DP dan Cicilan Dinilai Lebih Berdampak Ketimbang BBN

DP dan Cicilan Dinilai Lebih Berdampak Ketimbang BBN
Ilustrasi, Mobil DFSK - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Sejumlah kalangan memberikan tanggapan terhadap keputusan pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2019 mengerek tarif Bea Balik Nama (BBN) kendaraan bermotor dari 10% menjadi 12,5%. Ada yang pro, biasa-biasa saja, hingga kontra.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto misalnya, menilai kenaikan tarif BBN memang memiliki dampak, yakni terhadap besaran harga yang harus dibayar konsumen. Tetapi, dampak ini tidak akan signifikan terhadap naik atau turunnya penjualan mobil.

“Memang, ada pengaruhnya, harga jadi naik. Tetapi itu tidak berpengaruh signifikan (ke penjualan). Karena tarif BBN ini kan langsung masuk ke harga yang harus dibayar konsumen kan, dan itu yang menetapkan peerintah bukan APM (Agen Pemegang Merek). Yang berpengaruh itu sebenarnya DP (uang muka) sama angsuran (cicilan), jadi besarnya DP sama bunga cicilan itu yang banyak berdampak, karena 70% pekbelian mobil itu dilakukan secara kredit,” papar Jongkie saat dihubungi di Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Ilustrasi, Toyota C-HR – dok,Motoris

Pernyataan Jongkie senada dengan pendapat ekonom Institute for Development on Economic (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara. Menurut dia, jika melihat cara pembelian yang terbanyak dengan cara kredit, maka faktor tingkat suku bunga lebih berpengaruh.

“Kalau bea, pajak, itu kan sudah include (termasuk) di harga. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana dengan besaran uang muka dan bagaimana mengangsurnya (cicilan). Karena besaran angsuran terkait dengan kemampuan finansial bulanan, menyanfkut daya beli. Dan dalam kondisi ekonomi seperti sekarang daya beli menjadi faktor utama. Termasuk, dalam pembelian secara kredit, sehingga tingkat suku bunga sangat besar pengaruhnya,” papar dia.

Oleh karena itu, Bhima berharap lembaga keuangan baik bank maupun lembaga pembiayaan (leasing) segera mengeksekusi kebijakan penurunan tingkat suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Begitu pula dengan relaksasi Loan to Value (besaran uang muka kredit) yang juga ditetapkan oleh bank sentral tersebut.

Ilustrasi, Daihatsu Xenia di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Tidak tepat
Sebelumnya, dalam pernyataannya yang dikirim melalui pesan elektronik, Selasa (12/11/2019) Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto menyatakan ketidaksepakatannya dengan pengerekan tarif BBN tersebut. “Menurut pendapat saya, kenaikan (tarif) BBN sebesar 2,5% (dari 10% menjadi 12,5%) tidak tepat dilakukan di tengah kelesuan pasar otomotif belakangan ini,” kata dia.

DKI Jakarta, kata Soerjo, selama ini menjadi kontributor penjualan terbesar yakni sekitar 20% dari total penjualan kendaraan roda empat atau lebih secara nasional. Terlebih, kata dia, jika ingin berbicara soal prospek pasar otomotif tahun 2020 nanti.

“Pelemahan ekonomi akibat global resesi sudah berdampak di beberapa negara, dan berakibat pertumbuhan ekonomi di angka minus. Beruntung Indonesia masih bisa bertahan di angka 5%-an,” ujar Soerjo.

Ilustrasi calon pelanggan Toyota tengah bertransaksi – dok.Istimewa

Karena itu, dia berharap ada langkah kolaboratif antara agen pemegang erek dengan pemerintah dalam menghadapi kondisi itu. “Sebagai contoh, perpaduan antara strategi APM dalam memperkenalkan produk-produk baru mereka, dan kebijakan pemerintah untuk menurunkan suku bunga kredit. Sekali lagi, bukan menaikan pajak yang akan membebankan calon konsumen,” terang Soerjo.

Sampai saat ini, Toyota masih belum mengerek harga kendaraan berdasar peraturan anyar tersebut, karena peraturan iu baru berlaku efektif 11 Desember nanti. “Sebagai perusahaan Wapu (wajib pungut) kami akan menjalankan aturan ini sebaik-baiknya,” imbuh dia.

Sementara, Jongkie menyebut hingga September lalu, penjualan mobil di Tanah Air turun sekitar 12% dibanding periode sama tahun lalu. Gaikindo pun telah merevisi target penjualan dari 1,15 juta menjadi 1,1 juta unit.

Ilustrasi, Suzuki Jimny generasi terbaru – dok.Motoris

“Penurunan penjualan sudah terjadi sejak awal tahun, jadi revisi ini bukan karenaada kenaikan tarif BBN,” tandas dia. (Fan/Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This