Mobil Listrik Datang, 30% Produsen Komponen Hilang

Mobil Listrik Datang, 30% Produsen Komponen Hilang
Ilustrasi bagian-bagian mobil listrik-dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Kehadiran mobil listrik di Indonesia bakal memiliki konsekwensi terhadap keberadaan industri pembuat komponen di dalam negeri. Diperkirakan sepertiga atau 30% dari peerusahaan produsen di industri tersebut bakal hilang atau lenyap.

Kalkulasi seperti itu diungkapkan Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM), Hadi Surjadipradja, yang ditemui di sela pameran Komponen Otomotif di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (13/8/2019) kemarin. Konskwensi seperti itu,  terjadi karena produk-produk yang dibuat oleh industri banyak yang tidak terpakai lagi di mobil listrik.

“Artinya, akan terjadi seleksi alam. Setidaknya, kalau melihat dari produk yang mereka hasilkan selama ini, ya sekitar sepertiga (30%) dari industri komponen ini akan hilang,” papar dia.

Meski begitu, masih banyak juga yang akan tetap bertahan dikarenakan produk yang mereka hasilkan masih bisa digunakan pada mobil bersumber tenaga dari setrum tersebut. Beberapa komponen itu antara lain, bodi, pelek, ban, sasis, jok, dashboard, hingga berbagai bodi kit dan pernak-pernik aksesoris lainnya.

Ilustrasi, seorang pengunjung GIIAS 2019 melihat detil sebuah mobil listrik di booth DFSK – dok.Motoris

Menurut Hadi, kebiasaan pengguna mobil masih akan tetap sama, kendati sumber tenaga dari tunggangan mereka telah berubah dari mesin konvensional ke motor listrik. Kebiasaan tersebut misalnya melakukan penggantian bagian-bagian dari mobil.

Dengan kata lain, tak hanya di segmen Original Equipment Manufacture (OEM) saja produk komponen itu bisa tersebut, tetapi juga di pasar ritel alias aftermarket. “Ganti pelek, modifikasi bodi, jok, atau lainnya seperti kebiasaan sekarang. Itu kita perkirakan masih akan terjadi. Karena itulah, kami yakin industri penghasil komponen seperti itu tetap bertahan,” kata dia.

Adaptasi
Hanya, satu hal yang perlu diingat kalangan pelaku industri adalah, kesiapan untuk beradaptasi. Terutama dalam desain produk dan bobotnya.

Sebab, lanjut Hadi, para produsen mobil listrik tentu akan merancang produknya dengan bobot yang lebih ringan dibanding mobil konvensional. Hal itu didasari pertimbangan menghemat sumber daya yang digunakan.

“Mobil listrik bobotnya akan lenih ringan, karena itu komponen-komponen pun harus disesuaikan. Tidak hanya desain, tetapi juga bobot atau materailnya. Bahkan jumlah yang diserap pun juga semakin sedikit, karena mobil listrik dibuat lebih ringan (dibanding mobil konvensional),” imbuh Hadi.

Sebelumnya, di tempat yang sama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto juga mewanti-wanti soal kesiapan industri komponen dalam menghadapi era baru itu. Terlebih, kata dia, industri otomotif merupakan salah satu industri andalan Indonesia untuk tujuan ekspor.

Ilustrasi mobil listrik buatan Tesla – dok.The Straits Times

“Karena itu, kita berharap industri komponen juga terus beradaptasi, maju dan kokoh sejalan dengan kemajuan industri otomotif,” ungkap dia.

Menurut Airlangga, industri komponen otomotif di Indonesia ditopang oleh 1.500 perusahaan. Jumlah tersebut terdiri dari industri kategori tier 1, tier 2, maupun tier 3. “Industri ini tersebar di wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur,” kata dia. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This