Tiga Produsen Baterai Listrik Terbesar di Dunia Masuk Indonesia

Tiga Produsen Baterai Listrik Terbesar di Dunia Masuk Indonesia
Ilustrasi, kantor pusat CATL di Ningedi, Fujian, Cina - dok.Automotivenews

Jakarta, Motoris – Tiga pabrikan baterai mobil terbesar di dunia – yakni Contemporary Amperex Technology Limited (CATL) dari Cina, Panasonic dari Jepang, dan LG dari Korea, Selatan – akan membangun pabrik di Indonesia. Ketersediaan bahan baku baterai lithium hingga 80% di Indonesia menjadi alasan mereka.

Pernyataan tersebut diungkapkan Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Panjaitan, di Jakarta, Selasa (3/9/2019). Dia menyebut ketiga pabrikan sudah menyatakan komiten investasi.

Mereka, lanjut Luhut, tertarik mendirikan pabrik di Indonesia karena bahan baku pembuatan baterai – yakni kobalt – melimpah. Selain itu, produksi kobalt di Tanah Air terbilang lebih murah dibanding negara lain.

“Kenapa (mau berinvestasi di Indonesia)? Karena kobalt-nya ada di Indonesia dan murah. Jadi, ngapain pergi ke tempat lain? Kan sederhana berpikirnya,” kata dia.

Luhut mengulangi pernyataan itu di Jakarta, Rabu (4/9/2019) di sela pembukaan Indonesia Electric Motor Show (IEMS). Mantan Menko Polhukam ini menyebut, terkait dengan rencana perusahaan raksasa pembuat baterai mobil listrik itu, pemerintah juga menetapkan kebijakan untuk melarang ekspor biji nikel mulai 1 Januari 2020 nanti.

Ilustrasi, Panasonic – dok.Reuters

Selama ini 98% produksi nikel diekspor ke Cina, untuk digunakan sebagai material pembuatan baterai ion lithium. Di Negeri Tirai Bambu itu, pemerintah memang mewajibkan semua pabrikan pembuat mobil listrik di negaranya, menggunakan baterai motor listrik yang dibuat oleh industri lokal.

Sehingga, sebut Luhut, dengan pelarangan ekspor biji nikel oleh pemerintah Indonesia, maka pabrikan pembuat baterai mobil listrik juga berbondong-bondong ke Indonesia untuk membuka pabrik. “Karena kita ini punya nikel. Mulai stainless steel, karton steel, kartoda, sampai lithium baterai,” papar Luhut.

Indonesia basis produksi
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika, Harjanto, yang ditemui Motoris usai seminar di arena IEMS, Balai Kartini, Jakarta, Rabu (4/9/2019) tak menampik informasi yang diungkapkan Luhut.

“Iya, seperti yang disampaikan Pak Menko (Luhut), memang seperti itu. Tetapi, maaf untuk berapa nilainya (investasi) dari CATL, Panasonic, LG, saya tidak hafal angkanya,” kata dia.

Namun, yang pasti, lanjut Harjanto, dengan hadirnya industri baterai di Indonesia, maka industri mobil listrik di Indonesia akan berkembang. Lebih dari itu, Indonesia bukan hanya sekadar menjadi pasar dari produk mobil listrik dari luar negeri, tetapi menjadi basis produksi.

Ilustrasi baterai motor listrik di mobil – dok.Stanford University

“Ini inti dan semangat dari Perpres (Peraturan Presiden) 55 Tahun 2019 (tentang pengembangan kendaraan bermotor listrik) yang ditandatangani Bapak Presiden (Joko Widodo). Industri otomotif kita akan berkembang,” ucap dia.

Sementara, seperti dilaporkan Reuters, belum lama ini, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), pengembang kawasan industri MM2100, Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, mendapat pemesanan lahan dari perusahaan baterai asal Cina (CATL). Pesanan tersebut diduga terkait dengan program mobil listrik .

Sedangkan laporan riset Maybank, yang dirilis Kamis (11/7/2019), meyebut informasi tersebut mengindikasikan aliran investasi proyek EV mulai mengalir. Sebelumnya, perusahaan baja nirkarat terbesar di dunia asal Cina, Tsingshan, membangun pabrik bahan baku baterai kendaraan listrik bersama sejumlah sekondannya di Morowali, Sulawesi Tengah.

Nilai investasi pabrik itu, seperti dilaporkan Reuters, telah membengkak menjadi US$ 1,5 miliar. Sebelumnya investasi diperkirakan hanya US$ 700 juta.

Ilustrasi, baterai kendaraan listrik dari Honda didesain portable dan bisa digunakan untuk keperluan beragam – dok.Honda

Sekadar catatan, hasil riset Center for Automotive Research menunjukan, hingga akhir tahun 2018 lalu, CTAL tercatat sebagai pabrikan pembuat baterai lithium terbesar sejagat. Pabrikan asal Nigdei, Fujian, Cina ini menguasai 23% dari total produksi dunia.

Panasonic Jepang, berada di belakangnya dengan produksi 22% dari total produksi dunia. BYD – pabrikan asal Cina yang tercatat sebagai produsen mobil sekaligus pembuat baterai – menguasai 13% produksi dunia.

LG Chem – pabrikan asal Korea Selatan – memproduksi 10%. Sejawatnya dari Korea – Samsung SDI – menguasai 5,5%. Adapun pabrikan dari Eropa hanya 1%. (Fer/Ara)

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This