Mengenang Bambang Gunardi, Balap Indonesia dan Valentino Rossi

Mengenang Bambang Gunardi, Balap Indonesia dan Valentino Rossi
Bambang Gunardi - dok.Gridoto.com/Facebook Bambang Gunardi

Jakarta, Motoris – Dunia balap dan otomotif Indonesia tersentak dan berduka setelah kabar berpulangnya penggiat dunia balap Indonesia, Bambang Gunardi menyeruak di dunia maya. Maklum, Pak BG – sapaan akrabnya – memang bukanlah orang biasa di dunia balap.

Ddialah satu-satunya orang Asia yang menjadi juri utasan satu-satunya orang Asia utusan Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM) di Moto GP dari 1997 – 2015. Berkat kiprahnya di balapan motor paling bergengsi di dunia itu pula, BG mendapatkan pengakuan FIM.

Federasi Balap Motor Dunia yang bermarkas di Jenewa, Swiss, itu memberinya kualifikasi khusus yang diwujudkan dalam Super Licensed. Semua itu tak lepas dari etos kerja, komitmen, dan kesungguhan BG kepada profesi dan tugasnya.

Dia memang dikenal sangat profesional, tegas, dan teliti dalam menjalani tugasnya. Salah satu bukti ketegasan dan prfesionalisme dia adalah, ketika memberikan hukuman penalti pengurangan waktu 10 detik kepada Vaentino Rossi yang kala itu berlaga di seri balap MotoGP Australia musim balap 2013.

Rossi dia nilai melanggar aturan karena menyalip pembalap Marco Melandri padahal saat itu bendera kuning. Sementara pengibaran beneera kuning di arena balap ini berarti tanda adanya bahaya, dan para pembalap diminta menurunkan laju kecepatan motor tunggangannya.

Walhasil, salip menyalip juga dilarang pada ketika bendera kuning dikibarkan. Memang, nama Bambang tidaklah ikut berkibar melambung di jagat berita balap dunia saat itu.

Bambang Gunardi – dok.Otoinfo.id

Namun, sejarah mencatat dialah orang yang memiliki ketegasan, prinsip, sekaligus profesionalisme yang tinggi dalam melakoni tugasnya sebagai seorang juri. Para pemerhari dan pelaku dunia balap dunia ‘menengok’ ke arah Bambang kala itu.

Itulah Bambang, sosok yang tak pernah kompromi dengan pelanggaran.Sikap seperti itu menjadi prinsip yang dipegang sejak dia menjadi seorang pembalap hingga penggiat balap di dalam negerinya, Indonesia.

Sikap itu pula yang dia terapkan tak hanya di Indonesia, tetapi juga lintas benua atau dunia. Lantaran sikap tegas itu pula, BG pernah tercatat dipercaya sebagai Direktur Sirkuit Losail, Qatar.

Dunia balap Indonesia
Selain berkiprah di ranah internasional, BG juga tercatat aktif memajukan dunia balap di Tanah Air. Dia merupakan salah satu sosok penting di balik gelaran akbar balap Indprix. Sebuah ajang balap yang masih berlangsung hingga kini.

Berkat campur tangannya pula, Doni Tata Pradita dan Rafid Topan Sucipto saat itu lolos balap GP250 dan Moto2. Selain itu, di sela kesibukannya yang padat, BG juga masih kerap betandang ke daerah-daerah mengikuti dan ikut ‘cawe-cawe’ mengurusi gelaran balapan. Semua itu merupakan bukti komitmen dan kepeduliannya terhadap dunia adu cepat kendaraan bermotor roda dua itu.

Lantaran itu pula, tak heran jika usianya yang tak muda lagi – 76 tahun – Pak BG masih didapuk sebagai anggota kehormatan di badan regulator balap motor dunia yang mengatur MotoGP dan WorldSBK atau FIM pada 22 Februari 2017 lalu. Namun, memasuki tahun 2018, kesehatan pria yang di mata para sejawatnya dikenal sebagai sosok pendiam namun ‘hangat’ ini mengalami penurunan.

Hingga, di 17 Agustus lalu, sebuah informasi terdengar: BG mengalami serangan jantung dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sesaat kemudian, kondisinya diinformasikan membaik. Namun, ternyata Tuhan berkehendak untuk memanggilnya pada Kamis (30/8/2018) pukul 20.22 WIB. Pak BG pun kembali ke pangkuan-Nya dengan tenang di usia 77 tahun.

Selamat jalan Pak BG…. (Ara/Berbagai sumber)

CATEGORIES
TAGS
Share This