Chung Ju-Yung, Anak Miskin Pewujud Mimpi Besar Hyundai (1)

Chung Ju-Yung, Anak Miskin Pewujud Mimpi Besar Hyundai (1)
Chung Ju-Yung (tengah bertopi) - dok.Cafeauto

Jakarta, Motoris – Hyundai Motor Company (Hyundai – tanpa Kia Motors dalam grup Hyundai) saat ini tercatat sebagai salah satu perusahaan otomotif dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Pabrian asal Korea Selatan ini melalui berbagai produk buatannya juga telah menembus berbagai sudut dunia mulai dari Asia, Afrika, Amerika, hingga Eropa dengan penjualan hampir 4 juta unit.

Namun, tahukah Anda semua? Pabrikan yang bermarkas di Yangjae-dong, Seoul, ini didirikan oleh seorang anak petani miskin bernama Chung Ju-yung yang ‘memberontak’ terhadap keadaan untuk keluar dari jerat kemiskinan dan mencapai kemakmuran.
Ju-Yung lahir November 1915 di Asan-Ri, Songjon-myun, Perfektur Tongchon, Kangwondo, di daerah pegunungan bagian utara Korea. Keluarganya hidup pas-pasan. Ayahnya hanya seorang petani miskin.

Sebagai anak sulung, selain harus menyempatkan diri ke sekolah, dia juga harus membantu orang tuanya. Hari-harinya dilalui dengan seabrek kesibukan yang sejatinya bukanlah beban bagi anak sesusianya.

Dia harus bangun jam 04.00 pagi dan berjalan hingga 8 kilometer menembus dinginnyaudara untuk ikut mencangkul atau menyirami tanaman di ladang milik ayahnya. Setelah itu, menjelang siang, dia harus berjalan hingga 10 kilometer melewati tepian hutan untuk belajar di sekolah.

Chung Ju-Yung saat masih muda – dok.Istimewa

Meski merupakan keturunan Chung Mong-Ju – seorang penyebar ajaran Konfusius dan penyair besar – keluarganya tak mampu menyekolahkannya ke sekolah bagus. Ju-Yung hanya bersekolah dasar tiga tahun di sekolah kampung .

Kemudian meneruskan lagi sekolah dasar namun lagi-lagi belum tamat karena tiadanya biaya dan waktu. Tapi, dia tak patah arang. Ketika ada kesempatan lagi, dia kembali pergi ke sekolah, sehingga dia benar-benar tamat sekolah dasar setelah berusia 16 tahun atau pada tahun 1931.

Susahnya kehidupan inilah yang kerap menggugah tekad Ju-Yung untuk mengubah nasib. Dia bertekad untuk bekerja di bidag lain yang membawa kehidupan keluarganya sejahtera.

“Aku harus mengubah hidup ini. Masa depanku ada di tanganku. Aku harus mengubah sendiri nasibku. Itu bisa dilakukan kalau aku berpendidikan, tapi orang tuaku tak mampu. Meski begitu, itu bukanlah halangan, karena jalan pasti ada kalau kita berusaha,” tutur Ju-Yung suatu ketika.

Minggat dan menjadi kuli
Ju-Yung berusaha melihat dunia luar. Dia mencari-cari informasi. Pada saat senggang dia pergi ke kantor dewa yang berjarak 4 kilometer dari kampungnya untuk membaca Koran Dong-a.

Meski tak ada informasi yang terkait dengan pekerjaan, namun pemuda ini semakin keranjingan membaca Koran tersebut. Terlebih, di situ dia menemukan tulisan cerita bersambung ‘Bumi’ karya Lee Kwang-Soo yang saat itu sohor di Korea.

Dia tak menyadari bahwa tokoh yang sentral di cerita itu yang merupakan seorang pengacara andal nan terkenal hanyalah tokoh fiktif belaka. Namun, dia telah tersihir oleh alur cerita dan tokoh rekaan tersebut. Ju-Yung ingin menjadi tokoh ini sebagai seorang pengacara berikut berbagai kehebatan yang dimilikinya.

Pemuda ini berusaha mengubah diri. Berbagai buku-buku tentang hukum pun dia cari di berbagai lapak buku dan kantor pemerintah dan pelajari. Dia hanya menumpang membaca saja karena tak mampu membelinya. Hanya, setelah semua buku dibacanya, dia tak tak harus berbuat apa. Menjadi pengacara bukan sesuatu yang muncul begitu saja, tetapi juga harus bersertifikat dan ada yang menyewa jasanya.

Chung Ju-Yung – dok.YouTube

Singkat cerita, impiannya menjadi pengcara kandas begitu saja. Meski, dia tak putus asa dan tak merasa sia-sia dengan menggali ilmu tersebut. Baginya, mencari pengetahuan tak akan pernah merugi.

Dia pun kembali berusaha menemukan ‘impian-impian lain’ sebagai cara untuk mengubah nasib agar keluar dari kubangan kemiskinan. Dia terus rajin membaca koran itu, dan kembali menemukan impian baru, yakni menjadi orang yang kaya raya dan mampu membangun gedung bertingkat, membangun jalan raya, memiliki pelabuhan, kapal, mobil mewah, hingga pabrik komputer.

Angan-angan inilah semakin lama semakin mencuat dan mendorongnya agar pergi ke kota. Keinginan semakin membuncah kala dia menemukan berita ada proyek pembangunan pelabuhan di Chungjin yang letaknya ratusan kilometer dari desanya. Setelah merenung sejenak, Ju-yung berketetapan untuk pergi. Dia bertekad untuk minggat dari desanya.

Dia ingin mencoba peruntungan di proyek itu meski hanya sebagai kuli. Dengan mengajak seorang temanya, pagi-agi buta dia pergi ke kota itu.

Dengan bekal seadanya, mereka berdua naik kereta api. Bekalnya sangat mepet, dan dia berusaha untuk beristirahat di sebuah kota bernama Wonsan dengan harapan menghemat bekal dengan menupang di rumah kerabatnya. Setidaknya, mereka bisa menumpang istirahat dan makan.

Tapi malang. Tternyata kerabatnya telah berpindah dan tak ada yang tahu kemana mereka pergi. Walhasil, alih-alih beristirahat di kamar, mereka harus tidur di pinggir jalan yang dingin dan banyak nyamuk. Perut yang keroncongan hanya mereka isi dengan air dari aliran sungai yang mengalir di tepi jalan.

Chung Ju-Yung telah menjadi seorang taipan otomotif – dok.Istimewa

Keesokan harinya setelah berjalan kaki, kedua remaja ini mendapat pekerjaan sebagai kuli di proyek pembangunan rel kereta api. Mereka riang bukan kepalang. Namun, ternyata ayah Ju-Yung menemukan mereka dua bulan kemudian.

Sang ayah mengajak Ju-Yung pulang, sementara sang teman tetap bertahan. Meski dengan berat hati, dia bersedia pulang ke kampung halaman.

Di tengah perjalanan, ayahnya berusaha membeli oleh-oleh untuk ibunya. Ternyata, uang yang ada di kantong tak cukup. Saat itulah, kesedihan Ju-Yung semakin menjadi.

Kepada sang ayah dia menyarankan untuk membeli apel sortiran saja agar sang ibu tak kecewa. Sedangkan di hati kecilnya, Ju-Yung menangis,…”Seperti inilah nasib orang miskin’. Lantaran itulah, dia bertekad, apapun ‘ongkosnya’ dia harus mengubah kehidupan keluarganya…. (bersambunng/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This