Alasan Tak Boleh Hidupkan Mesin dan Berponsel Saat Isi BBM

Alasan Tak Boleh Hidupkan Mesin dan Berponsel Saat Isi BBM
Ilustrasi, petugas SPBU Pertamina tengah mengisi BBM jenis Pertamax ke tangki mobil pemudik lebaran 2019 - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Meski di semua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) suah tertera tulisan “Harap Mematikan Mesin Kendaraan” dan “Dilarang Memotret atau Menelpon”, namun masih banyak orang yang tak memahami tujuan dan maksud dari larangan tersebut. Bahkan tak sedikit diantara mereka yang mengartikannya hanya sekadar larangan semata tanpa tahu persis apa alasan di balik larangan itu.

Padahal, larangan ini terkait dengan keselamatan maupun keamanan bagi orang-orang yang tengah berada di area SPBU dan tempat itu sendiri.

“Ini terkait dengan bahaya yang ditimbulkan oleh sistem kelistrikan di kendaraan, ketika bertemu dengan bahan bakar yang diisikan ke kendaraan, atau sinyal dari perangkat telepon seluler. Jadi ada kaitan antar unsur-unsur itu,” papar Ketua Laboratorium Konversi Energi Elektrik ITB, Agus Purwadi yang ditemui Motoris di sela acara IEMS 2019, di Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Menurut Agus, pada saat mesin mobil masih aktif atau tak dimatikan, maka aliran listrik statis tidak seimbang, dan berbahaya jika hal itu terjadi di bagian yang dekat dengan mulut tangki bahan bakar. Sebab, pada saat moncong selang dari dispenser menyeprotkan bahan bakar ke tangki, akan terjadi uap BBM, karena bahan bakar yang tersisa di dalam tangki terdesak oleh semprotan tersebut.

Ilustrasi pengisian BBM jenis Pertamax ke sepeda motor di SPBU Pertamina – dok.Istimewa

Lantaran itulah, pertemuan antara ketidakseimbangan aliran listrik statis dengan uap BBM ini, akan berbuah percikan– terutama bensin – yang memiliki tingkat titik bakar rendah atau mudah terbakar.

“Sebab, tanpa mesin aktif pun, sebenarnya aliran listrik statis itu ada. Apalagi kalau mesin diaktfkan, alternator juga bekerja aktif mengisi baterai (aki) dan aliran listrik statis juga bergerak mengalir,” terang Agus.

Sinyal ponsel
Sementara soal larangan menelepon, menurut Agus terkait dengan pertemuan antara sinyal ponsel – yang juga bersifat elektris – dengan uap bahan bakar itu. Meski, sejatinya, kemungkinan untuk terjadi sangat kecil.

Namun, lanjut Agus, secara teori, sinyal dari ponsel yang aktif dapat menghasilkan frekuensi tinggi yang bisa melepaskan energi. Nah, jika kebetulan energi elektrik yang dilepaskan tersebut intensitasnya cukup besar, maka tidak mustahil akan menciptakan percikan api.

“Secara hitung-hitungan berdasar teori, energi yang dihasilkan itu relatif sangat kecil, ya sekitar 1 mikron. Tetapi, sekecil apapun, tentu kita juga harus antisipasi. Apalagi, medium atau penghantar arus yang berakibat munculnya api juga potebsinya besar seperti bahan bakar bensin. Maka, tidak mustahil akan terjadi kebakaran juga tinggi,” jelas pria yang juga Ketua Program Mobil Listrik Nasional itu.

Ilustrasi SPBU Pertamina – dok.Istimewa

Tetapi, yang dia wanti-wanti justeru para pengguna kendaraan saat mengisi BBM jangan menyalakan mesin atau mengaktifkan mesin kendaraannya, ketika proses pengisian BBM tengah berlangsung. Sebab, pada saat mesin distarter aliran listrik yang terjadi juga besar.

Selain itu, busi yang berfungsi sebagai pemantik api untuk proses pembakaran BBM di ruang bakar mesin juga memercikan api. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This