Michio Suzuki, si Tukang Kayu Pendiri Kerajaan Suzuki (1)

Michio Suzuki, si Tukang Kayu Pendiri Kerajaan Suzuki (1)
Michio Suzuki, pendiri Suzuki Motor Corpration, di masa tua - dok.History of Suzuki

Jakarta, Motoris – Kejayaan bisnis Suzuki Motor Corporation (SMC) yang kini menjadi satu di antara pabrikan otomotif besar dunia tak lepas dari tangan dingin dari Michio Suzuki, sang pendiri. Sosok yang berpikiran cemerlang ini, ternyata awalnya adalah seorang tukang kayu yang menciptakan alat penenun kain.

Michio Suzuki lahir pada tahun 1887 di Hamamatsu sebuah kota berjarak 200 km dari Tokyo, Jepang . Ayahnya seorang petani kapas, sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa.

Masa kecil Michio banyak dihabiskan di kampung halamannya dengan bersekolah dan membantu orang tuanya. Ketika usianya menginjak belasan tahun, dia berusah mengutak-atik mesin penenun kain. Maklum, di sekitar rumahnya juga banyak perajin pemintal kapan dan penenun kain.

Kesibukan dan minatnya pada alat penenun itulah yang membuatnya menekuni profesi sebagai seorang tukang kayu dengan spesialisasi alat tenun. Sebuah alat tenun yang baru, yang cara pengoperasiannya dengan menggunakan pedal, ahirnya dia temukan.

Saat itu usianya baru menginjak 22 tahun. Meski begitu, naluri bisnisnya sudah begitu tajam. Tahun 1909 itu pula, dia mendaftarkan penemuannya untuk mendapatkan hak paten.

Baca juga: Jujiro Matsuda, Anak Nelayan Miskin Pengukir Kejayaan Mazda (1)

Michio Suzuki saat masih muda – dok.Global Suzuki

Setelah itu, agar alat tenun ciptaannya bisa dijual secara luas, Michio mendirikan perusahaan bernama Suzuki Loom Works, Usahanya tak sia-sia. Banyak pesanan datang kepadanya untuk mendapatkan alat tenun tersebut.

Perusahaan yang berdiri di Enshu, Hamamatsu, Prefektur Shizuoka itu pun langsung menjadi perhatian para pebinis kala itu. Maklum, pemerintah kekaisaran Jepang mengenjot ekspor tekstil.

Jepang mengekspor tekstil ke Asia Tenggara dan Asia Selatan. Bahkan negara-negara di Timur Tengah juga membeli kain dari negeri itu. Sehingga banyak sekali tumbuh perusahaan-perusahaan pembuat kain yang berorientasi ekspor dan membutuhkan alat tenun.

Bahkan, saking laris manisnya produk alat tenun ciptaannya itu, Michio mencatatkan perusahaannya, yakni Suzuki Loom Manufacturing Company (SLMC) di bursa saham pada tahun 1920. Tujuannya untuk mendapatkan dana dan agar semakin berkembang.

Mentok
Waktu terus berputar. Gerak dinamis terus berputar bagai roda yang melaju kencang. Hanya sayang, permintaan alat tenun dari Michio ternyata secara perlahan menurun, hingga akhirnya mentok.

Setelah memikirkan apa yang terjadi berulang-ulang, akhirnya Michio menemukan kesimpulan. Ternyata alat yang dia buat tersebut memang terbukti andal dan awet. Sehingga, bertahan lama. Lamanya usia pakai itu menyebabkan pabrikan kain tak melakukan peremajaan.

Terlebih, peningkatan kapasitas produksi juga tak mungkin karena pasar domestik maupun ekspor kain juga mentok. Walhasil, permintaan pun mampet. Banyak sekali produk-produk Suzuki Loom atau SLMC tak laku dan mangkrak di gudang pabrik. Meski begitu, Michio tak menyerah.

Baca juga: Kisah Pendiri Honda: Gagal hingga Sekarat sebelum Meraih Sukses (1)

Kantor pertama Suzuki Loom Works yang didrikan tahun 1909 – dok.GobalSuzuki

Dia sendiri bersama pegawai kepercayaannya berkeliling Jepang. Bahkan ke luar negeri, terutama India dan Cina. Dia menawarkan alat itu.

Namun, hasilnya tak memuaskan. Permintaan tak sebanding dengan jumlah produksi. Akibatnya, penghasilan yang didapatkan dari penjualan, tak sebanding dengan biaya produksi plus biaya pengiriman. SLMC tekor.

Tapi, justru ada berkah terselubung di sana. Perjalan demi perjalanan berkeliling negeri telah membuka jalan bisnis baru baginya. Saban mendatangi satu kota dan kota lainnya, Michio melihat ternyata banyak mobil-mobil berseliweran di jalanan.

Tetapi, ada satu hal yang ditangkap Michio dari para pemilik mobil, yakni rasa ketidakpuasan. Maklum, mobil-mobil yang dibuat oleh pabrikan Eropa itu sejatinya tak sesuai dengan selera publik Jepang saat itu.

Baca juga: Sudirman MR, Pentolan Otomotif Pengukir Sejarah Daihatsu

Mobil Seven Austin yang menjadi insprasi prototipe mobil yang dibuat oleh Michio Suzuki – dok.GlobalSuzuki

Selain berukuran besar, berat, dan boros bahan bakar, harganya pun mahal. Sementara konsumen menginginkan mobil yang murah, ringan, dan irit bahan bakar.

Ide pun membuhul di benak Michio. Dia mulai memutar otak untuk menemukan solusinya. Akhirnya, dengan menggunakan dasar mobil Eropa Austin Seven, pada tahun 1938 dia membuat prototipe mobil. Dia begitu yakin, mobil itu bakal laris dan memantik minat pembeli….. Bersambung.. (Ara/Berbagai sumber)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This