Indonesia Kekurangan Supir Truk, Ini Penyebabnya

Indonesia Kekurangan Supir Truk, Ini Penyebabnya
Ilustrasi, truk angkutan barang yang beroperasi di wilayah Sumatera - dok.Youtube

Jakarta, Motoris – Indonesia saat ini mengalami defisit atau kekurangan supir truk, karena tak ketertarikan masyarakat untuk menjalani profesi supir kendaraan jenis itu dari tahun ke tahun terus berkurang. Ada sejumlah faktor yang menjadikan kondisi seperti ini terjadi.

Seperti diungkapkan Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman, menjadi supir truk bukanlah sebuah pilihan lagi bagi masyarakat saat ini. Maklum, tingkat pendapatan yang dikantongi supir truk, saat ini memang tak menjanjikan.

“Kenapa tidak menjanjikan? Ada banyak faktor penyebabnya yang itu terkiat dengan beberapa kondisi yang muncul. Tetapi yang paling terlihat nyata adalah tingkat utilitas atau produktifitas truk yakni tingkat operasional truk di Indonesia yang tidak maksimal. Rata-rata dalam satu tahun truk di Indonesia hanya digunakan untuk operasi sejauh 50.000 kilometer (km). Ini setara dengan 40%-an dari tingkat operasi yang semestinya, kalau kita bicara investasi dan pengembanlian modal investasi,” papar Kyatmaja saat dihubungi Motoris, Sabtu (5/10/2019) pagi.

Utilitas truk di Indonesia ini, jauh tertinggal dibanding negara lain seperti Thailand yang mencapai 120.000 km, Amerika Serikat 250.000 km, dan Eropa 200.000 km per tahun.Penyebab rendahnya tingkat pemakaian itu merupakan akibat dari tingkat kemacetan yang terjadi di jalan.

Ilustrasi, supir truk Volvo FMX di area pertambangan – dok.ATN

Selain itu, pasokan unit baru saban tahun terus terjadi. Alhasil, truk unit lama semakin tak terpakai secara maksimal. “Jadi, kita ini sebenarnya juga sudah over supply unit baru,” ucap Kyatmaja.

Kepala Subdirektorat Angkutan Multimoda dan Antarmoda Ditjen Hubdat Kemenhub, Ahmad Wahyudi, mengamini pernyataan Kyatmaja. Padahal, kata dia, tingkat pendapatan supir truk sampai saat ini – kebanyakan – tergantung banyaknya perjalanan yang mereka jalani.

“Sebab, pendapatan tergantung berapa rit yang mereka jalankan. Kalau semakin sedikit ya pendapatannya juga sedikit. Sehingga, banyak orang-orang muda yang tidak tertarik menjadi supir truk. Karena tidak menjanjikan dari segi pendapatan. Apalagi tingkat risiko (keselamatan) juga tingggi,” papar Wahyudi saat dihubungi Motoris, belum lama ini.

Dia menyebut, potensi risiko semakin tinggi karena sebagian besar supir truk yang ada tidak pernah mendapatkan pendidikan atau pelatihan. Apalagi disertifikasi.

“Orang menjadi supir truk selama ini hanya alamiah saja, mereka umumnya mengawali dari kenek atau bahkan dari kuli yang sering ikut truk. Sehingga, secara teknis dan pengetahuan terjadi secara getok tular  (dari mulut ke mulut dan contoh langsung saat proses bekerja berlangsung) dari supir yang mereka ikuti atau secara alamiah saja,” ungkap Wahyudi.

Truk yang terlibat dalam kecelakaan di Tol Purbaleunyi, Cipularang, KM 91 arah ke Jakarta, Senin 2 September 2019 – dok.JasaMarga

Pelatihan dari Hino Indonesia
Melihat fakta seperti ini, PT Hino Motor Sales (HMSI) secara rutin menggelar pelatihan pengemudi atau supir truk. Hajatan tersebut bukan sekadar tanggung jawab Hino sebagai agen pemegang merek truk tersehadap pelanggannya semata, namun juga tanggung jawabnya untuk menggerakan perekonomian. Alhasil, penyerapan truk juga terus terjadi.

“Kegiatan ini, kami lakukan sesesuai dengan filosofi dari Hino, total support kepada costumer. Bukan hanya produknya saja, tetapi juga pengemudinya. Lalu dari visi misi kita yakni memindahkan produk dan manusia dari satu tempat ke tampat yang lain dengan aman, dan kita juga bertanggung jawab terhadap lingkungan,” tutur Direktur Penjualan dan Promosi HMSI, Santiko Wardoyo, dalam keterangan resmi, Jumat (4/10/2019).

Selain memberi edukasi kepada para supir melalui pelatihan terkait aspek teknis kendaraan dan teknik mengemudi yang benar, aman, sekaligus nyaman, Hino juga menggelar kompetisi. Dengan demikian, kemampuan para supir tersebut semakin terasah.

“Kita refresh terus para pengemudi itu agar mengingat kembali masalah pertaruran, keselamatan, maupun cara mengemudi dengan baik,” tandas Santiko.

Ilustrasi, uji kemampuan mengemudi, salah satu bagian dari rangkaian Hino National Safety Driving Competition 2019 – dok.Motoris

Terlebih, pertumbuhan populasi truk terus bertambah dari tahun ke tahun. Pertambahan unit ini, kata Santiko, harus diimbangi dengan pertambahan jumlah pengemudi yang berkualitas.

Mengutip data Badan Pusat Statistik, Santiko mengatakan saat ini populasi truk di Indonesia mencapai 7 juta unit. Sedangkan Kyatmaja Lookman mengatakan, jumlah itu tidak sebanding dengan jumlah supir.

“Perbandaingannya yang unit-unit baru dengan susir saja masih timpang. Data menunjukan, setiap ada tambahan 100 unit truk baru, jumlah supir yang terekrut hanya 80 orang. Itu pun karena banyak yang menurunkan standar persyaratan. Sedangkan supir-supir banyak yang berhenti dengan berbagai alasan, termasuk pindah profesi atau jadi supir angkutan lain seperti angkot, pengenudi ojk online, dan lain-lain,” kata dia. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This