Rahasia Cina Menguasai Industri Mobil Listrik Dunia

Rahasia Cina Menguasai Industri Mobil Listrik Dunia
Revolusi industri otomotif, Cina jadi poros dunia, berharap 7 juta unit EV terjual pada 2025. dok. Qilai Shen/BLOOMBERG

Beijing, Motoris – Nama Elon Musk mungkin begitu membahana di dunia, lewat mobil listrik Tesla yang tenar di Amerika Serikat (AS). Nama Musk, bahkan disebut-sebut Jokowi dalam pidatonya beberapa belakangan terakhir, berkat ambisinya mengembangkan Space-X, masa depan sistem transportasi ke bulan. Tapi, kalau bicara soal mobil listrik, sebenarnya Wan Gang (66) paling layak dijuluki “Bapak Mobil Listrik Dunia”, bukan Musk.

Mantan birokrat pemerintah China ini, punya andil besar menjadikan revolusi industri otomotif global terjadi ke era elektrifikasi. Berkat visinya, kini hampir semua prinsipal otomotif global berlomba-lomba mengembangkan mobil listrik. Selain itu, Wan juga berhasil menjadikan Cina sebagai poros baru industri otomotif global, terutama dalam pengembangan mobil listrik.

Di mulai ketika dua dekade lalu, Wang yang menjabat sebagai Menteri Sains dan Teknologi Cina. Luar biasanya, Wan merupakan menteri pertama di kabinet yang bukan kader dari Partai Komunis, penguasa kekuasaan di Cina.

Lewat jabatan yang diemban, Wan Gang mau meloloskan strateginya, untuk menjadikan Cina sebagai poros dunia baru dalam industri otomotif global. Ia harus melobi sejumlah pimpinan dalam Konsulat Negara, karena perlu meyakinkan pemerintah Cina untuk mengambil kebijakan, risiko besar, mengembangkan teknologi mobil listrik yang belum terbukti (unproven).

Baca juga: Perusahaan Lokal Ini Nekat Kembangkan Mobil Listrik Sendirian

Wan Gang, mantan birokrat, sudah pensiun dari jabatan Menteri Sains dan Teknologi Cina, dijuluki Bapak Mobil Listrik Cina. dok. BLOOMBERG.

Sekarang, konsumen otomotif di Cina, membeli satu dari setiap dua mobil listrik yang diproduksi di Cina.

“Dia adalah Bapak Industri Mobil Listrik dari Cina. Tanpa Wan Gang, sangat sulit Cina bisa melampaui pihak Barat. Itu merupakan ide besar dia,” kata Levi Tillemann, mantan Penasihat Departemen Energi AS, sekaligus penulis buku “The Great Race: The Global Quest for the Car of the Future.”

Wan baru saja pensiun dari jabatannya Maret 2018 lalu, menciptakan dasar pemikiran (think-tank) pengembangan industri mobil listrik di Cina.

Begitu besar pengaruh Wan, tahun ini, total produksi mobil dengan teknologi elektrifikasi, baik itu hybrid, plug-in hybrid, atau listrik murni, mencapai 1 juta unit. Jumlah ini melesat 26% di bandingkan 2017. Inggris, Perancis, dan India bahkan sudah menyiapkan regulasi pelarangan penjualan mobil mesin konvensional (pembakaran mesin dalam/internal combustion engine), menurut Bloomberg New Energy Finance.

Menurut Lisa Margonelli, penulis yang pernah mewawancarai Wan dan koran lokal Cina, People’s Daily, pri berkacamata ini memulai hidup dari keterpurukan. Wan harus mengalami revolusi budaya di era 1960-an. Dia pernah dikirim dari Shanghai ke salah satu desa di Korea Utara pada usia 16 tahun, untuk belajar nilai-nilai dari petani. Waktu itu, ia sehari-hari bekerja memperbaiki traktor dan menciptakan jaringan elektrifikasi dari nol.

Baca juga: Geng Astra Bilang Mobil Cina Lawan Berbahaya

Ilustrasi produksi mobil listrik di Cina. dok. South China Morning Post/Jane Chai

Tapi, Wan juga dianggap beruntung, karena berhasil sekolah sampai perguruan tinggi dan memperoleh titel PhD, jurusan Teknik Mesin dari Universitas Teknologi Clausthal di Jerman.
Waktu lulus pada 1991, banyak tawaran kerja berdatangan pada dia, terutama dari prinsipal otomotif Jerman. Kemudian, dia memilih Audi, karena pada waktu itu, merek ini masih kecil dan bakal memberikan kesempatan dirinya buat mendapatkan promosi.

Menjabat sebagai salah satu eksekutif di Departemen Perencanaan Audi, Wan berperan sebagai duta perwakilan merek. Tugasnya, menyosialisasikan fasilitas produksi di Ingolstadt (Jerman), kepada delegasi Cina yang tengah berusaha mendongkrak industri otomotif negaranya yang bobrok. Salah satu tamu yang pernah dijamu, adalah Menteri Sains Cina, Zhu Lilan, yang melihat ketertarikan pada Wan.

