Di Tengah Situasi Sulit, Eksekutif Nissan Ini Undur Diri

Di Tengah Situasi Sulit, Eksekutif Nissan Ini Undur Diri
Vice Chief Operating Officer Nissan Motor Company, Jun Suki - dok.Reuters

Yokohama, Motoris – Pabrikan otomoif asal Jepang, Nissan Motor Company, hingga kini masih masih terbelit persoalan kinerja penjualan yang menurun dan tengah memulai haluan kebijakan baru di pasar global. Di saat kebijakan putar haluan kebijakan itu di mulai, salah seorang eksekutifnya, yakni Juni Suki mengundurkan diri.

Seperti dilaporkan Reuters, Senin (23/12/2019), Vice Chief Operating Officer (COO) Nissan Motor itu mulai hengkang dari perusahaan pada Januari 2020 nanti. Suki berindah ke Nidec Corporation, sebuah perusahaan pembuat komponen otomotif yang berbasis di Kyoto, Jepang.

Dia sebelumnya tercatat sebagai salah satu kandidat Chief Executive Officer (CEO) bersama Uchida – yang kini terpilih – yang diunggulkan, di saat Dewan Nissan akan memilih CEO. Namun, pria yang telah 30 tahun meniti karir di pabrikan yang bermarkas di Yokohama (termasuk pernah memimpin Nissan di Cina) itu tak terpilih.

Suki mengaku keputusannya itu bukan lantaran ada masalah keuangan dengan Nissan. Dia menegaskan, hingga kini perusahaan  telah memberinya pendapatan yang lebih dari cukup.

Jun Suki (kiri) saat memimpin Nissan – Dongfeng Motr Company di Cina – dok.Reuters

“Saya suka Nissan dan saya merasa tidak enak karena meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. Tetapi saya sudah berusia 58 tahun, dan ini adalah tawaran yang tidak bisa saya tolak. Mungkin ini adalah kesempatan terakhir saya untuk memimpin sebuah perusahaan (di Nidec Corporation),” ungkap dia.

Meski,  keputusan Suki memantik berbagai spekulasi. Maklum, dia telah gagal menjadi pemimpin tertinggi Nissan. Kedua, saat ini pabrikan itu baru memulai langkah baru ditengah belitan masalah kinerja penjualan.
Hanya, Nissan tak memberikan komentar ketika dimintai konfirmasi oleh Reuters ihwal keputusan Juni Suki ini.

Laba dan penjualan ambrol
Pada pertengahan November lalu, Nissan melaporkan penurunan keuntungan operasional hingga 70% di kuartal kedua tahun fiskal 2019 atau di periode Juli hingga September. Kinerja penjualan yang buruk, nilai tukar yang berefek negatif, serta melonjaknya biaya operasional disebut sebagai biang kerok anjloknya keuntungan itu.

Keuntungan itu disebut ambrol hingga US$ 278 juta atau sekitar Rp 3,92 triliun. “Laba operasional untuk semester pertama tidak sesuai target kami,” kata Corporate Vice President Nissan Stephen Ma, Jumat (15/11/2019).

Pada sisi lain, pabrikan juga menetapkan kebijakan baru yang memutar haluan kebijakan sebelumnya dan diteapkan oleh CEO lawas – dan telah terguling – Carlos Ghosn. Salah satunya, Ghosn yang pada saat memimpin menghidupkan kembali merek Datsun, dikoreksi.

Ilustrasi, ragam varian Datsun yang dipasarkan Datsun Indonesia – dok.Istimewa

Nissan menyatakan akan menghentikan produksi Datsun di wilayah yang penjualannya jeblok. Termasuk, di Indonesia. Selain itu, Nissan bakal memberhentikan 12.500 orang karyawan secara global pada awal tahun 2023 nanti.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) penjualan Datsun pada Januari-Oktober 2019 hanya 5.921 unit. Jumlah ini longsor 39% dibanding kurun waktu yang sama tahun 2018.

Paralel dengan penjualan, produksi Datsun di 10 bulan pertama tahun ini juga menurun, tercatat hanya 3.982 unit. Jumlah ini rontok 64,3% dibanding periode yang sama tahun 2018. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This