Bahkan, kalau pun ada yang mengerti umumnya tak tahu bagaimana kisah pedih yang pernah dialami pria bernama Soichiro Honda itu. Mereka hanya memahami penggalan kisah perjalanan hidup pria kelahiran Iwatagun – kini bernama Tenrryu City – Shizuoka prefecture 17 November 1906, di bagian kisah suksesnya semata.

Padahal, rekam jejak kehidupan Soichiro penuh dengan cerita jatuh bangun. Hidup di keluarga miskin di kawasan kumuh, sakit, gagal mendirikan bengkel, kehabisan uang, dipecat kuliah, hingga sekarat karena sakit adalah bagian dari perjalanan hidup tersebut.

“Tak banyak orang yang memhamai saya. Kalau pun ada hanya melihat 1% keberhasilan saya. Mereka tak melihat 99% dari bagian hidup saya yang berupa kegagalan,” ujarnya suatu ketika.

Soihiro Honda saat remaja – dok,Istim

Membantu ayah
Shoichiro adalah anak sulung dari sembilan orang anak pasangan Gihei Honda dengan Mika. Sang ayah sebelumnya berprofesi sebagai seorang panadai besi yang kemudian beralih menjadi tukang bengkel sepeda.

Sejak umur 5 tahun, Soichiro sudah senang membantu sang ayah. Saat itu, dia sudah terbiasa membantunya dengan mengambilkan peralatan bengkel yang dibutuhkan sang ayah kala mereparasi sepeda.

Dia pun memperhatiakn dengan seksama bagian demi bagian dari sepeda yang tengah ditangani sang ayah. Kegemaran itulah yang membuatnya sangat akrab dengan berbagai peralatan sepeda.

Tak hanya itu. Gihei, sang ayah, juga girang dengan kelakuan Shoichiro. Dia merasa terhibur dan bertambah semangat dalam menjalani pekerjaannya karena merasa terhibur oleh tingkah anak sulungnya itu.

Di hati kecilnya muncul keyakinan, bahwa sang anak kelak bakal menjadi orang yang bukan hanya terampil seperti dirinya tetapi juga ‘orang besar’ yang menekuni dunia teknik alat angkutan. Hanya, keyakinan seperti itu tak pernah dia ungkapkan terus terang, karena Gihei merasa dirinya orang miskin yang terlalu muluk jika harus mengatakan anaknya kelak bakal menjadi orang hebat… (Ara/bersambung)

CATEGORIES
TAGS
Share This