Livia Cevolini, Dijuluki “Elon Musk” Wanita dari Italia

Livia Cevolini, Dijuluki “Elon Musk” Wanita dari Italia

Modena, Motoris – Nama Energica Motor Company, mungkin belum familiar di telinga pembaca Motoris Indonesia. Maklum saja, produsen sepeda motor listrik asal Emilia-Romagna, Modena, Italia ini memang belum dipasarkan ke Tanah Air, tetapi di industri otomotif global, kehadirannya cukup diperhitungkan.

Adalah Livia Cevolini, usianya baru 36 tahun ketika mendirikan Energica. Wanita berambut coklat ini belajar engineering di Universitas Modena awal 2000. Sempat dicibir karena dunia teknik dianggap bukan habitat normal wanita, malah membuat Cevolini termotivasi. Saat kelulusan, dia mengatakan sebagai salah satu mahasiswi dengan nilai tertinggi di kelasnya.

“Industri otomotif, termasuk sepeda motor, memang di dominasi oleh kaum pria. Tetapi, sekarang mulai berubah. Lebih banyak lagi wanita yang mencintai motor dan menunjukan kalau mereka bisa sangat bagus di bisnis ini,” kata Cevolini.

Ketika masih jadi mahasiswi, Cevolini mengingat banyak keraguan yang ditujukan padanya. Salah satunya ketika lagi magang di divisi engineering Tim Formula 1 Ferrari di Italia. Sering sekali, ia menjadi satu-satunya wanita yang hadir di bengkel.

Baca juga: Honda Pamer Empat Robot yang Punya Rasa Empati

“Waktu itu usia saya, 16 tahun, 17 tahun. Saya masih belajar. Saya ngobrol sama seseorang dan mereka akan bertanya, apakah Anda jurnalis atau umbrella girl? Saya kemudian mengatakan, sebenarnya saya engineer,” kata Cevolini mengenang.

Salah satu model andalan, Energica Eva, My Electric Sin. (www.revzilla.com)

Membangun Bisnis

Setelah lulus kuliah, Cevolini bekerja sebagai direktur penjualan dan pemasaran di CRP Group, perusahaan teknik di Italia, yang bergerak di Formula 1, dunia balap, dan industri pesawat.

Namun, Cevolini sebenarnya sudah punya hasrat pada dunia sepeda motor. Akhirnya, pada 2010, dia membangun tim di CRP dan mengembangkan sekaligus merakit sepeda motor listrik. Empat tahun kemudian, dia mendirikan Energica di Modena, dan masuk industri sepeda motor untuk konsumen.

Pada 2016, Cevolini memasukan Energica ke lantai bursa Italia, Borsa, untuk mendapatkan modal tambahan dari publik dan merambah pasar internasional. Perusahaan kemudian membuka diler perdana, penjualan dan servis, di Silicon Valley, California, pada tahun yang sama.  Kapitalisasi Energica di pasar bursa, saat ini tercatat sekitar US$46 juta atau Rp 622,9 miliar.

Saat ini, kata Cevolini, 30 persen karyawan yang bekerja di Energica Italia, adalah wanita. Semua pekerja yang dia miliki, diklaim punya keahlian bagus dan memang punya passion kuat pada sepeda motor. “Mereka (pekerja wanita) punya sudut padang berbeda. Jadi ini sangat bagus, karena harus bekerja sama menciptakan ide terbaik,” ucap Cevolini.

Baca juga: MC Cantik Ini Suka yang Keras-keras

Cevolini juga mengaku bangga pada keberhasilan yang diraih Tesla, sebagai pioneer di industri otomotif, teknologi kendaraan listrik. Ia membandingkan perjalanan dirinya seperti Elon Musk, ketika pertama kali terjun di industri otomotif global.

Startup produsen sepeda motor listrkk dari Italia, Energica Motorcycle Company, punya kapitalisasi modal Rp 622,9 M. (EMC/Forbes)

“Apa yang kami perjuangkan sekarang, adalah seperti yang dia (Elon Musk) lakukan pada 2008. Tesla tentu saja jadi panutan kami, karena mereka mengerjakan motor listrik dan kendaraan perfoma tinggi. Saling berhubungan. Produk berkualitas tinggi dan sekarang berusaha mencari pasar yang lebih besar. Mereka terus berusaha menyediakan servis terbaik buat konsumen. Itu pendekatan yang baik pada 2017, dan bukan cuma pada mobil,” ucap Cevolini, membeberkan strateginya.

Wirausahawan

Energica, dikatakan belum punya rencana masuk ke industri mobil listrik, namun melihat kesempatan di segmen perahu elektrik dan sistem transportasi lain. Selain itu, pengembangan bisnis baterai, rekondisi baterai, sistem energi terbarukan, atau matras pengisian baterai. Dalam 10 tahun ke depan, dia menargetkan perusahaan bisa masuk ke bursa efek internasional lain.

Kepada para wirausawan di luar sana, Cevolini berpesan, salah satu cara untuk bisa tumbuh adalah terus mendorong ke depan dan jangan terlalu pikirkan kompetitor dan mereka yang tidak punya visi yang sama.

“Berjalan lah pada jalan sendiri. Lakukan pekerjaan Anda, belajar banyak supaya lebih siap. Kejar pertumbuhan di depan mata. Jangan pedulikan yang lain,” kata Cevolini. (sna)

Baca artikel aslinya di Forbes.

CATEGORIES
TAGS
Share This