Li Shufu, Membangun Geely dengan Jurus ‘Ular Menelan Gajah’ (2)

Li Shufu, Membangun Geely dengan Jurus ‘Ular Menelan Gajah’ (2)
Saat masih kecil, Li yang tak memiliki mainan apapun karena orang tua yang miskin berhasil membuat mainan mobil dari pasir pada usia 10 tahun - dok.Dagensps.se

Jakarta, Motoris – Setelah berhasil memproduksi dan menjual sepeda motor, kepercayaan diri Zhejiang Geely semakin tinggi. Tekad membuat mobil seperti impian Li Suhu di kala kecil kian membara.

Tekad ini terwujud pada tahun 1998. Geely berhasil memproduksi mobil pertamanya. Bahkan, dalam waktu lima tahun, sejak 2003, dia berhasil mengekspor mobil-mobil buatannya ke mancanegara, termasuk Indonesia.

Keberhasilan ini membuat Geely yang merupakan ‘sang ular’ terus menggeliat. Li berpikir, produk harus dikembangkan, kemasyhuran nama harus terus digaungkan. Namun, semua itu itu membutuhkan modal.

Berbekal aset serta kinerja penjualannya yang berhasil menembus batas-batas negara Cina, Li Shufu mencatatkan saham perusahaannya di bursa saham Hong Kong pada 2004. Saat itulah, saham dijual ke publik dan dana segar mengalir ke seluruh tubuh Zhejiang Geely Group.

Baca juga: Li Shufu, Membangun Geely dengan Jurus “Ular Menelan Gajah” (1)

Kantor Zhejiang Geely Holding Group, simbol keberhasilan Li Shufu dalam menekuni bisnis – dok.Yahoo Finance

Suntikan ‘darah’ ini membuat Li semakin bergairah dalam membawa ‘kapal bisnis’ Geely. Gerakannya pun semakin lincah. Dia berpikir, pasar harus diperluas. Produk Geely harus dibawa ke pasar dunia yang lebih luas.

Sebagai tolok ukurnya, Geely bisa diterima di negara-negara maju. Lantaran itulah, pada 2005, Li Shufu berhasil membawa mobil hasil buatan perusahaannya ke pameran otomotif bergengsi dunia, Frankfurt Motor Show.

Jagat otomotif dunia pun geger. Mobil buatan Cina, yang waktu itu belum didengar dan dilihat dunia barat, nongol di perhelatan otomotif yang disegani. Maklum, Geely juga produsen mobil pertama Negeri Tirai Bambu yang memamerkan produknya di Eropa.

Saat itu tiga varian diperkenalkan. Mereka adalah hatchback Haoqing dan Merrie, sedan Uliou dan Free Cruiser, serta sebuah coupe bernama Beauty Leopard. Kehadirannya berhasil membetot perhatian pengunjung.

Terhalang standar
Keberhasilan membuat publik dunia – khususnya Eropa – terpikat, menjadikan Li Shufu semakin membulatkan tekad untuk tak tanggung-tanggung ‘menggedor’ dunia. Seperti jurus yang dijalankan ‘Ular Menelan Gajah’, negara-negara maju diumpakan sebagai seekor gajah karena besarnya pasar, daya beli, serta ekonomi secara umum di negara-negara wilayah tersebut.

Sehingga, jika gajah pun bisa dielan, apalagi yang lebih kecil. Walhasil, pada 2006, Geely ikut serta di ajang pameran otomotif Amerika Serikat, Detroit Motor Show. Lagi-lagi, seperti di Jerman, publik Negeri Paman Sam juga terbelalak dibuatnya.

Lantaran itulah, Geely sudah mematok target, tahun 2008 produknya sudah harus bisa dijual di negeri itu. Li begitu sangat percaya. Sebab, dari sisi desain, produk-produk Geely juga oke. Fiturnya tak ketinggalan, dan aspek keamanan dan keselamatan juga lumayan.

Hanya sayang, ketika dilakukan pengetesan melalui uji tabrakan, ratingnya jeblok. Tingkat keamanannya tak memenuhi standar yang ditetapkan otoritas keselamatan kendaraan baru di Amerika Serikat.

Baca juga: Bos Geely Solo Karir Beli Saham Daimler Rp 121 T

Li Shufu kini berhasil memiliki Volvo Cars – dok.YouTube

Kenyataan yang sama juga ditemui di Eropa. Saat mobil-mobil Geely yang hendak dipasaran dan harus menjalani uji tabrakan oleh Euro New Cars Assessment Programme (Euro NCAP), hasilnya jeblok. Mobil-mobil dinyatakan tak aman dan tak sesuai standar.

Namun, hasil ini bagi Li Shufu bukan pukulan, melainkan pelecut untuk kembali membuat produk semakin baik. Geely melakukan instropeksi, dan fokus melakukan inovasi pada 2007.

