Giliran SDA dan Teknologi Jadi Isu Utama di Mobil Listrik

Giliran SDA dan Teknologi Jadi Isu Utama di Mobil Listrik
Ilustrasi mobil listrik - dok.RusAutoNews.com

Jakarta, Motoris – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jumat (28/12/2018) kemarin menggelar rapat koordinasi dengan Kementerian Perindustrian untuk membahas kelanjutan program mobil listrik. Topik utama rakor kali ini adalah potensi teknologi dan potensi Sumber Daya Alam (SDA) untuk pengembangan industri mobil listrik.

Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto, di rapat itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memaparkan kemampuan teknologi yang dimilikinya.

“Aplikasi teknologi inilah yang kemudian dibahas apakah nantinya sesuai dengan medan atau kondisi yang ada di Indonesia, serta kebutuhan,” ujar Harjanto seusai rapat di kantor Kemenko Kemaritiman, di Jakarta.

Pada saat yang sama, juga diparakan potensi sumber daya alam (SDA) oleh Kemenko Kemaritiman dan Kemenperin. Kandungan dan ketesediaan sumber mineral seperti lithium dan cobalt di Indonesia, dipetakan.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono melakukan tes drive Toyota Prus Plug-in hybrid – dok.Motoris

Begitu pun dengan komponen-komponen di dalam negeri untuk mobil listrik juga dibahas. Pengembangan pengembangan komponen ini diarahkan agar sesuai dengan potensi SDA tersebut.

Selain itu, untuk pengembangan mobil listrik berikut komonen utamanya akan diberikan insentif baik fiskal maupun non fiskal. Misalnya, untuk pengembangan komponen utama – seperti baterai – akan diberi tax holiday dan lain-lain.

Harga jual
Namun, sebesar apa kapasitas pengembangan mobil listrik maupun komponennya, Harjanto mengaku tidak bisa memprediksi. Pasalnya, itu semua tergantung ke pasar atau selera konsumen.

Selain edukasi tentang keunggulan dan keuntungan menggunakan mobil listrik terus digalakan, harga jual dari mobil listrik harus dipastikan terjangkau. Di sinilah keterkaitan antara teknologi dengan SDA itu dilihat dengan cermat.

“Makanya, kita harapkan pengembangan komponen-komponen utama di dalam negeri. Apalagi, kalau kita gunakan sumber daya alam di lokal untuk bahan komponennya, harga akan lebih terjangkau,” ucapnya.

Toyota Prius Plug-in hybrid yang digunakan penelitian oleh enam perguruan tinggi – dok.Motoris

Dan yang pasti, lanjut Harjanto, ika penyerapan mobil listrik meningkat maka konsumsi bahan bakar dan anggaran yang dibutuhkan untuk impor bahan bakar juga berkurang. Begitu pun dengan efek kepada lingkungan, juga akan menurun.

“Intinya, kami semua sepakat pengembangan kendaraan listrik untuk mengurangi penggunaan BBM (Bahan Bakar Minyak) dengan drastis. Sekaligus, nantinya mengurangi tingkat emisi (gas buang kendaraan) sampai 25%,” kata Harjanto. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This