Beberapa bulan setelah pertemuan perdana mereka, tahun 2000, Wan kembali ke Cina, juga berkat ajakan Zhu Lilan, mendorong konsep lompat kodok (leapfrogging), dalam pengembangan industri. Waktu itu, Cina juga lagi disorot karena masalah polusi udara yang parah. Kabut polusi menyelimuti Beijing dan beberapa kota besar Cina.

Alasan ini, membuat Wan mau mendorong mobil listrik. Karena, lewat teknologi ini, Cina bakal berjaya. Pasalnya, kalau Cina mau mengembangkan mobil konvensional, tidak bakal mampu bersaing dengan Jepang, Amerika, atau Jerman yang sudah lebih dulu berjaya.

Baca juga: Microlino, Mobil Mikro Berteknologi Listrik yang Laris di Eropa

Volkswagen menjadi merek asing dengan penjualan terlaris di Cina, dok. CHEATSHEET.com/Keith Tsuji/Getty Images

Taruhan besar pada teknologi baru, bakal membuat Cina jadi setara, bahkan bisa memimpin, begitu teori yang dipaparkan waktu itu. Selain itu, teknologi mobil listrik, bakal memecahkan masalah ketertantungan Cina pada minyak mentah yang selama ini diimpor dari asing.

“Wan Gang pernah mengatakan, ‘Saya mau menciptakan sebuah sistem di mana kita bisa secara enegri aman dan tercipta level area bermain lebih banyak buat perusahaan kita. Dia sangat sadar kalau tidak bisa ikut bermain pada permainan lama,” kata Bill Russo, mantan eksekutif Chrysler, sekaligus konsultan Gao Feng Advisory di Beijing.

Pada 2007, Wan kemudian menjabat sebagai Menteri Sains dan Teknologi, menyiapkan pendanaan pemeirngah miliaran yuan, mendorong dan membantu riset dan pengembangan, ke beberapa industri unggulan.

Dalam upayanya, Wan pernah memulai dengan membuat bus listrik yang beroperasi di ajang global, Olimpiade Beijing. Kemudian, polulasi mulai tumbuh, total 1.000 unit kendaraan listrik murni, sudah beroperasi di beberapa kota besar Cina.

Sampai akhirnya, akhir 2010, Wan merumuskan keluarnya kebijakan, insentif berupa subsidi alias diskon, senilai US$ 10.000 bagi setiap mobil listrik yang dijual oleh produsen otomotif di Cina.
“Akan ada jendela stategi dalam pengembangan kendaraan listrik dalam 10 tahun sampai 20 tahun ke depan. Kami harus ambil aksi sekarang,” kata kata Wan, dilansir People’s Daily.

Baca juga: Otomotif Indonesia Mau Jadi ‘Tukang Jahit’ Mobil Listrik Lagi?

Merek Jepang juga tak mau ketinggalan mengembangkan mobil listrik, salah satunya Honda. dok. GadgetMagazine

Beberapa bulan kemudian, para peneliti di Laboratoriun Nasional Argonne, di dekat Chicago, menciptakan teknologi lithium-ion, yang digunakan pada Chevrolet Volt, model berteknologi Plug-in Hybrid, milik General Motors.

Para intel AS sudah mengordinasikan Jeff Chamberlain dan tim, sebagai penemu teknologi baterai lithium-ion, untuk menjaga kerahasiaan rumus kimia itu. Pihak Amerika sebenarnya sudah sadar dengan bocornya teknologi itu.

Wan kemudian bereaksi, mengunjungi laboratorium untuk mempelajari, resep kimia untuk mengembangkan baterai itu.

“Semuanya tidak jelas ketika Anda bicara dengan dia (Wan). Kita ini hanya ilmuwan yang membandingkan catatan. Saya tidak pernah merasakan, atau bahkan menduga, kalau dia (Wan) lagi memancing (menelisik). Tapi, bukan berarti dia tidak melakukannya, tapi kami tidak pernah merasakannya,” kata Chamberlain.

Kartu As, juga dipegang Wan, ternyata bahan-bahan kimia yang terkandung dalam baterai lithium-ion yang dikembangkan, terkandung di Cina. Faktor ini juga yang menjadikan dunia saat ini bergantung pada Cina, untuk pasokan bahan baku untuk baterai mobil listrik, di manapun merek otomotif itu berasal. (Sna)

Sumber: AutonewsChina/Bloomberg

FOLLOW IG @MotorisIndonesia dan TWITTER @MotorisID, buat update grafis otomotif terkini lainnya. “Merek Asal Ceko, Skoda Coba Cari Celah di Pasar Indonesia.”

CATEGORIES
TAGS
Share This