Chung Ju-Yung, Anak Miskin Pewujud Mimpi Besar Hyundai (3)

Chung Ju-Yung, Anak Miskin Pewujud Mimpi Besar Hyundai (3)
Chung Ju-Yung anak petani miskin yang telah menjadi konglomerat Korea SElatan - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Ketika Perang Dunia II berkecamuk – yang juga menyeret Korea ke arena perang bersama Jepang – Chung Ju-Yung, kembai ke desanya sembari meluruhkan kepenatan setelah usahanya dilanda masalah bertubi-tubi. Meski, hal itu tak membuat pria ini menyerah terhadap nasib.

Tepat 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pimpinan Amerika Serikat, Ju-Yung pun bersiap kembali ke Seoul untuk mewujudkan rencana usaha yang telah disiapkan. Kali ini peleburan logam dia terjuni.

Dia menekuni usaha itu karena setelah perang usai, logam banyak dibutuhkan untuk membangun kembali negara serta digunakan sebagai barang modal untuk usaha. Menggandeng sejumlah temannya, Ju-Yung mendirikan perusahaan.

Tercatat, April 1946, perusahaan Hyundai Industrial Co – yang juga kerap disebut sebagai Hyundai Auto Repair Works yang artinya modernisasi – resmi berdiri. Pada tahap awal, bidang usahanya jasa reparasi mobil. Dan ternyata, jasa perusahaan itu laris. Walhasil, kurang dari setahun perusahaan telah mampu memperkerjakan 100 orang.

Chung Ju-Yung saat awal-awal mendirikan Hyundai Motor Company – dok.Istimewa

Naluri bisnis Ju-Yung mulai bermain. Dia berencana mengembangkan usaha, sehingga tak hanya di sektor perbaikan mobil saja, tetapi juga bidang lain agar pundi-pundi perusahaan juga berkembang. Ide itu mencuat ketika dia mengajukan pinjaman ke pemerintah. Kala itu, dia hanya diberi pinjaman 1 juta won, sedangkan orang lain yang berbisnis di bidang konstruksi diberi pinjaman 10 juta won.

Lantaran itulah, sepulangnya dari kantor lembaga keuangan milik pemerintah itu dia berniat mendirikan perusahaan baru bernama Hyundai Civil Engineering Co. Dia memasang papan nama itu di sebelah papan nama bengkelnya. Tepat 25 Mei 1947 perusahaan konstruksi itu berdiri.

“Ketika saya memulai berjuang mempertahankan hidup menjadi kuli di dok. Jadi pengalaman saya lebih banyak,” ucapnya suatu ketika.

Ternyata benar. Usaha itu berjalan, bahkan kinerjanya cemerlang. Tak lama berdiri, Hyundai Civil Engineering telah mendapatkan kontrak senilai 15,3 juta won. Padahal saat itu, pesaingnya perusahaan raksasa dengan modal besar.

Jatuh Bangun
Keberhasilan demi keberhasilan itu membuat Ju-Yung semakin percaya diri. Ketika Republik Korea Selatan berdiri 15 Agustus 1948, dia menggabungan Hyundai Civil Engineering Co. dengan Hyundai Motor Company dengan nama baru Hyundai Engineering & Construction Company.

Hanya, selang 6 bulan usaha itu berantakan karena pecah perang di semenanjung Korea. Akibat, perang saudara tersebut Ju-Yung harus mengungsi dan memulai usaha dari nol. Dia tak pernah menyerah.

Berkat keuletannya mempertahankan perusahaan, dia dipercaya membangun perumahan bagi perwira tinggi Amerika Serikat yang ditempatkan di Korea Selatan. Sebuah awal yang sangat baik. Terbukti, setelah itu berbagai gedung dibangunnya.

Meski sempat merugi karena inflasi yang meroket, Ju-Yung tak kaget. Dia tetap bertahan di bisnis konstruksi. Malah, perusahaannya diajak untuk berekspansi ke bisnis pembuatan semen.

Chung Ju-Yung – dok.YouTube

Insting bisnis Ju-Yung memang tajam. Meski tak jarang dia juga harus menghadapi situasi jatuh bangun. Tetapi di situlah dia terbukti sebagai seorang ‘petarung’ sejati. Dia sangat tangguh dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Pengalaman masa kecilnya yang penuh kegetiran membuatnya menjadi orang yang tangguh, pengusaha profesional dan bukan amatiran. Berkali terjatuh, berkali pula mampu bangkit dan bahkan berkembang.

Mobil Hyundai
Singkat cerita, pada Desember 1966, atau dua tahun sebelum Ju-Yung mengerjakan proyek jalan tol Seoul-Pusan, Hyundai Motor Company dia dirikan. Inilah tonggak sejarah baru bukan hanya Ju-Yung pribadi tetapi juga negara Korea Selatan.

Sebab, jika sebelumnya kendaraan bermotor di Korea banyak diimpor dari Jepang, kini diproduksi di dalam negeri. Alasan Ju-Yung membuat kendaraan di negerinya sendiri mendapat sambutan hangat dari rakyat dan pemerintah.

“Sebab, kemakmuran negara sangat ditentukan oleh perkembangan mobilitas dan fleksibilitas masyarakat. Sejarah telah membuktikan hal itu, mulai dari orang menunggang kuda, kereta kuda, sepeda, hingga kereta api dan mobil telah membawa perkembangan kemakmuran,” ungkapnya.

Chung Ju-Yung, sosok pekerja keras yang tak mengenal kata lelah dan menyerah – dok.Alchetron

Sejak itulah Hyundai Motor Company mulai berkibar. Produknya secara perlahan namun pasti mulai dikenal dan diterima oleh negara-negara di dunia. Maklum, Ju-Yung menekankan produk buatan Hyundai harus kuat, irit, dan berbanderol lebih murah. Sebuah strategi yang sangat tepat di awal-awal sebagai pendatang baru.

Produksi pun terus meningkat seiring dengan banyaknya permintaan. Memasuki dekade 2000-an, nama Hyundai telah tercatat sebagai salah satu dari perusahaan otomotif dunia.Produksinya teah menyentuh angka 1 juta unit.

Tepat 21 Maret 2001, Ju-Yung berpulang menghadap yang Maha Kuasa di usianya yang memasuki 86 tahun. Dia telah meninggalkan warisan yang luar biasa. (Ara/Tamat)

CATEGORIES
TAGS
Share This