Kisah Pendiri Honda: Gagal hingga Sekarat sebelum Meraih Sukses (3/Habis)

Kisah Pendiri Honda: Gagal hingga Sekarat sebelum Meraih Sukses (3/Habis)

Jakarta, Motoris – Meski tak pernah diungkapkan dengan jelas, namun yang pasti sakit Soichiro memang sangat serius dan membuatnya tak berdaya tergeletak di ranjang. Namun, dia tak ingin menyerah begitu saja dengan penyakit yang menggerogotinya, kecintaan terhadap bidang sain dan teknologi otomotif yang dia cita-citakan menjadi obat penawar penyakit tersebut.

Ajaib. Keinginan untuk kembali membangkitkan bengkelnya yang terpuruk dan lecutan rasa penasaran untuk membuat ring piston yang benar-benar paten membuat kondisi Soichiro membaik. Kesehatannya perlahan pulih setelah ingat soal tugas yang belum terlesaikan yakni membuat ring piston.

Singkat kata, pria yang sejak di sekolah dasar menyukai bidang sains ini setelah benar-benar pulih langsung membuka kembali bengkelnya. Dia berusaha memanggil kembali teman-temannya untuk bergabung, meski tak semuanya bersedia. Niat Soichiro tak suture sedikit pun.

Berbagai informasi dia gali. Seabrek ring piston buatan perusahaa-perusahaan ternama dari Amerika dan Eropa dia amati saban hari. Hal itu mengingatkannya ketika dia masih usia anak-anak. Berbagai hal yang berkaitan dengan mesin selalu memantik perhatian dan minatnya.

Soichiro Honda tengah mengamati sparepart – dok.Istimewa

“Sejak kecil aku memang menyukai dunia sain. Begitu juga di sekolah. Ulanganku selalu jebok, karena aku tak suka membaca. Kecuali, bidang sain. Guru-guru memahami minatku yang seperti itu, meski nilai akademisku tak bagus,” papar Soichiro.

Bengkel pun kembali berjalan. Pelanggan mulai berdatangan. Tetapi soal urusan bagaimana membuat ring piston yang benar-benar paten belum ada jawaban.

Lantaran itulah, Soichiro memutuskan untuk kuliah pada sore hari selespas bekerja. Tujuannya, demi mencari jawaban atas teka-teki soal ring piston.

Berbekal uang dari hasil menggadaikan perhiasan sang istri dia masuk ke perkuliahan. Dia begitu yakin, dengan kuliah itu akan mengubah nasibnya karena berhasil membuat piston yang benar-benar diminati pabrikan.

Gagal kuliah
Namun, bangku kuliah ternyata tak sesuai dengan yang dia harapkan. Berbagai teori yang bertele-tele yang dia peroleh. Akhirnya dia mencari cara sendiri untuk dipraktikan di bengkel. Dia begitu asyik dengan dunianya sendiri. dan kerap absen kuliah.

Lantaran itu pula, perguruan tinggi akhirnya memecat Soichiro. Ketika dia memrotesnya, sang rektor bertanya apa yang dia inginkan sejak awal ingin kuliah.

“Aku ingin mendapatkan pengetahuan yang bisa dipraktikan. Itu yang paling penting. Bukan soal ijazah saja,” kata dia memberi jawaban.

Ternyata, alasan itu membuat sang rektor murka, karena dianggap sebagai sebuah penghinaan terhadap kualitas perguruan. Dia akhirnya berketetapan memecat Shoichiro. Namun, Soichiro akhirnya ikhlas. Toh, sedari awal menjalani kuliah dia sudah merasa tak nyaman.

“Aku merasa sekarat dengan perkuliahan. Ibaratnya, aku benar-benar lapar tapi tidak diberi makan, tetapi hanya dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ungkapnya.

Soichiro Honda (bertopi) saat beranjak dewasa – dok.Tinhte.vn

Setelah tak kuliah, pria yang gemar mengamai mobil balap itu langsung fokus mempelajari sendiri tentang ring piston. Dari pagi hingga hari berganti pagi lagi, perhatiannya tertuju ke benda itu.

