Chung Ju-Yung, Anak Miskin Pewujud Mimpi Besar Hyundai (2)

Chung Ju-Yung, Anak Miskin Pewujud Mimpi Besar Hyundai (2)
Chung Ju-Yung saat awal-awal mendirikan Hyundai Motor Company - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Kegetiran demi kegetiran hidup akibat kemiskinan semakin ‘mengiris’ hati Ju-Yung, sehingga membuat tekadnya untuk mengubah nasib dengan bekerja di tempat lain di luar pertanian. Tercatat, empat kali dia kabur dari rumah dan sebanyak itu pula ditemukan sang ayah.

Namun, saat kabur yang terakhir kalinya, Ju-Yung ingin belajar akuntansi di sebuah sekolah berasrama. Saat itu 10 April 1932, diam-diam Ju Yung mengambil milik ayahnya senilai 70 Won dari hasil penjualan sapi.

Berbekal uang tersebut dia berangkat ke Seoul dengan kereta api pada malam hari. Sesampainya di kota itu, Ju-Yung mendaftar ke sekolah akuntansi. Uangnya habis untuk mendaftar sekolah, membayar makan, serta pemondokan.

Semangat belajarnya sangat luar biasa. Pada malam hari menjelang tidur, Ju-Yung membaca buku-buku biografi tokoh dunia seperti Napoleon, Abraham Lincoln, dan lainnya.

Namun, di kampung halamannya, sang ayah menemukan iklan soal pendaftaran sekolah tersebut. Walhasil, keberadaan Ju-Yung pun terdeteksi. Dan sang ayah langsung menjemputnya.

Chung Ju-Yung anak petani miskin yang telah menjadi konglomerat Korea SElatan – dok.Istimewa

Kepada Ju-Yung, ayahnya bercerita bahwa akibat duit yang dibawanya ibu dan adik-adik mereka terpaksa mengemis di jalan karena ketiadaan makanan. Hati Ju-Yung pun luluh dan nurut untuk pulang kampung.

Namun, dia menegaskan ke orang tuanya, dia tak ingin bekerja sebagai petani lagi. Namun, sesampainya di kampung halaman ternyata bencana alam melanda. Kondisi ini menjadi alasan baginya untuk kembali pergi dari rumah.

Bersama temannya, dia pergi ke pelabuhan Inchon. Dengan modal sedikit uang yang dipinjam dari temannya, dia bekerja serabutan, menjadi kuli bongkar muat kapal hingga menjadi porter. Hasilnya, hanya pas-pasan.

Lantaran itulah, dia bertekad untuk ke Seoul. Dalam perjalanan dia snggah di desa Sosha yang tengah panen. Instingnya sebagai petani mencuat, sehingga dia menawarkan diri menjadi kuli panen. Dan ternyata, dia dinilai terampil dari pemilik ladang dan mendapatkan upah yang cukup.

Upah itulah yang digunakan untuk ongkos ke Seoul. Di kota ini dia bekerja sebagai salah seorang kuli yang membangun Universitas Korea sembari berusaha mencari pekerjaan tetap.

Chung Ju-Yung saat masih muda – dok.Istimewa

Singkat cerita, dia akhirnya diterima sebagai buruh di toko hasil pertanian, Firma Bokheung. Saat itu usianya sudah 20 tahun. Dia mendapatkan imbalan upah dan makan tiga kali sehari plus setengah karung beras saban bulannya.

Karena rajin dan jujur, dia dipercaya pemilik toko untuk mengendalikan tempat bisnis itu. Dari hasil imbalan yang diberikan, Ju-Yung akhirnya mampu membeli tanah di Tongchon, Di situlah dia memboyong keluarganya dari kampung.

Keluarganya kemudian menjodohkannya dengan Byun Joong-Seok, gadis muda sekampungnya. Beruntung sang istri sangat setia kepadanya dan hemat, dan rajin mengurus rumah tangga.

Dia mengajak serta istrinya ke Seoul dan membuka toko hasil pertanian di Shintangdong. Sejak itulah ekonominya mulai membaik.

Musibah tak henti
Hanya, baru dua tahun tokok itu berjalan, Jepang menginvasi Korea dan Cina. Semua distribusi bahan pangan dikuasai pemerintah bala tentara Jepang. Sejak itulah musibah demi musibah dialami lagi oleh Ju-Yung. Toko miliknya pun bangkrut.

Bersama sang istri, dia pulang ke kampung halaman. Tapi, hatinya mulai gundah karena di kampung halaman tak menemukan sesuatu yang bisa dikerjakan dan mendapatkan penghasilan yang memadai.

Akhirnya, dia memutuskan balik lagi ke Seoul. Dia membuka usaha bengkel mobil di kota itu. Berbekal uang sisa tabungannya senilai 5.000 won, dia mengambil alih bengkel ‘A-Do Service’.

Tapi baru seminggu berjalan, bengkel tersebut ludes dilalap api. Cobaan berat ini tak menyurutkan niatnya, dia meminjam uang kepada temannya sebesar 3.000 won dan kembali membuka bengkel itu.

Chung Ju-Yung bersantai bersama istri di saat usia senja – dok.Asianews.seesaa.net

Ju-Yung menyediakan layanan cepat di bengkelnya dan berhasil memikat pelanggan. Kuntungan demi keuntungan akhirnya dia bukukan. Pada awal 1943, bengkel Ju-Yung dipaksa merger dengan perusahaan Jepang dan membuat bisnisnya terseok.

Akhirnya dia banting setir ke bisnis jasa trasportasi. Dengan modal 30 truk, Ju-Yung endapatkan order dari perusahaan tambang ema. Namun, dia dibohongi pengusaha tambang itu dan akhirnya bangkut.

Pada Mei 1945 ia terpaksa menjual usahanya di bawah harga kepada seorang pengusaha Jepang. Meski sedih, namun Ju-Yung yang sejak kecil terbiasa dengan hidup susah tak menyerah…. (bersambung/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This