Tol Layang Cikampek Segera Beroperasi, Pelajari Batas Kecepatannya

Tol Layang Cikampek Segera Beroperasi, Pelajari Batas Kecepatannya
Ilustrasi, proyek jalan tol layang Jakarta - Cikampek - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Angka kecelakaan di jalan tol cenderung meningkat akibat pengguna jalan tol yang cenderung melaju dengan kecepatan tinggi. Salah satu cara untuk meredam kebiasaan ngebut di jalan tol dilakukan dengan menetapkan batas kecepatan guna menekan angka kecelakaan pengguna jalan tol.

Nah, tidak lama lagi Tol Jakarta-Cikampek Layang (elevated) sepanjang 38 kilometer (km) akan dioperasikan. Jalan tol ini terbentang dari ruas Cikunir hingga Karawang Barat (km 9+500 sampai dengan km 47+500).

Djoko Setijowarno, Pengamat Transportasi dari Unika Soegijapranata dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, menyebutkan selama pengerjaan konstruksi jalan tol Jakarta-Cikampek Layang ini cukup memacetkan lalu lintas di ruas jalan bagian bawahnya. Sebab pelaksanaannya bersamaan dengan pembangunan konstruksi LRT Jabodebek lintas Bekasi Timur-Cawang dan Kereta Cepat lintas Jakarta-Bandung.

Saat ini, Tol Jakarta-Cikampek Layang sedang menjalani uji beban sebelum dioperasikan. Tol sepanjang itu membentang dari simpang susun (interchange) Cikunir sampai simpang susun (interchange) Karawang Barat. Proyek konstruksi ini dikerjakan selama 32 bulan, mulai Maret 2017 hingga November 2019.

Baca juga: Rencana Tilang Elektronik di Jalan Tol dan Busway Meleset

Perhitungan struktur sudah memperhitungkan beban terhadap semua jenis kendaraan. Ada tiga pembebanan struktur yang dihitung. Pertama, aksi dan beban tetap berupa beban sendiri, beban mati tambahan, susut rangkak, pengaruh prategang, pengaruh tetap pelaksanaan dan tekanan tanah.

Kedua, beban lalu lintas berupa beban lajur, beban truk, gaya rem, gaya sentrifugal, gaya tumbukan pada pilar jembatan dan penurunan. Dan ketiga, aksi lingkungan berupa temperatur, beban angin dan gaya gempa.

Perhitungan itu, menurut Djoko, merujuk ke Standar Nasional Indonesia (SNI), antara lain SNI Standar Pembebanan untuk Jembatan, Perancangan Jembatan terhadap Beban Gempa Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan, Perencanaan Struktur Baja untuk Jembatan, Tata Cara Perancangan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung, Geometri Jalan Bebas Hambatan Untuk Jalan Tol, dan standar intenasional lainya semisal Building Code requirements for Structural Concrete.

Tol layang Jakarta – Cikampek saat dalam proses pengerjaan – dok.finrollnews

“Tol Jakarta-Cikampek Layang merupakan yang pertama di Indonesia dalam satu ruas ada layanan tol (elevated dan at grade),” ucap Djoko di Jakarta, Senin (11/11/2019). Selama ini sudah ada layanan tol layang, seperti Tol Cawang – Tanjung Priok (15 kilometer), Tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu 21, kilometer) dan Tol Tanjung Priok – Pluit (21 kilometer).

Baca juga: Tarif Tol Jakarta – Merak akan Berubah, Gol I dan II Naik

Khusus Golongan I
Rencananya pengguna tol Jakarta-Cikampek Layang hanya untuk kendaraan golongan I, maka kecepatan kendaraan menjadi krusial.

“Kendaraan kecil cenderung ngebut, apalagi dengan tidak ada truk. Maka perlu ketegasan untuk menindak pengguna dengan kecepatan di atas ketentuan. Rambu-rambu lalu lintas sering tidak diindahkan pengguna jalan tol. Oleh karena itu, perlu alat pengukur kecepatan disertai tindakan tegas untuk mengantisipasi kecelakaan di ruas tol layang,” tutur Djoko.

Menurutnya, regulasi yang telah dibuat Kementerian Perhubungan memalui PM Perhubungan Nomor 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan dapat diterapkan.

Di pasal 3 aturan ini, misalnya, menyebutkan setiap jalan memiliki batas kecepatan tertinggi yang ditetapkan secara nasional. Batas kecepatan paling tinggi meliputi batas kecepatan jalan bebas hambatan, jalan antar kota, jalan pada kawasan perkotaan, jalan pada kawasan permukiman. Untuk jalan bebas hambatan juga ditetapkan batas kecepatan paling rendah.

Tol elevated Jakarta – Cikampk – dok.Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat

“Batas kecepatan paling rendah ditetapkan 60 kilometer per jam dalam kondisi arus bebas dan paling tinggi 100 kilometer per jam untuk jalan bebas hambatan,” sebutnya.

Untuk jalan antar kota, kecepatan paling tinggi 80 kilometer per jam, jalan kawasan perkotaan 50 kilometer per jam dan jalan kawasan permukiman maskimum 30 kilometer per jam. Batas kecepatan tersebut harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas.

Baca juga: Jangan Salah Kaprah Soal Ganjil Genap di Cikampek

Beban Maksimal
Di samping itu, dengan memisahkan dengan kendaraan barang yang masih banyak pelanggaran kendaraan ukuran lebih atau over dimension dan muatan lebih atau overload sangat berisiko terjadi kecelakaan.

Jenis kecelakaan yang kerap terjadi di jalan tol adalah tabrak belakang truk barang dan ban pecah. Oleh sebab itu perlunya menerapkan batas kecepatan dan menilang mobil barang ukuran lebih dan muatan lebih. Ruas Tol Mojokerto-Surabaya sudah menerapkan batas kecepatan dan hasilnya dapat menekan angka kecelakaan.

Untuk menangkal itu, telah diterbitkan Surat Edaran Menteri Perhubungan Nomor SE 21 Tahun 2019 tentang Pengawasan terhadap Mobil Barang atas Pelanggaran Muatan Lebih (Over Load) dan/atau Pelanggaran Ukuran Lebih (Over Dimension).

Ilusrasi, gerbang Tol Cikampek – dok.Istimewa

“Di era digital, sistem penegakan hukum sudah harus lebih modern pula. Penerapan tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) di ruas tol ini dapat selenggarakan,” Djoko menyarankan.

Ia menegaskan infrastruktur transportasi semakin nyaman bukan menjadikan ajang meningkatnya kecelakaan. Penegakan hukum tetap dilakukan untuk menekan angka kecelakaan. (Gen)

CATEGORIES
TAGS
Share This