Ojol Cuma Sumbang 30% ke Pendapatan, Ini Lumbung Fulus Gojek

Ojol Cuma Sumbang 30% ke Pendapatan, Ini Lumbung Fulus Gojek
Ilustrasi, pengemudi ojek online Gojek - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Jika selama ini Gojek dikenal sebagai perusahaan yang melayani jasa transportasi (taksi maupun ojek) berbasis aplikasi alias online, ternyata tak benar sepenuhnya jika disebut jasa itu menjadi tulang punggung pendapatannya. Jasa ojek online (Ojol) ternyata hanya memberi kontribusi sebesar 30%.

Seperti dilaporkan laman Deal Street Asia, Sabtu (5/10/2019), President Gojek Andre Sulistyo menyebut, perusahaannya memiliki strategi yang menyeluruh dalam menjani bisnis, dengan menyediakan beragam layanan yang dibutuhkan masyarakat. Sudut pandang Gojek, kata dia, adalah menghilangkan hambatan yang ditemui masyarakat sehari-hari, dan ride-hailing alias ojek online (Ojol) menjadi produk utama.

Ojol sengaja dibuat sebagai ciri khas dan produk layanan utama dari perusahaan, karena jasa ini sangat dibutuhkan masyarakat di tengah sistem transportasi umum yang belum bagus. Dengan kata lain. jasa layanan ojek itu menjadi penarik perhatian sekaligus pemantik minat masyarakat agar menggunakan platform Gojek.

Faktanya, jasa transportasi Gojek langsung populer dan disukai masyarakat. Meski, secara pembukuan pendapatan, Ojol bisa saja hanya memberi sumbangan pendapatan ke perusahaan yang tak terlalu besar. Tapi, seperti diakui Andre Sulistiyo, itu tak masalah.

Ilustrasi, GrabFood – dok.Prebiu.com

Sebab, setelah banyak orang yang masuk ke platform, perusahaan akan menawarkan berbagai produk lainnya yang sumbangannya ke pendapatan jauh lebih besar. Alhasil, kecilnya sumbangan Ojol bisa dikompensasi atau “ditambal” dari pendapatan binis tersebut.

“Bisa saja bisnis ride hailing itu tumbuh negatif. Itu tidak masalah, karena ride-hailing merupakan cara termurah bagi kami untuk menarik pelanggan baru ke platform. Kemudian kami memberikan kepada mereka (masyarakat) berbagai layanan dengan nilai tambah (lebih) seperti jasa antar makanan, pembayaran digital dan pinjaman, serta monetisasi dari itu,” papar Andre.

Kini, Gojek terus mengembangkan bisnis antar makanan melalui GoFood.Potensi monetisasi layanan ini sangat besar. Selain jumlah pedagangnya, varian makanan yang ikut serta dalam platform Gojek sangat banyak . Pedagang tertarik karena margin keuntungan yang didapat bisa mencapai 50%.

“Dengan menggunakan layanan kami ini, mereka bisa mengurangi biaya sewa.Seperti sewa tempat di mal dengan besaran yang signfikan. Dan bagi kami, nilai bisnis pengiriman makanan dua kali ini memberi nilai berlipat dibanding bisnis transportasi (Ojol),” jelas dia.

Ilustrasi, pengemudi ojek online Gojek tengah menunggu order penumpang di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta – dok.Motoris

Adapun layanan pembayaran digital diberikan melalui GoPay. Bisnis ini diyakini memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang. Sebab, sampai saat ini masyarakat Indonesia masih banyak menggunakan uang tunai dalam pembayaran. Padahal, pemerintah mengarahkan nantinya semua transaksi menggunakan cara pembayaran non tunai (cashless).

Gojek juga menyediakan beragam produk pembayaran non tunai lainnya. Mulai dari dompet digital hingga pembayaran secara online dan offline untuk debit dan kredit. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This