Permintaan Ban Tahun Ini Diklaim Naik 4,5%

Permintaan Ban Tahun Ini Diklaim Naik 4,5%
Ilustrasi, ban mobil produksi PT Brdgestone Indonesia - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Seiring dengan membaiknya infrastruktur jalan di Jawa maupun Sumatera – dengan semakin tersambungnya jalan tol Trans Jawa maupun jalan tol Trans Sumatera – produksi ban Indonesia tahun ini diperkirakan meningkat 4,5%. Bertambahnya populasi mobil (mobil lama ditambah mobil baru) serta meningkatnya mobilitas masyarakat dengan menggunakan kendaraan bermotor, memicu permintaan ban di dalam negeri.

“Kita melihatnya secara komprehensif, yakni penjualan mobil baru tahun ini dan pertambahan populasi mobil. Sehingga, kalau dilihat secara keseluruhan, akan terlihat potensi pasar ban. Artinya, penyerapan ban baik sebagai OEM (Original Equipment Manufacturer atau bawaan pabrik) maupun replacement (pasar penggantian ban lama dengan ban baru),” kata Direktur Kimia Hilir dan Farmasi Kementerian Perindustrian, Taufik Bawazier, saat dihubungi, Jumat (12/7/2019).

Selain itu, lanjut dia, dengan membaiknya perekonomian nasional, daya beli masyarakat juga terjaga. Sehingga, kebutuhan ban di masyarakat juga masih tumbuh.

Tahun lalu, lanjut Taufik, produksi ban dari industri di dalam negeri mencapai 185,9 juta ban luar dan 130 juta ban dalam. Sementara, dari kapasitas produksi terpasang ban luar 211,49 juta dan 225,13 juta ban dalam yang dimiliki 16 perusahaan pembuat ban di Tanah Air, telah terpakai sekitar 87,9%.

asi proses produksi ban di PT Multistrada Arah Sarana- dok.Istimewa

Hanya, untuk ekspor, Indonesia masih belum moncer. Sampai tahun 2018 lalu, ban-ban asal Indonesia hanya mampu mencuil 2,28% pangsa pasar ekspor, dengan nilai sekitar US$ 1,61 miliar.

“Indonesia, masih berada di peringkat ke-14 dalam daftar eksportir ban dunia. Harapannya, dalam 10 tahun ke depan, kita sudah bisa menggesert Thailand yang tahun lalu berada di peringkat kelima dengan nilai ekspor sekitar US$ 4,5 miliar,” kata Taufik.

Belum maksimal
Sementara, anggota Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Zulfiansyah mengatakan, naiknya konsumsi ban oleh masyarakat dan ekspor tersebut tidak serta merta berpengaruh ke kenaikan penyerapan karet alam.

“Karena banyak industri yang juga menggunakan karet sintetis sebagai campuran atau blending untuk produk ban. Nah, kita berharap produksi naik dengan ekspor yang naik, sehingga penyerapan karet alam dari petani juga naik,” paparnya saat dihubungi, Sabtu (13/7/2019).

Ilustrasi, karet alam – dok.Pertanianku.com

Dia menyebut, jika kapasitas produksi terpasang dari industri ban yang ada saat ini, penyerapan karet alam baru sebanyak 470 – 560 ribu ton per tahun. Padahal, produksi karet alam di Indonesia saat ini mencapai 3,64 juta ton saban tahunnya.

“Produksi karet alam kita saat ini nomor dua di dunia, setelah Thailand yang punya produksi 4,89 juta ton per tahun,” imbuh Zulfi. (Fer/Yus/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This