Mandatory B20 Bikin Galau Pengusaha Logistik

Mandatory B20 Bikin Galau Pengusaha Logistik

Jakarta, Motoris –Rencana pemerintah menerapkan kebijakan mandatori biodiesel B20 mulai tahun ini, membuat sejumlah pengusaha logistik terutama angkutan truk galau. Pasalnya, biodiesel B20 dianggap tak cocok untuk mesin berstandar Euro IV yang mulai berlaku Agustus 2018.

Ketua Bidang Distribusi dan Logistik Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman, mengatakan, teknologi mesin yang ada saat ini tidak bisa mengonsumsi Solar B20, karena masalah teknis.

“Kebijakan ini kontradiktif. Kenapa? Karena truk-truk yang menggunakan mesin standar Euro IV itu tidak bisa mengonsumsi bahan bakar B20. Baru bisa kalau standar itu diturunkan atau di-downgrade jadi Euro II. Mesin common-rail yang sudah berstandar tinggi Euro IV, malah diturunkan, Kan aneh ini,” kata Kyatmaja saat dikonfirmasi Motoris, Kamis (19/7/2018).

Menurut CEO Lookman Djaja Group itu, truk akan semakin boros jika menggunakan Solar B20. Alhasil, beban biaya operasional yang harus ditanggung pengusaha pun akan bertambah besar.

“Jadi pengusaha bisa merugi, karena ongkos operasional membengkak, bahkan sopir truk juga kasihan karena jadi korban taipan CPO (Crude Palm Oil) yang minyak sawitnya enggak laku di pasar global, lalu dipaksa jadi biosolar dan harus dibeli sopir truk,” kata Kyatmaja, menegaskan.

Baca juga: Industri Logistik Indonesia Bernilai Rp 4.396 T di 2020

Menghindar

Selama ini, lanjut Kyatmaja, perusahaan angkutan truk menghindari konsumsi biodiesel atau biosolar karena menimbulkan banyak permasalah teknis pada mesin. Kandungan lemak dan kalori yang lebih rendah. Daya ledak BBM ini juga rendah sehingga tenaga truk juga tak optimal. Lebih dari itu menjadikan truk pemakai BBM itu harus menambahkan filter tambahan.

“BBM ini tidak lebih efisien dibanding solar biasa seperti dexlite atau pertadex,” ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyebut pemerintah akan menerapkan kebijakan mandatory biodiesel B20 pada akhir tahun 2018 ini. Dia beralasan langkah itu akan dijalankan karena dari hasil pengujian menunjukan tidak ada masalah pada kendaraan yang menggunakan bahan bakar tersebut.

Ilustrasi angkutan truk – dok.Istimewa

“BPTT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) sudah melakukan pengujian ke kendaraan (bermotor). Hasilnya tidak ada masalah (pada kendaraan),” ungkap Luhut di Jakarta, Kamis (19/7/2018).

Adapun kalangan industri menyatakan akan siap menerima BBM biodiesel B20 atau bahkan B30 jika bahan bakar tersebut kompatibel dengan mesin kendaraan berstandar Euro IV. “Tidak masalah jika memang benar-benar kompatibel,” kata Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara, saat dihubungi Motoris, Kamis (19/7/2018).

Namun yang lebih penting, kata dia, penerapan B20 dan percepatan B30 itu harus sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2017. Dalam ketentuan ini ditegaskan spesifikasi bahan bakar maupun emisi gas buang telah diatur secara tegas.

“Dalam Keputusan Menteri (LHK), (ditegaskan emisi gas buang) harus sesuai dengan ketentuan standar Euro IV,” ucap Kukuh.

Sedangkan Kyatmaja Lookman berani memastikan BBM B20 itu tak sesuai dengan standar Euro IV karena akan menimbulkan emisi karbon yang melampaui ambang batas ketentuan sesuai standar tersebut, dia beralasan, semakin banyak konsumsi BBM – karena B20 menjadikan truk lebih boros – maka tingkat emisi juga semakin tinggi.

Baca juga: Distribusi Bensin Berkualitas Meragukan Jelang Euro IV

Mesin Bensin
Beberapa waktu sebelumnya, Ketua Umum Gaikindo Yohanes Nangoi mengatakan organisasinya akan mendeklarasikan penerapan standar Euro IV pada saat perhelatan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 yang berlangsung 2-12 Agustus nanti.

Menurutnya, Indonesia sudah saatnya menerapkan standar tersebut selain untuk kepentingan di dalam negeri terutama lingkungan yang lebih bersih juga agar kendaraan yang diproduksi di Indonesia bisa diekspor ke pasar yang lebih luas.

Sementara, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (ILMATAP) Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika mengakui pemerintah berniat melaksanakan kebijakan mandatory biodiesel B20 tahun ini. Bahkan di tahun berikutnya ke B30.

Sedangkan untuk penerapan standar Euro IV di kendaraan bermotor, pada tahun ini masih berlaku untuk kendaraan bermesin dengan bahan bakar bensin. “Kalau untuk diesel (termasuk truk) baru tahun 2021,” ucapnya di sela acara diskusi tentang mobil listrik di Jakarta, Rabu (18/7/2018). (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This