Produksi Mobil Naik, UKM Komponen Belum Tertarik Investasi

Produksi Mobil Naik, UKM Komponen Belum Tertarik Investasi

Jakarta, Motoris – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut investasi dari lokal alias Penanaman Modan Dalam Negeri (PMDN) di sektor industri alat angkutan dan transportasi sepanjang Januari-Juni mencapai Rp 926,4 miliar atau naik 27,4% dibanding periode sama tahun lalu. Namun, tren kenaikan investasi tersebut tidak terjadi di industri komponen skala kecil.

“Memang masuk akal kalau investasi di sektor industri komponen itu meningkat. Sebab, tren produksi kendaraan kan naik, sehingga kebutuhan komponen juga ikut meningkat. Tetapi, kenaikan ini sepertinya terjadi di industri yang masuk tier satu (tier 1). Di tier tiga atau industri kecil belum ada tambahan investasi,” papar Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) Indonesia, Wan Fauzi, saat dikonfirmasi, Rabu (22/8/2018).

Menurutnya, selain permintaan yang meningkat seiring dengan naiknya jumlah produk kendaraan, peningkatan investasi industri komponen itu juga dikarenakan oleh tuntutan keadaan.

“Saat ini eranya menuntut aplikasi sistem dan teknologi industri 4.0, sehingga penggunaan teknologi robotic atau otomotisasi  diperlukan. Karena itu, industri juga ramai-ramai mengucurkan investasi baru untuk ini,” kata Fauzi menjelaskan.

Ilustrasi proses produksi mobil Toyota di Indonesia – dok.Motors.mega.au

Jumlah proyek 
Data Gaikindo menyebut, sepanjang Januari-Juni lalu jumlah produksi mobil di Tanah Air mencapai 624.408 unit. Jumlah tersebut meningkat 4,4% dibanding periode yang sama tahun 2017.

Sedangkan data BKPM menunjukan seiring dengan meningkatnya nilai investasi di enam bulan pertama itu, jumlah proyek di sektor industri komponen juga meningkat. Jumlahnya mencapai 117 ptoyek atau naik 60% dibanding semester pertama tahun lalu.

Ilustrasi, perbaikan salah satu sparepart di mobil – dok.Mattsharplaw.com

Namun, jumlah proyek dan investasi PMDN ini berkebalikan dengan investasi asing. Tercatat, di kurun waktu itu, nilai investasi asing atau Penanaman Modal Asing (PMA) US$343,6 juta atau anjlok hingga 59,6% dibanding kurun waktu yang sama tahun lalu. Jumlah proyeknya pun hanya 603 proyek atau menurun 4,7%.

Wan Fauzi menyebut, industri tier 1 harus melakukan otomoatisasi pekerjaan atau menggunakan teknologi robotik karena tuntutan sistem produksi di era industri 4.0. Pada sisi lain, upah tenaga kerja di daerah-daerah pusat industri saat ini juga semakin tinggi.

“Kalau industri kecil menengah atau UKM seperti kami ini belum ada niatan menambah investasi. Ya karena permintaan belum ada kenaikan signifikan. Kalau nanti ada permintaan yang signifikan, ya bisa saja menambah investasi,” imbuh Fauzi.(Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS