Pemerintah: Tidak Ada Rencana Pembatasan Umur Mobil Pribadi

Pemerintah: Tidak Ada Rencana Pembatasan Umur Mobil Pribadi
Ilustrasi kemacetan lalu-lintas di jalan tol - dok.JLT Canada

Jakarta, Motoris – Pemerintah melalui  Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi meastikan, hingga saat ini belum ada rencana apapun  untuk membatasi usia kendaraan (mobil) pribadi di jalanan. Selama ini wacana yang muncul adalah pembatasan usia kendaraan angkutan umum.

“Yang perlu ditegaskan di sini adalah, pemerintah belum memiliki rencana atau bahkan mewacanakan untuk membatasi usia kendaraan atau mobil pribadi. Wacana yang muncul adalah pembatasan usia kendaraan yang digunakan untuk angkutan umum terutama bus (reguler maupun pariwisata) dan truk. Itu bertujuan untuk memastikan aspek keselamatan dan untuk lingkungan,” papar Budi saat ditemui di Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Memang, lanjut mantan Widyaiswara Korlantas Polri itu, pembatasan usia kendaraan pribadi telah dilakukan oleh sejumlah negara, terutama negara-negara maju. Tetapi, Indonesia masih belum menuju ke arah seperti itu, dengan berbagai pertimbangan tersendiri.

“Soal industrinya, soal kemampuan daya masyarakatnya, aspek sosial, menjadi pertimbangan tersendiri,” kata dia.

Ilustrasi, armada Bus pariwisata milik PO Scorpion Holidays- dok.Istimewa

Sedangkan untuk pengelolaan kemacetan lalu-lintas terkait dengan kendaraan pribadi, pemerintah hanya memberi masukan kepada pemerintah daerah soal manajemen lalu-lintas. Misalnya, dengan penerapan jam operasional tertentu atau pemberlakuan sistem plat nomor ganjil-genap.

Kemenhub, kata Budi, juga siap membantu pemerintah daerah untuk pengelolaan sistem lalu-lintas di daerah.

Sementara itu, salah seorang pengurus Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia  (Aptrindo) Banten, Syaiful Bahri, mengatakan pembatasan usia truk  harus dilihat secara komprehensif. Pasalnya, umumnya para pengusaha truk membeli secara kredit dengan tenor yang panjang.

“Sementara, kalau kita lihat di lapangan tingkat utilitas (penggunaan scara produktif)  truk di Indonesia itu rata-rata 40-50%. Mengapa seperti itu? Karena banyak jalanan macet. Dengan tingkat utilitas seperti itu, maka balik modal (break event poin) usaha truk juga lama. Apalagi, suku bunga mahal,” paparnya saat dihubungi, Jumat (5/7/2019). (Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS