Bisnis SPBU Kian Menjanjikan, Oktan 90 Jadi Rebutan

Bisnis SPBU Kian Menjanjikan, Oktan 90 Jadi Rebutan
Ilustrasi, petugas SPBU Pertamina - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia – baik roda empat atau lebih maupun roda dua – menjadikan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) juga terus bertambah. Sementara, dengan jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang sebanyak 7.415 unit, dirasa masih kurang ideal dibanding penduduk.

“Baik melihat pertumbuhan kendaraan maupun jumlah penduduk, kebutuhan SPBU itu masih sangat besar. Dari jumlah penduduk misalnya, jika saat ini jumlah penduduk 261 juta jiwa dan jumlah SPBU sebanyak 7.415 unit, maka rasio 1 SPBU melayani 36.900 orang,” tutur anggota Komite Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas, Muhammad Ibnu Fajar, saat dihubungi, di Jakarta, Jumat (18/1/2019).

Bahkan, lanjut Ibnu, jika dilihat dari luasan area yang dilayani dengan luas wilayah daratan 1,9 juta kilometer (km) persegi, maka sebuah SPBU harus melayani area seluas 250.000 km persegi. Memang, di pulau Jawa dengan luas daratan 200.000 km persegi dan jumlah SPBU sebanyak 3.700 unit, maka luas cakupan wiayah layanan sebuah SPBU mencapai 60 km persegi.

“Tetapi di Jawa ini pun sebenarnya juga masih belum ideal, karena populasi kendaraan terbanyak juga di wilayah ini,” kata Ibnu.

Ilustrasi pengisian BBM ke mobil di SPBU Pertamina – dok.Istimewa

Pernyataan ini diamini kolega Motoris yang juga pengurus Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) . Menurutnya, dengan fakta-fakta yang ada itu bisnis SPBU memang menggiurkan

“Apalagi konsumsi BBM terus meningkat. Setipa tahunnya, kalau dirata-rata mencapai 78 miliar liter. Jadi tidak aneh kalau banyak yang ingin masuk, tidak terkecuali investor asing. Mereka berebut untuk masuk ke wiayah Jawa,” kata dia saat ditemui di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (18/1/2019).

Pasar gemuk oktan 90
Hingga akhir 2018 lalu, Pertamina masih menguasai jaringan SPBU di Tanah Air dengan jumlah sekitar 7.000 unit. Sementara SPBU milik BP yang dikelola melalui PT Aneka Petroindo Raya, telah memiliki SPBU sekitar 150 unit.

Perusahaan asal Belanda, Shell. Memiliki sekitar 90 SPBU yang dikelola oleh PT Shell Indonesia dan tersebar di Jabodetabek, Bandung, Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Namun, di Januari ini menambah 4 SPBU yakni di Surabaya dan Sidoarjo Jawa Timur.
Pemain lainnya, PT Total Oil Indonesia sebanyak 18 SPBU, PT Vivo Energy Indonesia sebanyak 3 unit SPBU, dan PT Aneka Petroindo Raya (APR) sebanyak 3 unit SPBU.

Selain berebut wilayah – terutama di area Jawa dan Sumatera – para pemain juga memiliki keinginan memperbesar porsi pengusaan pasar di ceruk yang sama yakni BBM Oktan 90.

“Karena seiring dengan upaya untuk mengurangi subsidi, BBM jenis premium kan secara perlahan dikurangi sampai nanti kalau bisa habis. Sebagai gantinya yang oktan 90. Artinya, jenis BBM inilah yang bakal menjadi mass product. Pasar paling gemuk,” ucap sang kolega.

Ilustrasi, dispenser BBM di SPBU – dok.denik.cz

BBM oktan 90 pertama kali diluncurkan Pertamina pada tahun 2016 dengan nama Pertalite. Perlahan nanmun pasti, konsumsi BBM jenis ini terus naik, terlebih pemerintah juga terus berupaya mendorongnya demi mengurangi beban anggaran subsidi.

Awal tahun 2018, Total Oil ikut memasarkan BBM jenis ini dengan nama Performace 90. Langkah Total itu kemudian diikuti Shell yang meluncurkan Shell Reguler juga di tahun 2018. Bahkan, SPBU baru yang dibangun investor lain pun juga masuk ke ceruk pasar yang sama.

Direktur eksekutif Reforminer Institute Pri Agung Rahmanto menyebut, dengan semakin banyaknya pemain SPBU di Indonesia justeru akan mengutungkan konsumen. Pasalnya, para pemain dituntut berkompetisi dalam pelayanan.

“Ini tentu bagus untuk konsumen karena mendapatkan banyak pilihan. Bahkan bisa menantang Pertamina agar semakin kompetitif,” kata dia. (Ara)

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This