Kerja keras Soichiro berbuah manis. Ring piston buatannya kali ini diterima oleh Toyota Motors. Bahkan, pabrikan otomotif terbesar di Jepang itu mengontraknya untuk memasok ring piston bagi mobil-mobil buatannya.

Soichiro girang bukan kepalang. Dia bersama teman-temannya di bengkel miliknya merancang produksi secara besar-besaran demi memenuhi permintaan sesuai kontrak dari Toyota dan permintaan di pasar.

Sebuah pabrik pun sudah dinaitkan untuk dibuat. Berbagai keperluan untuk membuat pabrik mulai dari lahan, modal, dan lainnya sudah disiapkan sedemikian rupa. Tinggal melaksanakannya saja.

Terlibas perang
Soichiro boleh merencanakan pendirikan pabrik dengan sempurna, namun fakta berbicara lain. Bank-bank di Jepang ogah memberikan dana sebagai modal pabrik karena Jepang menyiapkan diri untuk berperang melawan sekutu.

Soichiro tak kehilangan akal. Dia menggalang dana dari orang-orang yang masih memiliki harapan untuk berbisnis, dan berhasil. Sehingga pabrik pun bisa diwujudkan.

Tetapi malang. Saat perang benar-benar berkecamuk, pabriknya terbakar karena serangan bom yang nyasar. Tak hanya sekali tetapi dua kali, hingga pabrik benar-benar ludes dilumat api.

Akibat kegagalan ini Soichiro sempat jatuh sakit lagi. Tapi, itu tak lama, Dia kembali bergegas mengumpulkan teman-tean dan karyawannya. Dia memerinrahkan mereka untuk memunguti kaleng-kaleng bekas bahan bakar pewsat atau bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, untuk digunakan mendirikan pabrik.

Soichiro Honda bersama motor Honda yang digunakan di ajang balapan – dok.Bikebandit.com

Lagi-lagi ujian kembali datang. Jepang diguncang gempa dan menyebabkan pabriknya kembali luluh lantak. Setelah dilakukan perbaikan di sana-sini, akhirnya Soichiro memutuskan menjual pabrik pistonnya ke Toyota Motors.

Buah manis perjuangan
Uang hasil penjualan itu dia gunakan untuk menjajal usaha bidang lain. Tetapi, kembali gagal. Pada Oktober 1946 ketika perang berakhir, Jepang mengalami kelangkaan bensin dan membuat ekonomi negara itu terpuruk di jurang yang dalam.

Sampai-sampai Soichiro tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Tapi kejeniusan Soichiro terlihat, dia mulai memutar otak setelah melihat masyarakat membutuhkan sarana transportasi yang mudah dan murah untuk menunjang kegiatan mereka.

Produk sepeda bermotor pertama yang diproduksi Honda – dok.Honda Motor Co.Ltd

Ide cemerlang pun menyelinap di benaknya. Dia memasangi sebuah sepeda dengan sebuah mesin. Jadilah sebuah sepeda bermotor.
Tak dinyana, sepeda motor ini sangat diminati masyarakat Jepang. Pesanan mengalir deras kepada Soichiro. Bahkan tak hanya dari berbagai pelosok negeri, tetapi juga dari luar negeri.

Singkat cerita, Soichiro kembali mendirikan pabrik, setelah dua tahun menjual produk tersebut. Tepat tanggal 24 September 1948 Honda Motor Company resmi berdiri. Sejak itu pula, produk otomotif mulai dari sepeda motor hingga mobil dibuat oleh pabrik ini.

Bahkan di tahun 1959, Honda Motors tercatat sebagai salah satu produsen otomotif terbesar di dunia. Buah manis kesuksesan telah dipetik oleh Soichiro Honda setelah berkali jatuh bangun dalam usaha menggapainya. (Ara/Berbagai sumber)

CATEGORIES
TAGS
Share This