Sudah Wajib, Pengusaha Bus dan Truk Hati-hati Pakai B20

Sudah Wajib, Pengusaha Bus dan Truk Hati-hati Pakai B20
Ilustrasi pengisian BBM Biodiesel 20 ke tangki kendaraan - dok.Trucktrend.com

Jakarta, Motoris – Program perluasan kewajiban penggunaan Bahan Bakar Minyak Biodiesel 20 alias minyak solar bercampur 20% minyak nabati sawit sudah berlaku sejak 1 September. Kalangan pelaku usaha mengaku mengikutinya meski dengan sikap preventif yakni melakukan pembersihan filter bahan bakar di unit armada mereka – baik bus maupun truk – lebih cepat dari rekomendasi pabrikan.

“Artinya, di operasional, kami menyikapinya dengan cara preventif atau berjaga-jaga dari kemungkinan dampak negatif yaitu dengan membersihkan filter lebih cepat, atau tidak sesuai dengan anjuran perawatan dari APM (agen pemegang merek kendaraan),” papar Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan, saat dihubungi Motoris, Selasa (4/9/2018).

Pernyataan serupa diungkapkan Ketua Bidang Distribusi dan Logistik Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Kyatmaja Lookman. Menurutnya, banyak pengusaha angkutan truk yang sudah mewanti-wanti supir armadanya agar lebih sering membersihkan filter bahan bakar.

“Kalau saya pribadi (di perusahaan angkutan Lookman Djaja Group), juga menggunakan water separator, Ini untuk antisipasi kemungkinan buruk,” kata dia kepada Motoris, Selasa (4/9/2018).

Kurnia Lesani Adnan – dok.Istimewa

Baik Kyatmaja maupun Lesani menyebut meski Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyatakan B20 memiliki kualitas yang tidak berdampak negatif ke mesin, namun kalangan pelaku usaha tetap bersikap hat-hati.

“Kemarin (Senin, 3 September 2018), kami rapat dengan Dirut BPDPKS dan Ketua Aprobi dielaskan bahwa B20 itu sejatinya sudah ada sejak 2016. Sehingga kalau saat ini di-declair itu hanya sebatas pernyataan saja. Tetapi kami tetap, minta ada monitoring soal penggunaan BBM ini berserta kemungkinan dampak yang terjadi. Dan disepakti akan ada monitoring,” kata Lesani.

Terlebih, lanjutnya, Pertamina yang merupakan perusahaan yang melakukan blending atau pencampur BBM B20 itu – hingga berita ini diturunkan – belum bisa dikonfirmasi pengusaha angkutan untuk melakukan monitoring.

“Karena pengalaman sebelumnya, saat menggunakan biodiesel (B10 saja), masalah yang sering kami temui, itu menggumpalnya atau adanya jel di filter BBM. Selain itu terjadi penumpukan kelatu di ruang bakar, sehingga menyebabkan umur part di sistem pembakaran lebih pendek,” terang Lesani.

APM Mendukung
Sementara kalangan APM mengaku mendukung kebijakan wajib B20 ini. Presiden Direktur Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Ernando Demily, yang dihubungi Motoris belum lama ini menyebut pihaknya telah melakukan beberapa penyesuaianteknis terutama di saluran bahan bakar.

“Sehingga kendaraan Isuzu siap mengikuti kebijakan ini. Artinya kendaraan Isuzu yang baru tak masalah dengan BBM B20 ini. Tetapi yang model lama memang perlu membersihkan filter BBM leih cepat dari jadwal sebelumnya,” kata dia.

Ilustrasi, salah satu model truk Isuzu – dok.Motoris

Namun, lanjut Ernando, kebijakan pemerintah untuk mewajibkan penggunaan biodiesel termasuk B20 ini diharapkan dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Sehingga, membuat pabrikan pembuat kendaraan maupun masyarakat pengguna kendaraan merasa nyaman.

“Kami bersama Gaikindo sudah melakukan audiensi dengan pengusaha di semua sektor, baik tambang, perkebunan, konstruksi, perdagangan yang menggunakan kendaraan diesel. Mereka minta agar kebijakan seperti ini tidak berubah-ubah. Konsisten. Bagi produsen kendaraan, roadmap penggunaan BBM Biodiesel ini penting untuk diketahui karena menyangkut riset dan pengembangan produk. Artinya, menyangkut investasi,” ungkapnya. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This