Penjualan Ban di Pasar Lokal dan Ekspor Susut, Ini Biangnya

Penjualan Ban di Pasar Lokal dan Ekspor Susut, Ini Biangnya
Ilustrasi ban mobil - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Kinerja industri ban di Indonesia sepanjang tahun ini diperkirakan masih belum memenuhi harapan, karena lesunya penjualan di dalam negeri dan susutnya penjualan di pasar ekspor. Lemahnya daya beli konsumen di Tanah Air serta dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina menjadi penyebab kelesuan penjualan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI), Aziz Pane, menyebut asosiasi yang dipimpinnya memperkirakan, ekspor tahun ini turun 5-10% dibanding tahun lalu. Sedangkan penjualan di dalam negeri tertekan karena konsumen semakin irit berbelanja ban untuk kendaraan mereka.

“Kalau bicara ekspor tentu kita melihat kondisi pasar yakni negara tujuan ekspor. Dan kita tahu, dampak perang dagang (Amerika Serikat dengan Cina) itu kemana-mana, terutama ke negara-negara yang selama ini menjadi tujuan ekspor,” tutur Azis saat dihubungi, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ilustrasi ban multipurpose sepeda motor- dok.Zigwheels

Azis tak asal bicara. Data yang dikompilasi Badan Pusat Statisk menunjukan, di rentang waktu Januari – Juli lalu, nilai ekspor karet dan produk barang dari karet (termasuk ban) menciut 6,8%. Jika di kurun waktu yang sama tahun lalu masih senilai US$ 3,84 miliar, di tujuh bulan pertama tahun ini hanya US$ 3,58 miliar.

“Sedangkan kalau bicara penyerapan di dalam negeri, tentu kita harus melihat penjualan mobil dan jumlah produksinya. Tahun ini di semester pertama kan penjualan turun 13% (kendaraan roda empat), meskipun roda dua (motor) masih ada kenaikan (sekitar 7,4%),” ujar Azis.

Susutnya kinerja penjualan bukan hanya dikarenakan penjualan kendaraan roda empat (atau lebih) yang turun, tetapi juga di pasar ritel atau pasar penggantian ban oleh pemilik kendaraan. Penyebabnya, diduga daya beli masyarakat yang lemah.

Ilustrasi ban – dok.Motoris

“Sekarang ini, masyarakat juga berhemat. Jika sesuai dengan anjuran semestinya diganti setelah periode tertentu, sekarang belum diganti. Kemudian, banyak yang membeli tidak satu set tetapi cukup seperlunya saja yang dirasa memang benar-benar sudah tidak layak,” ungkap Azis.

Harga tidak kompetitif
Dugaan penyebab penurunan penjualan karena daya beli itu cukup beralasan. Purchasing Managers’ Index (PMI) – yang merupakan indikator ekonomi hasil penelitian berbagai lembaga survei – Indonesia. Tercatat sepanjang Juli, PMI berada di level 49,6, dan Agustus lalu ambles 60 basis poin menjadi 49.0.

Turunnya kinerja ekspor juga dikarenakan harga ban buatan Indonesia yang tidak kompetitif dari sisi harga. Maklum, 60% bahan bakau ban buatan Indonesia masih diimpor. Salah satunya, carbon black yang pasokannya dari industri dalam negeri belum sampai 40%.

“Jadi, meskipun secara kualitas kita tidak kalah, tetapi di harga kita sulit bersaing. Apalagi, negara pesaing seperti Cina, India, dan lainnya punya industri hulu pemasok bahan baku,” ucap Azis.

Ilustrasi, karet alam bahan baku ban yang dihasilkan oleh perkebunan di Indonesia – dok.Pertanianku.com

Data yang dilansir Dewan Karet Indonesia menunjukan, dari 18 industri ban yang ada di Indonesia, total kapasitas produksi ban terpasang tahun lalu mencapai 238,6 juta unit ban, baik untuk kendaraan roda empat atau lebih dan kendaraan roda dua. Namun, kapasitas yang terpakai baru 84%. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This