Kisah Pendiri Honda: Gagal hingga Sekarat sebelum Meraih Sukses (2)

Kisah Pendiri Honda: Gagal hingga Sekarat sebelum Meraih Sukses (2)

Jakarta, Motoris – Kebiasaan Soichiro mengikuti membantu sang ayah – Gihei Honda –  bekerja di bengkel sepeda telah menumbuhkan kecintaan terhadap bidang teknik. Dia tak hanya merasakan keasyikan tersendiri saat beraktivitas di bidang itu, tetapi secara perlahan namun pasti menyadari bahwa teknik telah menjadi bagian dari kehidupannya.

Pada usia 8 tahun misalnya. Soichiro kecil rela menempuh perjalanan hingga 20 kilometer dengan naik sepeda hanya untuk melihat pesawat terbang. Dari kejauhan, dia memperhatikan satu persatu bagian demi bagian dari pesawat tersebut.

Dia merasa girang bukan kepalang, ketika melihat langsung benda yang selama ini hanya dia lihat di udara dengan wujud yang sangat kecil. Perjalanan jauh yang dia tempuh dari dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, dimana bengkel ayahnya berada serasa tak sia-sia.

Pengalaman inilah yang membuat tekadnya untuk menguasai bidang teknik kian membahana. “Aku harus bisa membuat sesuatu yang berbeda. Membuat sesuatu yang sangat memudahnya orang,” kata dia dalam hati seperti dikisahkannya dalam sebuah kesempatan.

Tekad itu bukanlah janji kosong belaka. Pada usia 12 tahun, Soichiro berhasil menciptakan sepeda engkol dengan dengan rem yang dioperasikan melalui kaki.

Soihiro Honda saat remaja – dok,Istimewa

Keberhasilan itu, meski membuatnya bahagia, tetapi tak lantas menjadikannya bermimpi untuk membuat produk kendaraan bermotor. Soichiro sangat menyadari bahwa dirinya hanyalah orang biasa dari keluarga miskin.

Bekerja di bengkel
Lantaran tak memiliki uang yang cukup, akhirnya setamatnya dari sekolah menenengah pertama, Soichiro hijrah ke kota Hamamatsu dan bekerja di Hart Shokai Company, sebuah bengkel kondang saat itu.

Dia tercatat sebagai karyawan yang cekatan, teliti, dan pandai. Dia mampu mendeteksi masalah dari suara yang didengarkannya. Dia juga tak mengenal waktu saat bekerja.

Kemampuan dan kecintaannya terhadap pekerjaan membuat pemilik perusahaan terpikat. Terbukti, setelah enam tahun bekerja di tempat itu, atau saat usianya tepat menginjak 21 tahun, sang bos menugasinya membuka cabang dan dia memimpinnya.

Soichiro merasa sangat beruntung, sebab dia sebelumnya sudah sangat bersyukur karena bisa menimba ilmu soal mesin di bengkel tersebut. Dan kini, dia dipercaya memimpin tempat dimana selama ini bekerja sekaligus belajar. Sungguh sebuah pengalaman yang dirasakannya sangat luar biasa.

Merasa ‘Sekarat’ dan Gagal
Memimpin cabang bengkel di Hamamatsu, Soichiro mampu membuktikan prestasi uar biasa. Dia menerima kendaraan yang tak bisa diperbaiki oleh bengkel lain, dan mempervaikinya secara cepat dan pulih seperti sediakala.

Cerita soal cara dan kualitas kerjanya segera menyebar ke seantero kota, sehingga banyak orang berdatangan untuk memperbaiki kendaraan mereka di tempat Soichiro.

Saking banyaknya pelanggan, terkadang dia bekerja hingga larut malam. Bahkan, hingga hari kembali pagi lagi. Tapi, itu tak jadi soal bagianya. Sebab, bagi Soichiro bekerja tak hanya soal mencari uang, tetapi juga belajar.

Bahkan, di sela kesibukannya bekerja, dia juga berhasil melakukan penelitian yang berujung pada penemuan baru berupa jeruji velg mobil yang sebelumnya dari kayu, dia ganti dengan menggunakan bahan dari logam.

“Jeruji dari kayu tidak bisa meredam entakan dengan baik ketika terjadi guncangan,” ucapnya memberi alasan.

Penemuan itu langsung dia daftarkan sebagai hak kekayaan intelektual. Penemuan yang dia dapatkan di saat usianya tepat 30 tahun itu, segera diproduksi secara massal setelah konsumen meresponnya dengan baik. Bahkan, produk itu diekspor ke berbagai negara.

Soichiro Honda (bertopi) saat beranjak dewasa – dok.Tinhte.vn

 

Namun, Soichiro tak merasa puas begitu saja. Dia ingin membuat terobosan baru, tapi recana itu tak disetujui pemilik bengkel dan membuatnya memuruskan untuk keluar dari pekerjaannya.

Singkat cerita Soichiro mendirikan bengkel sendiri pada tahun 1938. Dia mengajak sejmlah temannya untuk bergabung, dan ternyata gayung bersambut. Mereka mengikutinya.

Kali ini, suku cadang mobil yang dia buat adalah ring piston. Hanya, tak seperti dia bayangkan. Ketika ring piston itu ditawarkan ke Toyota Motors, perusahaan itu menolaknya. Produk itu dinilai tak memenuhi standar dan tidak lentur. Dia gagal total.

Terlebih, penolakan juga dia dapatkan ketika barang itu dijajakan di tempat lain. Perusahaan Soichiro bersama kawan-kawannya ‘besar pasak daripada tiang’ alias nombok. Dia kehabisan uang.

Inilah yang membuat teman-temannya hengkang dan meninggalkannya sendirian. Soichiro sedih dan berpikir keras. Dia bekerja keras untuk menyempurnakan produk itu, hingga akhirnya jatuh sakit. Saking kerasnya sakit itu, dia merasa tengah ‘sekarat’…(Ara/Bersambung)

CATEGORIES
TAGS
Share This