Industri Komponen Ketampol Kondisi APM dan Konsumen

Industri Komponen Ketampol Kondisi APM dan Konsumen
Ilustrasi komponen otomotif - dok.Brand Essence Market

Jakarta, Motoris – Akibat penjualan mobil baru yang ambles, penjualan yang dibukukan industri komponen lokal Indonesia hingga akhir kuartal ketiga juga menyusut. Terlebih, di pasar aftermarket alias ritel yang tak bisa diandalkan, karena perilaku konsumen baru akan mengganti komponen jika sudah benar-benar mencapai batas kondisi layak.

Seperti diungkapkan Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor Indonesia (GIAMM), Hadi Surjadipradja, industri komponen dalam negeri hingga kini masih mengandalkan pabrikan pembuat mobil sebagai penyerap produk. Artinya, komponen hasil produksi mereka ditujukan sebagai Original Equipment Manufacturer (OEM) alias komponen bawaan pabrik.

Pasalnya, pasar segmen ini lebih pasti penyerapannya, ketimbang pasar rotel atau aftermarket. “Karena, kalau pasar replacement (penggantian komponen oleh masyarakat untuk mobil mereka atau pasar ritel) itu sirkulasinya lebih lambat. Permintaan kecil, karena perilaku masyarakat kita (pemilik mobil), yang baru mengganti komponen di mobilnya kalau benar-benar sudah rusak atau benar-benar sudah enggak bisa dipakai lagi,” papar dia saat dihubungi, di Jakarta, Selasa (29/10/2019).

Ilustrasi, penggantian komponen di pasar ritel oleh pemilik mobil – dok.Motoris

Terlebih, di saat kondisi perekonomian seperti sekarang yang membuat daya beli masyarakat menurun. Sementara, di saat yang sama, penjualan mobil di pasar nasional juga ambles.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan, di rentang Januari – September lalu penjualan kendaraan bermotor roda empat atau lebih, hanya sebanyak 753.594 unit. Jumlah ini mengkerut 12,04% dibanding kurun waktu sama tahun lalu yang sebanyak 856.755 unit.

“Karena penjualan yang dicapai Agen Pemegang Merek (APM) turun, pabriknya juga mengerem produksi. Nah, kalau produksinya turun lha buat apa menyerap komponen, kan gitu. Jadi, ya kita juga terkena dampaknya, ikut turun juga,” ungkap Hadi.

Lagi-lagi data Gaikindo berbicara. Sepanjang Januari – Agustus lalu produksi kendaraan penumpang merosot 2,28% dibanding periode sama tahun 2018. Jika tahun lalu masih sebanyak 693.769 unit, tahun ini hanya 677.914 unit.

Ilustrasi produksi mobil di pabrik Suzuki Motors – dok.Nikkei Asian Review

Kondisi serupa juga terjadi di produksi kendaraan komersial yang ambles 18,79%. Selama delapan bulan pertama tahun ini, produksinya hanya 153.794 unit.

Keadaan yang dihadapi APM dan perilaku konsumen itulah yang kini menampol industri komponen. Hanya, Hadi tak menyebut penurunan di pasar penggatian atau pasar ritel dengan pasti. Dia hanya memberi ancar-ancar 8-10%. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This