DP Kredit Otomotif Mau Dipangkas, Hybrid Cs Lebih Kecil

DP Kredit Otomotif Mau Dipangkas, Hybrid Cs Lebih Kecil
Ilustrasi, Toyota C-HR hybrid, salah satu mobil hybrid yang telah dipasarkan PT Toyota Astra Motor- dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Bank Indonesia (BI) menggulirkan informasi tentang rencana penurunan uang muka (DP) kredit kendaraan bermotor mulai dari sepeda motor hingga truk, untuk memacu penyaluran kredit dan investasi. Bahkan, untuk kendaraan yang berteknologi ramah lingkungan (hybrid hingga listrik murni) besaran DP bakal lebih kecil lagi.

Seperti diketahui, saat ini besaran DP untuk kredit sepeda motor masih sebesar 20-25%, dan BI berniat menurunkannya menjadi 15-20%. Sedangkan untuk kendaraan roda empat atau lebih, besaran uang muka kredit bakal dipangkas menjadi 15-25%, dari yang ada sekarang 25-30%.

Sedangkan, untuk kendaraan yang mengedepankan aspek lingkungan atau ramah lingkungan, DP-nya lebih ringan. Untuk kendaraan roda dua hanya 10-20%, sedangkan untuk kendaraan roda empat atau lebih 10-20%.

Namun, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, kebijakan yang rencananya akan diberlakukan mulai 2 Desember nanti itu akan mempertimbangkan aspek tingkat kredit macet (Non Performing Loan/NPL). Kebijkan diberlakukan jika tingkat NPL di bawah 5%.

Ilustrasi, All New Ertiga Hybrid, model pertama Suzuki Indonesia dalam melangkah ke era mobil listrik di Tanah Air – dok.PT SIS

“Ini semua bisa diberlakukan asal rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan di bawah 5%. Kami masih mengedepankan asas prudential (prinsip kehati-hatian),” ujar dia usai Rapat Dewan Gubernur BI, di Jakarta, Kamis (19/8/2019).

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira saat dihubungi, Kamis (19/9/2019) menyebut suku bunga kredit dan uang muka memang bisa menjadi perangsang bagi konsumen untuk melakukan pembelian. Terlebih di sektor otomotif sekitar 70% pembelian produk dilakukan secara kredit.

Namun, lanjut dia, semua itu kembali lagi ke daya beli masyarakat. Bagaimana kemampuan mengangsur, itu tergantung budget (anggaran) rumah tangga mereka. Dan anggaran ini juga tergantung kepada pereknomian, kalau perekonomian tidak tumbuh, artinya daya beli juga tidak kuat.

Ilustrasi, skuter listrik Gesits saat dipamerkan di hajatan IES 2019 – dok.Motoris

“Terutama di masyarakat yang menjadi konsumen kendaraan menengah ke bawah, daya beli sangat penting.  Beda dengan  konsumen menengah ke atas, daya beli lebih kuat dan bahkan mungkin tidak kredit. Tetapi, mereka kan juga memperhitungkan kondisi ekonomi, kalkulasi seperti itu sering mereka lakukan,” kata dia. (Fan/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This