Kawasaki Shozo, Penjual Kimono Pembangun Bisnis Kawasaki (1)

Kawasaki Shozo, Penjual Kimono Pembangun Bisnis Kawasaki (1)
Kawasaki Shozo, peletak dasar pondasi bisnis Kawasaki - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Kesohoran nama Kawasaki di pasar motor sport dunia tak bisa diragukan lagi karena model-model yang disuguhkan maupun gerak langkah bisnisnya yang terus menyelusup ke berbagai belahan benua. Namun, tak banyak yang tahu pabrikan kondang asal Jepang ini dirintis oleh seorang penjual baju khas negeri itu, kimono.

Kawasaki Shozo, itulah nama sosok di balik pembangunan pondasi bisnis Kawasaki Heavy Industries, perusahaan induk Kawasaki. Kemauan keras, kecerdasan, serta kerendahan hatilah yang membuatnya berhasil menggapai keberhasilan meski bukan berasal dari keluarga mapan.

Shozo lahir di Daikoku, Satsuma, Kagoshima pada 2 Desember 1837. Ayahnya, hanya seorang penjualan kimono. Terkadang, sang ayah berkeliling dari satu kampung ke kampung lain untuk menjajakan dagangannya meski memiliki kios.

Ia memang tak pernah kekurangan pangan, meski penghasilan ayahnya pas-pasan. Ibunya, yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa bertugas mengurus anak-anak dan memasak makanan untuk sekeluarga. Shozo sangat dekat dengan sang ibu.

Ilustrasi, baju khas Jepang Kimono tempo dulu – dok.Flickr

Kasih sayang kedua orang tuanya begitu besar padanya. Meski, mereka juga mendidiknya dengan keras. Namun, masa-masa indah itu tak berlansung lama. Ketika Shozu berusia 15 tahun, ayahnya berpulang menghadap sang Khalik.

Mau tak mau, di usainya yang masih belia, dia harus mengambil alih tanggung jawab sebagai pencari nafkah sekaligus kepala bagi keluarga. Tak ada pilihan lain kecuali meneruskan usaha sang ayah berjualan kimono. Maklum, dia tak memiliki keterampilan lain, selain intuisi berdagang, kemauan, dan kebiasaan membantu orang tua. Saban hari dia harus berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya untuk menjajakan kimono hingga tengah malam.

Hijrah mencari berkah
Hanya dua tahun Shozu berdagang di kampung halamannya. Lantaran usaha dagangnya tak berkembang, tepat di usia 17 tahun, dia memutuskan untuk hijrah ke kota yang dinilainya cukup ramai dan menjanjikan, yakni Nagasaki.

Dengan restu dari ibu, Shozu memantapkan tekad berdagang di pelabuhan Nagasaki. Dia memilih tempat itu karena di pelabuhan banyak orang lalu-lalang untuk kegiatan bongkar muat barang, pulang dan pergi ke luar pulau atau bahkan ke luar negeri. Namun ada tujuan yang lebih dari itu yang ingin dicapai Shozo, yakni bisa berinteraksi langsung dengan orang-orang asing dari belahan bumi bagian barat baik Eropa maupun Amerika.

Maklum, kala itu banyak orang-orang dari dua benua itu yang datang ke Jepang untuk berbagai keperluan. Selain dagang, banyak ahli, ilmuwan, dan budayawan yang menyambangi Negeri Matahari Terbit tersebut.

Belajar dari mereka baik secara langsung maupun tidak langsung dengan mengamati berbagai barang bawaan, kapal-kapal yang digunakan, hingga cara mereka bersikap dan bertindak dinilai sebagai cara belajar yang efektif. Shozu berharap mendapatkan ‘berkah’ terselubung dari keputusannya untuk hijrah ke Nagasaki itu.

Perlahan namun pasti, harapannya mulai menjadi kenyataan. Kimono dagangannya banyak disukai konsumen. Sedikit demi sedikit keuntungan yang diperoleh dia tabung untuk mengembangkan usaha. Sehingga, tak hanya kimono saja yang dia jual tetapi juga barang-barang lain, termasuk produk bahan pangan hingga barang-barang untuk bangunan.

Nagasaki pada tahun 1860 – dok.Flickr

Skala bisnisnya pun berkembang pesat. Singkat cerita, hanya dalam waktu 10 tahun, usaha Shozo telah menggurita. Tak cuma itu, pengetahuan dan keterampilan yang dia peroleh secara otodidak maupun belajar kepada orang lain pun bertambah.

Walhasil, dia usianya yang ke-27 tahun, Shozo berhasil membuka toko dengan beraneka barang dagangan. Bahan pangan seperti beras, gula, minyak, dia jajakan. Dia telah tercatat sebagai pedagang besar yang mendistribusikan barang-barang untuk pedagang kecil.

Tak hanya pedagang di wilayah Nagasaki saja yang menjadi penjual komoditas yang dia distribusikan, tetapi juga pedagang di pulau-pulau lain di wilayah Jepang. Lantaran itulah, Shozo banyak menggunakan jasa transportasi kapal laut untuk mengirim barang-barang saban bulannya. Pengiriman – kala itu – membutuhkan waktu lama dan tergantung musim karena teknologi kapal yang masih terbatas.

Awalnya, kegiatan binis antar pulau yang dijalani Shozo lancar-lancar saja. Keberhasilan-demi keberhasilan direguknya. Namun, cobaan juga mulai datang. Suatu ketika, kapal-kapal yang mengirim barang dagangan ke wilayah lain karam setelah dihantam badai. Barang dagangan habis tak tersisa. Bahkan korban jiwa berjatuhan.

Shozu pun sedih, menerima kenyataan itu……. (Bersambung/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This