Visi Habibie: Mobnas Maleo Berbahan Bakar Hidrogen

Visi Habibie: Mobnas Maleo Berbahan Bakar Hidrogen
BJ Habibie mantan Menteristek RI 1978 - 1998 dan Presiden RI ketiga - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Mantan Menteri Riset dan Teknologi yang juga mantan Presiden RI ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie, telah berpulang menghadap Sang Khalik, Selasa, petang hari, 11 September kemarin. Berbagai cerita tentang visi, karya, dan reputasinya berserak tak terhitung di hamparan sejarah Republik Indonesia dan dunia.

Salah satu nukilan catatan sejarah itu adalah visi pria kelahiran Pare-pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 tentang industri otomotif di Tanah Air. Sejarah mencatat, Rudy – panggilan akrabnya – pernah menginisiasi lahirnya sebuah mobil nasional (Mobnas) Indonesia, bernama Maleo.

Memang, mobil yang dinamai dengan nama burung endemik Sulawesi Selatan itu – Macrocephalon – bukanlah yang pertama, karena mulai dibicarakan di Komisi XI DPR RI, pada tahun 1994. Saat itu, Komisi X DPR mengusulkan kepada Habibie – yang kala itu menjabat Menristek – agar Indonesia membuat mobil sendiri dengan berpijak pada industri pesawat terbang yang telah dikembangkannya, dan sudah berjalan.

Prototipe mobil Maleo – dok.Via Google

Mendapat masukan seperti itu, suami Hasri Ainun Besari (almarhumah) ini, melapor kepada Presiden Soeharto. “Dan saat itu, Pak Harto tidak berkeberatan. Beliau mempersilahkan saya untuk merealisaikan proyek itu,” ungkap Habibie dalam sebuah wawancara dengan media kondang asal Amerika Serikat di pertengahan tahun 2014 lalu.

Proyek ini menambah proyek pengembangan industri otomotif di Tanah Air yang sejatinya sudah ada yang dimulai di Indonesia. Bahkan, sejak awal dekade 90-an, sejumlah proyek untuk memproduksi mobil di dalam negeri sudah mulai berjalan.

Kegiatan itu, berupa pembuatan desain, produksi komponen, perakitan mobil-mobil yang diimpor secara terurai (CKD) maupun IKD. Hanya memang, belum ada satu pun yang menggunakan merek Indonesia.

Total jenderal ada enam proyek di rentang waktu 1990-1998, yakni proyek Mazda MR90, proyek Maleo, proyek Beta 97, proyek Timor, proyek Bimantara, serta proyek Texmaco. Singkat cerita, Habibie yang menjabat Menristek dari tahun 1978 – 1998 itu, bergegas merealisasikan proyek mobil Maleo.

Habibie semasa muda – dok.Istimewa via Tribune Makassar

Merek milik anak negeri
Dalam penuturannya saat diwawancarai media dan televisi asal Inggris, Habibie menceritakan, bahwa proyek ini bertujuan agar bangsa Indonesia memiliki merek mobil lokal dan menjadi tumpuan harapan industri otomotif Indonesia di masa depan. Maklum, industri otomotif di Tanah Air didominasi prinsipal asing, terutama Jepang, mulai dari sektor hulu hingga hilir alias pasarnya.

Indonesia harus berdiri di kaki sendiri dalam industri, termasuk di industri otomotif. Meski, dalam prosesnya bisa bekerjasama dengan pabrikan-pabrikan asal luar negeri. Pendek kata, mobil yang dikembangkan merupakan mobil all new design dmeng proses pengerjaanya menganut prinsip diversifikasi komponen.

Artinya, industri Indonesia tak hanya tergantung pada satu industri dan merek tertentu dari luar negeri yang menjadi mitranya. Keseteraan, dengan sistem transfer teknologi kepada para insinyur Indonesia merupakan kesepakatan yang harus dijalani.

Awalnya, Habibie mengutus tim proyek mobil Maleo untuk berbicara dengan Honda namun taka da kesepakatan. Kemudian menghubungi pabrikan asal Inggris, Rover untuk mendapatkan pasokan mesin, namun dengan perjanjian pabrikan itu memberikan teknologinya ke Indonesia.

Tapi pabrikan itu tak menyanggupi. Habibie pun ogah meneruskan pembicaraan itu dengan mereka. Sebagai gantinya, dia mengutus tim berbicara untuk berbicara dengan perusahaan Australia, Orbital. Kali ini kesepakatan terjadi.

Sketsa mobil Maleo – dok.Istimewa

Sebuah mesin berkapasitas 1,2 liter tiga silinder – yang menggabungkan teknologi mesin dua tak dengan teknologi injeksi bahan bakar – disetujui. Soal, opsi adteknologi ini, Habibie berpikir komponen yang digunakan bakal lebih sedikit, sehingga bisa menekan harga Maleo yang saat itu dipatok Rp 25 – 30 juta.

Proyek pun mulai berjalan. Langkah mulai diayunkan. Habibie girang bukan kepalang ketika mengetahui Orbital setuju dan tim proyek Maleo menyatakan segera memulai tahap demi tahap pengerjaan yang sudah ditetapkan. Bahkan, bapak dua anak – Ilham Akbar dan Thareq Kemal Habibie – itu pun terus merancang langkah ke depan untuk Maleo, mobnas yang dicita-citakannya.

Mobil ini diharapkan tak hanya menggunakan bahan bakar bensin untuk mesinnya, melainkan mampu mengonsumsi bahan bakar hidrogen. Hanya sayang, ketika proyek baru berjalan beberapa langkah berbagai tantangan berat harus dihadapi.

Terlebih, badai krisis ekonomi dunia, juga turut menghantam Indonesia, yang berakibat ekonomi nasional porak poranda dan berujung krisis politik. Presiden Soeharto yang telah berkuasa hampr 30 tahun harus lengser, dan digantikan oleh Habibie. Sedangkan proyek Maleo, lalyu sebelum berkembang dan pupus hingga saat ini.

Meski begitu, sejarah negeri ini tetap mencatat, visi Habibie tetap akan abadi. Selamat jalan Pak Habibie. (Ara/Berbagai sumber)

CATEGORIES
TAGS
Share This