Mengajak ahli-ahli otomotif dari berbagai pabrikan top dunia untuk bergabung dilakukan. Sehingga terobosan besar dalam mesin, transmisi dan teknologi inti mulai terwujud.

Paralel dengan langkah itu, serentetan mobil baru berteknologi anyar digelontorkan ke pasar Cina. Li kembali merumuskan strategi di pasar global. Baginya, memperkuat brand sangat dibutuhkan.

Baginya, brand bukan sekadar tampilan dan nama besar, melainkan keunggulan teknologi hingga layanan setelah penjualan. Lantaran itu pula, dia mengincar perusahan-perusahaan besar dan ingin berkolaborasi.

Menelan pabrikan Eropa dan Amerika
Li Shufu, pria yang memiliki hobi menulis puisi dan bermain musik ini memang tenang dalam bertindak namun tegas kala berupaya mencapai cita-cita. Dia memiliki semboyan “Berani berpikir, berani melakukannya; berani lakukan, dan Anda pun bisa menang’.

Dengan semboyan ini, jurus ‘Ular Menelan Gajah’ pun berhasil dia buktikan keampuhannya. Ketika pabrikan kondang asal Amerika Serikat Ford Motor Company (Ford) terseok-seok tak kuasa menahan beban finansial, berusaha untuk menjual salah satu anak perusahaannya, Volvo Cars.

Padahal, di saat itu, Volvo Cars membukukan pendapatan sebesar US$ 12,4 miliar karena berhasil melego 334.000 mobil. Meski, juga mencatatkan kerugian sebelum pajak senilai US$ 653 juta.

Baca juga: Geng Astra Bilang Mobil Cina Lawan Berbahaya

Kantor pusat Ford Motor Company – dok.Glassdoor

Sedangkan pada waktu yang sama, Geely berhasil menjual mobil dengan jumlah yang hampir sama banyaknya dengan Volvo. Bedanya, Geely berhasil meraup keuntungan bersih US$ 175 juta. .
.
Kondisi ini dilihat Li sebagai peluang yang sangat menjanjikan. Dia pun ingat dengan Direktur Keuangan Ford Motor Company, Donat R. Leclair, yang beberapa kali bertemu dan berbincang akbar dengannya di pameran otomotif Detroit.

Gayung bersambut
Kepada pria itu, Li mengutarakan niatnya membeli saham Volvo dari Ford. Gayung bersambut. Leclair mengantar Li Shufu bertemu dengan Chief Executive Ford waktu itu, Allan Mulally untuk benegosiasi. Setelah beberapa kali pertemuan di tahun 2009, pada Januari 2010 disepakati, Geely mengakuisisi saham Volvo dari Ford.

Proses ini rampung pada Maret 2010 dengan nilai pembelian sebesar US$ 1,8 miliar. Bahkan pada Desember 2017, Calvin Capital yang memegang 2,8% saham Volvo Cars juga melego sahamnya ke Geely, sehingga pabrikan Li Shufu ini menjadi penguasa Vol Cars. Dan dua gajah – Amerika (Ford) dan Eropa (Volvo) – pun berhasil dia telan.

Tapi sebelum Calvin Capital menjual saham ke Geely, pada Mei 2017, Geely berhasil mencaplok 49,9% saham Proton Holding Bhd. Perusahaan itu merupakan BUMN Malaysia yang membuat mobil nasional Proton.

Baca juga: Proton X70 Jadi Kesempatan Kedua Geely di Indonesia

Li Shufu, kini menggenggam saham Volvo Cars dan Proton Holding Bhd – dok.Automotivenews

Geely pun telah menjadi pabrikan otomotif asal Cina yang diperhitungkan dunia. Kemasyhuran nama Li Shufu, anak petani dari Taizhou, Zhejiang, pun semakin menjulang. Begitu pun dengan kekayaannya.

Awal tahun ini, kekayaan Li diketahui mencapai Geely US$14,2 miliar. Dia tercatat sebagai orang terkaya nomor sembilan di Cina.

Seredet penghargaan dan predikat pun diterimanya. Tercatat, Li masuk dalam daftar ‘10 Pengusaha Sektor Swasta Teratas di Cina’. Kemudian digelari ‘Tokoh Luar Biasa dalam Industri Otomotif Cina’. Bahkan, menjadi salah satu dari ‘10 Besar Filantropis di Cina Tahun 2009, dan ‘Pengusaha Top 10 CCTV’ (Ara/Berbagai sumber)

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, TWITTER @MotorisID, FB Page @MotorisIndonesia, buat info dan grafis otomotif terkini lainnya. “Versi Paling Jos Mazda CX-5 Tak Dijual di Indonesia.”

CATEGORIES
TAGS
Share This