Pengusaha Bus: Sistem One Way Saat Mudik Kontraproduktif

Pengusaha Bus: Sistem One Way Saat Mudik Kontraproduktif
Ilustrasi bus Hino - dok.HMSI

Jakarta, Motoris – Kalangan pelaku usaha angkutan bus menilai kebijakan pemerintah yang akan menerapkan sistem arus satu arah (one way traffic) di jalur tol Trans Jawa selama musim mudik lebaran justeru akan kontraproduktif dengan pengangkutan pemudik. Selain itu, akan menjadikan perusahaan bus kehilangan potensi pengangkutan penumpang hingga 15%.

“Dengan diterapkan sistem itu (arus satu arah di Tol Trans Jawa dari arah Jakarta ke Jawa Tengah yakni di KM 262 Berebes), maka perjalanan armada bus ke arah barat atau kembali dari Jawa ke Jakarta juga terhambat. Ini bisa menyebabkan bus terlambat tiba kembali di Jakarta. Akibatya, akan terjadi penumpukan penumpang di terminal,” papar Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan, kepada Motoris, Jumat (10/5/2019).

Pernyataan senada diungkapkan Direktur Utama Perusahaan Otobus (PO) Gunung Harta, I Gede Yoyok Santoso. Dia mengatakan, kebijakan pemerintah tersebut justeru kontraproduktif dengan upaya untuk mengangkut sebanyak-banyaknya pemudik secara cepat dan lancar menuju tempat tujuan.

Ilustrasi angkutan umum bus di Terminal Poris, Kota Tangerang yang melayani trayek antar kota anar rovinsi di Jawa – dok.Motoris

“Apalagi tahun ini, seperti yang diperkirakan oleh Kementerian Perhubungan, pemudik juga meningkat jumlahnya dibanding tahun lalu. Terutama, pemudik yang akan menggunakan angkutan bus,” ujar Yoyok saat dihubungi, Sabtu (11/5/2019).

Baik Yoyok maupun Lesani mmperkirakan, jika kebijakan itu benar-benar diterapkan maka ada potensi kehilangan 15% kesempatan mengangkut penumpang. Artinya, karena keterlambatan kedatangan, maka bus-bus tersebut kehilangan kesempatan mengangkut penumpang hingga 15%.

“Kami menilai kebijakan ini sebenarnya cukup baik.Tetapi menurut kami sebaiknya waktu pelaksanaanya tidak ditetapkan, cukup berdasar situasi atau situasiaonal saja. Kalau ditetapkan waktunya, justeru masyarakat akan berbondong-bondong menggunakan kendaraan pribadi. Kalau penumpang lama menunggu di terminal, menumpuk, bisa resah,” kata Lesani.

Akhirnya, kata Lesani maupun Yoyok, tujuan pemerintah untuk mengajak masyarakat menggunakan angkutan umum demi mencegah emborosan bahan bakar dan mengurangi kemacetan juga gagal. Artinya, kebijakan ini justeru kontraproduktif.

Lebih 50% jalur darat
Sementara, seperti diungkapkan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan, pada lebaran 2019 ini pemudik dari Jabodetabek yang menggunakan bus sebanyak 4.459.690 orang. Jumlah ini setara dengan 30% lebih dari total pemudik.

Kemudian yang menggunakan mobil pribadi sebanyak 4.300.346 orang atau 28,9%. Artinya, jumlah pemudik yang menggunakan jalur darat itu setara dengan 58,9% pemudik lebaran dari wilayah Jabodetabek.

Ilustrasi bus Hino – dok.HMSI

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi mengatakan pemerintah telah memutuskan untuk memberlakukan sistem one way traffic H-6 lebaran pada periode mudik 31 Mei – 2 Juni 2019. Sistem ini mulai berlaku di gerbang tol Cikarang Utama hingga KM 262 atau Brebes Barat.

“Kami sepakat menggunakan sistem one way. Mengapa sistem one way? Karena ada kecenderungan masyarakat mudik dengan rombongan (iring-iringan, sehingga arus padat). Kami tidak terapkan kebijakan nomor ganjil genap, karena bisa berpotensi menyebabkan penumpukan kendaraan di pintu tol,” jelas Budi dalam keterangan resmi. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This