Reema Juffali, Wanita Pendobrak Tradisi Balap Arab Saudi

Reema Juffali, Wanita Pendobrak Tradisi Balap Arab Saudi
Reema Juffali di balik roda kemudi - dok.Egyptian Streets

Riyadh, Motoris – Setelah larangan mengemudi mobil bagi wanita di Arab Saudi dicabut pada September tahun 2018 lalu, banyak kalangan kaum Hawa di kerajaan itu yang berlomba-lomba menyalurkan hobi menggeber mobil. Bahkan tak sedikit yang belajar membalap dan berlomba di luar negeri.

Namun, Reema Juffali – perempuan muda Arab Saudi- yang mulai membuka babak baru dalam sejarah wanita di dunia otomotif Arab Saudi. Dia tercatat sebagai wanita pertama Arab Saudi yang membalap di kejuaraan yang digelar di negerinya sendiri.

Reema berhasil mengikuti kejuaraan balap mobil listrik e-Trophy yang digelar di Diriyah – sebuah wilayah di dekat ibu kota Arab Saudi, Riyadh – akhir November 2019 lalu. Sontak, sambutan luar biasa dari publik negeri kaya minyak itu  dia terima.

Maklum, tradisi balapan di Arab Saudi sebelumnya tak mengizinkan wanita berlaga. Lebih-lebih bagi wanita Arab, karena ada larangan untuk mengemudi bagi mereka.

Terlebih, hasilnya memang cukup mengesankan. Waktu terbaik yang dia catatkan adalah, 1 menit 39 detik dalam satu lap yang dia selesaikan. Catatan waktu terbaik itu, hanya terpaut 5 detik lebih lambat dibanding catatan waktu juara balapan itu yang start di pole position.

Reema Juffali saat mendapat briefing dari ofisial tim balapnya – dok.The National

Dalam balapan yang diikuti pembalap pria dan wanita dari berbagai negara ini, Reema menunggangi mobil listrik Jaguar I-Pace. Dia senang bukan kepalang ketika menyelesaikan laga balap itu.

“Larangan wanita mengemudi mobil (di Arab Saudi) dicabut tahun lalu. Tetapi saya tidak pernah berharap untuk bisa ikut balapan secara profesional hanya karena larangan itu dicabut. Tetapi ternyata, faktanya saya bisa melakukannya. Saya bisa ikut balapan. Rasanya ini sungguh luar biasa,” papar gadis kelahiran Jeddah, 18 January 1992, itu kepada AFP.

Sedangkan Arab News melaporkan keberhasilan Reema ini mendapat sambutan yang luar biasa, khususnya dari para wanita di seantero kerajaan Arab Saudi. Bahkan, para petinggi organisasi olah raga negeri itu pun tak ketinggalan memberi pujian.

Reema Juffali saat menggeber mobil dalam laga balap di Arab Saudi – dok.Arab News

“Sungguh luar biasa. Dia tampil begitu keren, meski ini merupakan pertama kalinya seorang wanita Arab membalap di negerinya sendiri. Reema akan membuat ribuan orang mendukungnya sebagai pembalap profesional,” ungkap Pangeran Abdulaziz bin Turki al-Faisal, Ketua Komite Olah Raga Arab Saudi.

Pengaruh keluarga
Laman Arab Gazette menyebut kecintaan Reema terhadap dunia balap tak lepas dari pengaruh keluarganya. Dia sering ikut menonton balapan Formula 1 (F1) –baik di televisi maupun secara langsung – bersama ayah dan saudara laki-lakinya. Hanya, keinginan untuk menyetir mobil secara bebas di negerinya hanya impian, sebelum larangan untuk itu dicabut.

Namun, impian wanita lulusan Northeastern University ini terwujud ketika dia pergi ke Amerika Serikat. Pada tahun 2010 dia nekat mengikuti ujian mendapatkan Surat Izin Mengemudi di Negeri Paman Sam itu, dan dinyatakan lulus pada Oktober 2010.

Reema Juffali saat bercanda bersama anak-anak yang ikut menonton aksinya di laga balap – dok.Northeastern University

Dia pun rajin mengikuti cara balap dan kegiatan menyetir mobil sport selama berada di negara tersebut. Itu dilakukannya mengasah keterampilan membalap. Hingga, ketika larangan mengemudi bagi wanita di Arab Saudi dicabut, dia telah benar-benar siap membalap.

Tercatat, pada April 2019, Reema menjadi pembalap wanita Arab Saudi yang berhasil mengikuti F4 British Championship. Meski tak menjadi juara, namun penampilannya membuat wanita Arab Saudi bangga.  Ucapan selamat dan puja-puji di media sosial mengalir seolah tak henti.

Reema Juffali berpose bersama mobil tunggangannya saat berlaga di F4 British Championship April 2019 lalu- dok.Egyptian Streets

Dukungan kaum hawa di negaranya plus dorongan dari keluarga semakin menjadi pupuk rasa percaya dirinya. Rasa seperti itu semakin membuncah ketika prestasi mampu diukirnya dalam balapan demi balapan yang diikutinya. Karena, itu menjadi bukti bahwa dia bertalenta dan mampu.

Fakta ini semakin meyakinkannya bahwa kaum Hawa ternyata tak kalah dengan para lelaki. Tekadnya untuk menggelorakan keyakinan itu kepada sesamanya kian menggelora. Tekad ini pula yang membawanya berani tampil berlaga di negerinya sendiri, Arab Saudi. Tradisi yang menganggap dunia balap adalah dunia lelaki, pun terevisi. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This